3 Dosa NII terhadap NKRI : Makar, Teror dan Cuci Otak Ideologi Generasi Muda

3 Dosa NII terhadap NKRI : Makar, Teror dan Cuci Otak Ideologi Generasi Muda

- in Suara Kita
273
0
3 Dosa NII terhadap NKRI : Makar, Teror dan Cuci Otak Ideologi Generasi Muda

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid menyatakan bahwa Negara Islam Indonesia (NII) merupakan induk dari jaringan teroris di Indonesia. Pernyataan ini sungguh mengejutkan karena kita hanya menganggap NII hanya luka lama dari sejarah bangsa yang dianggap sudah sirna. Ternyata tidak, NII masih bergerak dengan merekrut generasi-generasi muda, bahkan anak-anak, di berbagai daerah.

Menguatkan pernyataan di atas, pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan menegaskan bahwa jaringan NII mampu menyatukan sel-sel teroris yang berada di Indonesia. Bahkan, menurutnya NII dapat menggerakkan sel-sel tidur yang kini telah banyak menyusup ke berbagai lembaga pemerintahan dan swasta.

Jika melihat pernyataan tersebut, tentu saja, keberadaan NII tidak bisa diabaikan begitu saja. NII tidak bisa hanya dianggap sebagai ancaman kecil yang tidak membahayakan kedaulatan negara. Orang sering melupakan dosa-dosa NII terhadap republik ini. Setidaknya ada beberapa dosa sejarah NII dalam perjalanan republik ini.

Pertama, dosa pemberontakan dan dosa ideologi yang ingin mengganti dasar negara. Sejarah pemberontakan yang mereka lakukan terjadi pada masa awal kemerdekaan ketika bangsa ini belum stabil. Pemberontakan ini telah menyebabkan perang saudara antar sesama anak bangsa yang baru keluar dari jeratan kolonialisme.

Kedua, dosa teror yang dilakukan eks NII. Pada fase ini NII telah bermetamorfosa dari Gerakan makar yang terorganisir menjadi Gerakan teror bawah tanah yang mengganggu keamanan stabilitas negara dan keamanan masyarakat. Era 1970-an muncul Komando Jihad hingga teror yang terjadi pada 1980-an yang diaktori oleh mantan anggota DI/TII atau NII. Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir muncul dengan organisasi baru Bernama JI.

Gerakan teror mantan NII ini semakin marak pascareformasi dengan berafiliasi dengan organisasi teroris global, AlQaeda. Praksis, JI menjadi lokomotif utama serangkaian teror di Indonesia dengan daya ledak dan rencana terorganisir yang sangat rapi. Korban berjatuhan dan negara seolah tak berdaya dengan kehadiran kombinasi jaringan terorisme lokal dan global ini hingga mendorong terbentuknya Detasemen Khusus anti teror.

Ketiga, dosa ideologi NII yang diwariskan kepada gerakan politik mengatasnamakan agama. NII mengilhami lahirnya Gerakan makar dan teror yang terus bermunculan. Meskipun NII sendiri terus bergerak sel dan di bawah tanah, tetapi eks NII dan pecahan organisasinya yang menginginkan perubahan radikal menjelma dalam bentuk gerakan ekstrem karena ideologi makar NII telah mencuci otak generasi muda. NII mewarisi gen anti NKRI.

Tidak mengherankan jika pada Gerakan bawah tanah selanjutnya NII banyak merekrut generasi muda, bahkan akhir-akhir ini anak-anak di bawah umur. NII dipandang sebelah mata hanya sebagai organisasi yang diberitakan banyak menghilangkan remaja atau penipuan. Tidak dosa sejati NII adalah mengajarkan ideologi yang bertentangan dengan NKRI dan menyiapkan generasi muda dengan gen NII.

Karena itulah, pemerintah tidak boleh memandang remeh gerakan NII yang dianggap sebagai bukan ancaman. Para pengamat membandingkan bahaya NII dan JAD dalam kuantitas dan kualitas ancamannya. Namun, diingat NII dalam rentang sejarah yang lama masih bertahan. Kenapa? Gen ideologi NII masih sangat kuat dan tidak pernah pudar.

Dan perlu diingat ancaman ideologi dan transformasi gerakan NII ke organisasi teror patut menjadi pertimbangan dan perhatian. Akar masalah sesungguhnya dari ideologi NII adalah cita-cita mengganti dasar negara harus segera dijinakkan. Kalau tidak, Indonesia akan terus dihantui dengan doktrin ideologi yang bisa jadi dalam masa mendatang menjadi gerakan besar.

Facebook Comments