10 Upaya Lindungi Anak dari Bahaya Intoleransi dan Radikalisme

10 Upaya Lindungi Anak dari Bahaya Intoleransi dan Radikalisme

- in Suara Kita
512
0
10 Upaya Lindungi Anak dari Bahaya Intoleransi dan Radikalisme

Jalanan di pagi hari mulai ramai dengan anak-anak yang berangkat sekolah. Wajah sumringah dan penuh harapan tersorot dari mata murid yang hendak menemui gurunya guna menyesap samudra ilmu pengetahuan. Ada yang berangkat amat pagi untuk mendapat posisi duduk terdepan. Orang tua pun tak mau ketinggalan momen berharga, yakni mengantarkan anaknya ke sekolah sacara luring, setelah libur panjang dan pandemi menghantam.

Seteleh kembali ke sekolah, akankah anak kita baik-baik saja? Akankan para murid menjadi lebih baik dalam proses belajarnya atau dalam praktik keseharian? Tentu ini menjadi tantangan bersama, khusunya orang tua dan guru, dalam mewujudkan Indonesia Maju.

Awal tahun ini tersiar kabar yang tidak mengenakkan dalam lingkup anak-anak kita dan pendidikan karakternya. Dilansir dari INews Sulsel, 06 Januari 2022. menginformasikan bahwa 15 anak terpapar radikalisme sepanjang 2021. Berdasarkan keterangan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) kota Makassar, mengatakan bahwa anak-anak terpapar radikalisme turunan dari orang tuanya. Sedari kecil, orang tuanya menanmkan paham radikalisme ini ke anaknya. 

Selain itu, diperoleh dari Asumsi.co, 1 April 2022, menjelaskan beberapa sebab anak-anak terpapar radikalisme. Hal itu dijelaskan oleh Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti. Menurut Retno ada beberapa faktor anak-anak mudah dipengaruhi paham radikalisme, termasuk NII, di antaranya ialah pembelajaran di sekolah tidak terbuka terhadap perbedaan pendapat, murid dan guru yang terjebak intoleransi pasif, guru yang memiliki misi politik dalam mengarahkan murid ke arah intoleran, dan tiadanya seleksi murid/ guru dari sekolah secara ketat. 

Uraian di atas memberi gambaran penting dan utama, bahwa penyebab anak atau murid menjadi radikal berasal dari orang tua dan guru, atau dalam lingkup lebih luas ialah keluarga dan sekolah. Musim penerimaan siswa baru dan kegiatan belajar mengajar di semester ini merupakan tantangan bagi keluarga dan sekolah dalam mengantarkan anak atau murid menjadi anak atau murid yang toleran, ramah, dan menjadi agen perdamaian guna mewujudkan Indonesia Maju. Adapun 10 upaya baik yang perlu dilakukan oleh orang tua maupun guru – terlebih keluarga dan sekolah. Akan ada lima upaya buat orang tua dan lima upaya buat guru untuk mewujudkan toleransi terhadap anak.

Pertama, mendampingi tumbuh kembang anak usia dini dengan bermain. Kecenderungan, orang tua muslim khususnya jikalau mendidik anaknya di usia dini dengan ilmu agama yang ketat. Harus hapal ini itu dan banyak sekali. Yang harus orang tua ketahui bahwa anak usia dini perlu diajak bermain, perbanyak bermain, pantik saraf dan otot-otot anak agar siap gemput dan taktik.

Kedua, mengajarkan agama tanpa mendeskriditkan agama lain. Ini menjadi alternatif bagi orang tua beragama untuk mengajarkan agama yang diyakininya tanpa menyalahkan agama lain. Jika anak sudah pada levelnya, mengenalkan agama-agama atau budaya lain juga sangat penting.

Ketiga, mengajak anak mengenal beberapa tempat ibadah agama-agama secara langsung. Dengan memperlihatkan, mengenalkan, dan menceritakan tempat ibadah agama-agama lain akan memantik anak mengetahui keberagaman agama.

Keempat, tidak membatasi anak untuk bermain dengan siapa saja. Perkenalan anak dengan kawan-kawannya akan memantik solidaritas, kepedulian, dan tolong menolong pada diri anak. Membatasi anak untuk berkawan dengan anak lainnya, akan mengganggu perkembangan emosi sosial anak.

Kelima, mendongeng adalah hal yang sangat efektif. Anak membutuhkan dongeng dari orang tuanya. Dongeng-dongeng akan memicu nalar kritis anak untuk bertanya mengapa begini dan mengapa begitu. Orang tua perlu memilih dongeng yang menjunjung tinggi keadilan, toleransi, dan teladan. Baik, dongeng dalam bentuk legenda maupun fabel.

Keenam, sekolah harus menjamin kebebasan beragama dan berekspresi para murid dan gurunya. Sekolah sebagai wadah pendidikan, perlu memastikan bahwa tidak ada kebijakan yang mengucilkan satu sama lain.

Ketujuh, sekolah harus memastikan bahwa guru-gurunya memiliki prespektif toleransi, cinta kasih, dan keadilan. Tiga nilai itu menjadi penting. Karena, jilalau guru jauh dari nilai itu maka akan mengajak muridnya untuk berlaku yang jauh dari nilai-nilai itu, seperti: membenci, merundung, bertengkar, dan tawuran.

Kedelapan, guru-guru perlu mendorong dan mengajak murid-muridnya untuk membaca. Membaca merupakan literasi dasar yang wajib dimiliki anak atau murid. Dengan gemar membaca, akan memperluas cakrawala anak.

Kesembilan, guru-guru harus memperlakukan murid secara adil. Fenomena berebut bangku paling depan merupakan bukti bahwa perhatian guru sering kali hanya tertuju pada murid-murid yang duduk di shaf pertama. Itu merupakan contoh sederhananya. Para guru harus secara adil memperlakukan muridnya. Tidak boleh pilih kasih, semua harus dikasihi baik yang berambut lurus, keriting, atau kribo.

Kesepuluh, para guru hendaklah memberikan teladan yang baik dalam hal toleransi. Bagaimana guru mempraktekkan keramahan terhadap orang lain yang berbeda pendapat, keyakinan, atau agama dan budaya. Bagaimana guru bisa menerima pendapat atau kritik dari murid atau orang lain. Atau bagaimana guru bersikap di luar sekolah dengan nilai yang toleran, cinta kasih, dan menebar perdamaian satu sama lain.

Demikianlah 10 upaya melindungi anak dari bahaya intoleransi dan radikalisme. Upaya-upaya itu merupakan bagian dari mempersembahkan generasi emas anak untuk Indonesia Maju. Kemajuan Indonesia berada di tangan anak bangsa ini.

Facebook Comments