3 Dalil Al-Qur’an dalam Memperkuat Persaudaraan Keumatan dan Kebangsaan

3 Dalil Al-Qur’an dalam Memperkuat Persaudaraan Keumatan dan Kebangsaan

- in Suara Kita
671
0
3 Dalil Al-Qur’an dalam Memperkuat Persaudaraan Keumatan dan Kebangsaan

Jika ada orang yang bertanya kepada kita, tentang apa dalil Al-Qur’an yang mendasari pentingnya memperkuat persaudaraan keumatan dan kebangsaan? Tentu, jangan ragu kita mengatakan bahwa Al-Qur’an memiliki 3 dalil Al-Qur’an yang menjadi (nilai etis) bagi kita, betapa pentingnya persaudaraan antar umat beragama (keumatan) dan persaudaraan kebangsaan itu.

Pertama, Al-Qur’an surat Al-Nisa’ ayat 1, Allah SWT membangun sebuah kemutlakan. Bahwasanya “Yaaa ayyuhan-naasuttaquu robbakumullazii kholaqokum (min nafsiw) waahidatiw wa kholaqo min-haa zaujaha wa bassa min-humaa rijaalang-kasiirow wa nisaa-aa, wattaqullohallazii tasaaa-aluna bihii wal-ae-haam, innalloha kaana’alaikum roqiba”.

Ayat di atas memiliki satu tendensi kepada (min nafsin/w) yang berarti hukum universal atas (semua manusia). Bahwa, Allah SWT telah menciptakan kita semua dari yang satu (Nabi Adam). Sebagaimana Nabi Adam dipasangkan dengan (Hawa). Dari kedua-nya Allah SWT “memperkembangbiakkan” laki-laki dan perempuan yang banyak. Sehingga, Allah SWT meminta kita untuk menjaga (hubungan kekeluargaan) atau (persaudaraan keumatan) atas prinsip bahwa kita berasal dari (jiwa yang satu).

Kedua, dalam realitas keragaman, Al-Qur’an telah meniscayakan semacam hak prerogatif-Nya. Sebagaimana di dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 93. Sebagaimana yang tertuang dalam potongan ayat, “Walausyaa’allahu laja’alakum ummataw-wahidatan, walakiyyudzhillu mayyasyaa’uh wayahdi may-yasyaa’. Walaa tus’alunnah amma kuntum ta’lamun”.

Ayat di atas, senyatanya memiliki (sebuah ketetapan) bahwa perbedaan itu adalah hak prerogatif Allah SWT. Serta, kehendak-Nya jauh lebih mengetahui segala sesuatu. Dengan sebuah penekanan pada kata “Walausyaa’allahu laja’alakum ummataw-wahidatan”. Memiliki arti “Dan kalau Allah SWT (menghendaki), niscaya (Dia) menjadikan kamu satu umat saja”.

Di sini memiliki kejelasan bahwa, perbedaan itu merupakan sebuah kehendak dan kesimpulan atas (kemutlakan) yang diberikan oleh-Nya. Jadi, jika ada yang selalu menolak perbedaan dan merasa paling benar, maka hal demikian sebetulnya hanya persoalan (penolakan) kita terhadap sesuatu yang sebetulnya telah ditetapkan. Sebagaimana keadaan kita yang hanya sekadar merasa lebih tahu, merasa lebih memahami dan merasa paling benar.

Ketiga, selain Al-Qur’an meniscayakan dalil pentingnya sebuah persaudaraan dalam keumatan. Serta, sebuah jalan bahwa kita lahir dari (jiwa yang satu) yaitu dari Nabi Adam. Juga perbedaan yang tidak hanya satu umat adalah sebagai hak prerogatif-Nya.

Tampaknya, Al-Qur’an juga memberikan (closing point) bagaimana di tengah perbedaan itu kita perlu saling mengenal dan membangun sebuah persaudaraan, serta persatuan dalam (kebangsaan) yang damai dan berkeluarga.

Sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an, surat Al-Hujarat ayat 13. Bahwasanya “Yaaa ayyuhan-naasu innaa kholaqnaakum mindzhakariw wa unsaa wa ja’alnaakum syu’uubaw wa qobaaa-ila lita’aarofuu, inna akromakum indallahi atqookum, innalloha aliimun khobir”.

Dari ayat di atas, kita telah memahami bahwa segala perbedaan yang kita (jalani) dengan damai di negeri ini, merupakan kebenaran yang sesuai dengan Al-Qur’an. Sebab, semua kita diperintahkan untuk saling mengenal dan saling berbuat kebaikan dalam janji ketakwaan yang perlu kita tanam.

Jadi, dari tiga ayat Al-Qur’an ini, kita akan bisa mengetahui lebih jelas apa dan seperti apa dalil yang mendasari pentingnya persaudaraan dalam keumatan dan kebangsaan itu. Sebagaimana dalam point pentingnya, bahwa kita diajak untuk merawat persaudaraan atas nama (jiwa yang satu) karena kita semua berakar pada Nabi Adam.              

Serta kita diperlihatkan bagaimana Allah SWT meniscayakan perbedaan umat beragama adalah (hak prerogatif) yang tegak di atas segala kehendak-Nya. Serta, ayat terakhir juga meniscayakan betapa pentingnya kita bersaudara dalam seperti kebangsaan itu dengan tetap mengimplementasikan semangat untuk bersaudara, bersatu dan saling berbuat kebaikan.

Facebook Comments