LiterasiI Virtual Anak Menangkal Radikalisme Klithih

LiterasiI Virtual Anak Menangkal Radikalisme Klithih

- pada Suara Kita
303
0

Kasus kekerasan atau radikalisme yang melibatkan dan menimbulkan korban remaja kembali terjadi di Yogyakarta. Kali ini korban adalah Ilham pelajar SMP yang ditusuk hingga tewas pada Minggu (12/3) pukul 01.00 WIB. Kejadian ini diyakini terjadi sebagai akibat negatif budaya klithih yang menjadi penyakit kronis remaja dan pemuda di Yogyakarta.

Semua pihak mesti serius menanggulangi aksi klithih dari berbagai pendekatan. Salah satunya adalah pendekatan literasi berbasis virtual. Literasi dibutuhkan remaja atau usia jelang remaja terkait psikologi anak muda dan efek negatif budaya klithih. Sedangkan basis virtual digunakan karena sesuai dengan tuntutan zaman dan setiap hari dijalankan mayoritas remaja.

Tren Virtual            

Berdasarkan Survei APJII (2016) bahwa penetrasi internet pada pengguna berusia 10-14 tahun mencapai 100 persen. Hasil riset Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) Indonesia bersama Yahoo menunjukkan, kalangan remaja mendominasi pengguna internet di Indonesia yaitu 64 persen.

Usia remaja merupakan usia mencari jati diri dan menunjukkan eksistensi sosial. Santrock (2003) mengungkapkan bahwa pada transisi sosial remaja mengalami perubahan dalam hubungan individu dengan manusia lain yaitu dalam emosi, dalam kepribadian, dan dalam peran dari konteks sosial dalam perkembangan.

Banyak remaja memanfaatkan akun sosial media mereka untuk mengungkapkan perasaan mereka. Beberapa penelitian mengungkapkan rata-rata remaja di Asia maupun Amerika Serikat mengakses medsos lebih dari lima jam sehari mencakup untuk keperluan menonton sampai melakukan interaksi di dunia maya seperti mengakses medsos atau melakukan chatting (Santrock, 2010).

Dunia virtual jika dimanfaatkan secara bijak akan produktif dan bermanfaat dalam segala hal. Kuncinya adalah konten yang dijalankan sifatnya positif. Sebaliknya jika kontennya sudah negatif akan meracuni generasi muda. Konten negatif yang berpotensi hadir di dunia virtual antara lain pornografi, radikalisme, berita hoax, dan lainnya. Generasi mileneal mesti dicerdaskan melalui literasi virtual guna menyikapi dinamika dan fenomena kontemporer yang cepat perkembangannya. Konten positif virtual diharapkan menjadi benteng dan filter mencegah aksi klithih.

Bentuk Literasi

Literasi virtual bahkan mesti dihadirkan pada anak-anak sejak dini. Anak-anak sejak kecil sudah dekat dengan gadget. Orang tua mesti mendampingi setiap aktifitas anak menggunakan gadget. Hal paling ekstrim adalah menunda kedekatan anak dengan gadget.

Lalu lintas virtual akhir-akhir ini hangat dengan hadirnya isu seputar berita hoax. Hampir semua penjelajah virtual berpotensi menerima bahkan menyebarkan berita hoax. Sebagian besar karena tidak mengerti dan terdorong oleh emosional. Selain itu muncul budaya virtual ingin segera dan mudah menyebar agar dianggap kekinian atau tahu suatu persoalan. Generasi muda rentan dalam psikologi demikian. Berita hoax atau singgungan virtual dapat berlanjut menjadi aksi kekerasan di dunia nyata, salah satunya melalui klithih.

Generasi mileneal mesti dipahamkan dalam hal membedakan dan menilai konten berita atau informasi. Banyak modus dilakukan dalam penyebaran berita hoax. Antara lain kesengajaan karena motif politik, motif mengeruk pundi-pundi ekonomi digital, iseng atau sebagai bahan candaan, dan lainnya.

Kehati-hatian mesti ditanamkan sejak dini. Berita hoax kadang dirancang sebagai bentuk jebakan batman. Produsen terkadang justru dari pihak korban demi mencari simpati dan terkesan didzolimi. Generasi mileneal mesti diajari prinsip cek dan ricek dalam menyaring berita atau informasi.

Literasi virtual mesti masuk dalam kurikulum formal. Banyak mata pelajaran dapat dioptimalkan. Misalkan dalam pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bahkan pelajaran agama. Selain itu itu juga masuk ke lingkungan non formal, seperti pesantren, komunitas, dan lainnya.

Generasi mileneal mesti terus diajak dan diajari agar tidak sekadar menjadi subyek melainkan mulai merambah ke obyek virtual. Mental konsumen berita atau informasi mesti pelan-pelan diimbangi menjadi produsen. Banyak peluang dapat dimanfaatkan dan sesuai dengan genre generasi mileneal. Misalkan melalui blog, media  sosial, dan lainnya.

Pendekatan agama juga penting dioptimalkan. Fitnah termasuk larangan dalam agama. Termasuk jika sengaja ikut menyebarkannya. Literasi virtual bagi generasi mileneal membutuhkan peran semua pihak, baik keluarga, sekolah, pemerintah, publik, dan lainnya. Strategi pendekatan penting dengan gaya sesuai kecenderungan yang disukai anak muda kekinian.

Komentar Dengan Facebook