3 Dalil Al-Qur’an, Wajib Menolak Penceramah Pemecah-Belah Umat!

3 Dalil Al-Qur’an, Wajib Menolak Penceramah Pemecah-Belah Umat!

- in Suara Kita
166
0
3 Dalil Al-Qur’an, Wajib Menolak Penceramah Pemecah-Belah Umat!

Kita tahu, kasus penolakan penceramah ustadz Abdul Somad (UAS) ke Singapura bukan karena dokumen perjalanannya yang tidak lengkap. Melainkan, karena jejak ceramahnya yang dianggap tidak memenuhi syarat. Sebab, negara Singapura yang multi ras dan etnik pastinya akan merasa risih dan tentunya akan menolak kedatangan penceramah yang perah menyampaikan narasi segregasi, intoleransi dan pemecah-belah.

Sebab kalau kita amati, ada 3 dalil Al-Qur’an, yang sejatinya mengerucut pada pemahaman serta kewajiban bagi kita. Untuk menolak siapa-pun itu, termasuk penceramah dengan narasi ceramahnya yang bisa memecah-belah keharmonisan sosial-kemanusiaan. Jadi, menolak penceramah yang memecah-belah itu bukan kebencian atau anti terhadap ajaran Islam melainkan kewajiban kita untuk menolak-nya.

Misalnya, Qs. Al Hujurat:13. Cobalah kita pahami “Wahai manusia, Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulai di antara kamu di sisi Allah Ialah orang yang paling bertakwa”.

Dari dalil di atas, kita sebetulnya paham satu konsep. Bahwa, Allah SWT di dalam Al-Qur’an tersebut sejatinya telah memerintahkan kita untuk saling-mengenal sekaligus saling menjaga di tengah perbedaan-perbedaan yang masuk dalam ranah sunatullah dan kita secara otomatis perlu saling membangun hubungan baik itu.

Artinya apa? jika ada penceramah yang justru narasi ceramahnya kontra dengan ayat tersebut. Dalam arti pemahaman, justru semakin meretakkan dan membawa perpecahan di tengah keragaman-perbedaan itu, maka tidak ada jalan etis selain kita tolak. Sebab, kebenaran Al-Qur’an justru mengerucut pada terbentuknya sikap beragama kita yang bisa saling menghargai dan bisa terbangun keharmonisan sosial di tengah keragaman itu sendiri.

Begitu juga dalil yang kedua. Sebagaimana yang termaktub dalam Al An’am :108. Bahwasanya “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka”.

Ayat ini selain tentang larangan kita mencaci apalagi melecehkan agama lain. Kita juga wajib untuk tidak mengikuti dan kita wajib untuk menolak penceramah yang pernah membawa narasi ceramah yang melecehkan agama lain. Hal ini sebagai bagian dari prinsip ketakwaan kita dan ketaatan kita untuk mengikuti aturan-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an. Sebagaimana yang saya sebutkan di atas.

Jadi, menolak penceramah yang pernah menyampaikan narasi ceramah yang melecehkan agama lain itu sebagai bagian dari perintah Al-Qur’an. Karena, kita saja dilarang untuk mencaci atau melecehkan. Apalagi mengikuti penceramah yang demikian? Maka, di sinilah titik temu dari ayat tersebut. Yaitu, selain menjaga diri untuk tidak melecehkan agama lain, kita juga wajib menolak penceramah yang selalu mengajak kita untuk melecehkan agama lain.

Selain itu, diterangkan juga di dalam Qs. Al-Imran 104. Bahwasanya “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang Ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Dari ayat ini, ada semacam perintah (penyeru) atau menjadi seorang penceramah/penyampai ajaran agama yang mengarah ke dalam kebaikan dalam ajaran agama.            

Dari sini kita bisa sadari betul. Bahwa, jika ada penceramah yang justru kehadirannya membawa mudharat. Atau, justru memecah-belah dan penuh kebencian serta merusak tatanan sosial. Maka, wajib bagi kita untuk menolak penceramah yang demikian itu. Karena perintahnya adalah seorang penyeru atau pendakwah yang membawa amal Ma’ruf kebaikan agama yang membawa maslahat atau rahmatan. Bukan kemudharatan.

Facebook Comments