Berita Hoax Berbasis Hadis Dha’if dan Maudhu

Berita Hoax Berbasis Hadis Dha’if dan Maudhu

- pada Suara Kita
466
0

Hadis dha’if  merupakan hadis yang lemah atau hadis yang tidak kuat. Menurut Imam Nawawi, hadis dha’if merupakan hadis yang tidak memenuhi kualifikasi hadis shahih atau hadis hasan (An-Nawawi, 2001: 3). Karakteristik hadis ini ialah sanadnya terputus, perawinya tidak adil, perawi tidak dlabit, adanya syadz dan adanya kecacatan. Selain itu, ada hadis-hadis yang dalam istilah ilmu hadis dinamakan hadis maudhu. Hadis maudhu tersebut tersebar di berbagai kitab, buku dan media tidak lain adalah sekumpulan kalimat yang dibuat-buat oleh individu atau kelompok dan disand  arkan kepada Nabi Muhammad dan (bisa jadi) digunakan untuk melegitimasi kepentingannya.

Kehadiran hadis dha’if dan maudhu di kalangan umat Islam menjadi sebuah problem yang signifikan bagi keseluruhan umat Islam, khususnya bagi ahli hadis. Kehadiran hadis dha’if ini tidak akan berpengaruh apapun jika umat Islam mengetahuinya secara detail dari segi sanad dan matannya. Namun yang menjadi kekhawatiran adalah jika hadis ini tersebar di media-media lalu digunakan dan dipelintir oleh orang-orang tertentu untuk melegitimasikan kepentingan dalam bidang apapun. Terlebih lagi jika hadis-hadis dha’if ini dimanfaatkan oleh kelompok radikalisme untuk menyebarkan informasi-informasi hoax dan membumikan doktrin-doktrinnya dalam diri individu atau kelompok umat Islam. Informasi yang disebar berdasarkan hadis dha’if  dan maudhu bisa dikatakan informasi tersebut adalah informasi hoax.

Ketika hadis-hadis dha’if dan maudhu ini digunakan oleh para pelaku radikalisme, maka tantangan umat Islam semakin bertambah. Satu sisi, umat Islam harus meredam derasnya hadis-hadis dha’if dan maudu, di sisi lain harus meredam gerakan yang menyebarkan informasi hoax dengan memanfaatkan hadis-hadis tersebut.

Meningkatkan Penelitian

Sekalipun informasi hoax yang disandarkan kepada hadis dha’if dan maudhu tersebar di berbagai media, hal tersebut tidak serta-merta menjatuhkan umat Islam, tetapi justru meningkatkan kekritisan umat Islam dalam menyaring berbagai informasi yang ada, terutama informasi yang berkaitan dengan agama Islam.

Kekritisan ini ditunjukkan dengan meningkatnya penelitian-penelitian yang dilakukan oleh umat Islam. Bagi hadis-hadis dha’if yang tersebar di berbagai kitab dan media, kini sudah dapat diidentifikasi dalam kitab-kitab para ulama terdahulu. Hasil penelitian mengenai hadis dha’if ini telah dituangkan dalam beberapa kitab besar yang bisa dipelajari oleh umat Islam, di antara kitab-kitab tersebut ialah Al-Manar Al-Munif fi Al-Shahih wa Al-Dha’if karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Masnu fi Al-Hadis Maudhu karya Ali Al-Qari, Takhru Ahadis Asy-Syifa’ karya Syekh As-Suyuthi, Takhriju Ahadis Al-Kasysyaf dan masih ada beberapa kitab-kitab lainnya yang memuat hadis dha’if.

Di era modern ini, penelitian mengenai hadis perlu ditingkatkan lagi dengan tetap bersandar kepada kitab-kitab karya ulama-ulama terdahulu. Karena tidak menutup kemungkinan hadis dha’if maupun hadis maudhu terus bermunculan di kalangan umat Islam.

Berangkat dari penelitian hadis, umat Islam sebaiknya melanjutkan penelitiannya di media-media yang disinyalir memanfaatkan hadis-hadis dha’if maupun hadis maudhu untuk mengarahkan umat Islam kepada kebencian, tindak kekerasan dan perpecahan antar umat Islam sendiri maupun antar umat beragama di Indonesia.

Dengan meningkatkan penelitian ini, artinya umat Islam meningkatkan kewaspadaan dan berupaya untuk menyelamatkan umat Islam lainnya dari informasi-informasi hoax, serta pengaruh-pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh gerakan-gerakan radikalisme di Indonesia. Gerakan ini memakai segala cara yang seolah-olah memang benar-benar ajaran agama, sehingga begitu mudah untuk menghipnotis orang-orang agar rela menerima doktrin-doktrinnya dan menjadi bagian dari agenda besarnya.

Komentar Dengan Facebook