3 Fakta, KKB sebagai Gerakan Nyata Terorisme dan Layak sebagai Musuh Kita Bersama

3 Fakta, KKB sebagai Gerakan Nyata Terorisme dan Layak sebagai Musuh Kita Bersama

- in Suara Kita
1319
0
3 Fakta, KKB sebagai Gerakan Nyata Terorisme dan Layak sebagai Musuh Kita Bersama

Pelabelan KKB sebagai gerakan (nyata) terorisme itu sejatinya bukan sebuah sentiment atau-pun persepsi semata. Melainkan dapat kita lihat dari (bukti nyata) di balik semua tindakan mereka yang penuh dengan kebiadaban dan merusak persaudaraan dan keharmonisan di negeri ini. Sehingga, dari semua kenyataan itu, mutlak bisa kita katakan secara jelas. Bahwa mereka layak dijadikan musuh kita bersama.

Pun, kita juga harus paham. Bahwa setiap aksi tindakan terorisme itu tidak selamanya berlabel agama. Atau membungkus segala tindakan zhalim, kekerasan dan perusak tatanan dengan mengatasnamakan nilai-nilai agama. Sebab, terorisme itu memiliki banyak ragam karakter, pola dan bentuk yang sangat transparan mereka gunakan.

Sebagaimana layaknya KKB. Mereka bersembunyi di balik kebebasan, perjuangan atau-pun mengatasnamakan ketidakadilan. Karena, setiap aksi-aksi mereka selalu dilumuri oleh motif yang demikian. Mereka merekrut dan mengajak masyarakat sipil yang tidak tahu-menahu tentang motif busuk kelompok KKB ini. Akhirnya mereka dibodohi lalu bergabung dalam komplotan tersebut.

3 Fakta KKB sebagai Gerakan Nyata Terorisme

Ada tiga fakta, yang sebetulnya kita perlu tahu. Mengapa, kenapa dan bagaimana KKB itu sebagai gerakan nyata terorisme. Serta, apa alasan paling fundamental KKB sebagai musuh kita bersama di negeri ini.

Pertama, KKB dengan segala kekejian dan kezhalimannya itu selalu dan bahkan secara sengaja menyasar warga sipil. Kelompok ini tidak hanya mengintimidasi semata. Melainkan, melakukan tindakan nyata yang sifatnya melukai dan bahkan menghilangkan nyawa korban.

Sebagaimana, mereka (kelompok KKB) pernah menyerang tenaga kesehatan secara zhalim dan sadis di salah satu Puskesmas. Daerah Distrik Kiwirok Pegunungan Bintang Papua. Mereka merusak semua fasilitas kesehatan di sana. Bahkan, KKB tidak segan-segan menghancurkan gedung-gedung sekolah. Tempat di mana masa depan anak-anak Papua mengasah masa depannya. Tetapi, kelompok KKB itu justru sengaja menyasar itu. Lalu membawa legalitas pembenar bernama perjuangan itu.

Kedua, kelompok KKB ini di satu sisi secara nyata sangat mengancam keamanan, kenyamanan, kedamaian dan keselamatan masyarakat. Pun, di sisi lain, mencoba untuk merongrong kedaulatan NKRI. Artinya, segala tindakan mereka itu tidak hanya bersifat (separatis). Mereka menjalar sebagai sesuatu yang sangat menakutkan bagi masyarakat. Bahkan sangat-sangat mengancam keselamatan mereka.

Jadi, keberadaan mereka (KKB) ini, sebetulnya sangat nyata dan murni pengganggu keamanan, keselamatan ,kenyamanan dan ketenteraman masyarakat. Maka, segala yang bertindak demikian, itu mutlak dan pantas sebagai komplotan teroris. Maka, sejak dulu, musuh besar kita bersama di negeri ini tidak lain dan tidak bukan adalah kelompok teroris yang ingin merusak tatanan masyarakat yang mapan itu.

Ketiga, kelompok KKB merusak masa depan anak bangsa. Mereka selalu menyasar (generasi bangsa) untuk direkrut lalu bergabung dengan komplotan tersebut. Tentu, ini merupakan satu fakta yang nyata. Bahwa, generasi bangsa yang seharusnya duduk di bangku sekolah, belajar dengan tenang, penuh riang-gembira dan memiliki masa depan yang cerah. Namun, dirusak dan digagalkan oleh kelompok KKB tersebut.  

Mereka merekrut dan mengajak generasi pemuda untuk mengangkat senjata. Dengan mengatasnamakan perjuangan dan ketidakadilan itu. Mereka diracuni untuk bergabung dalam misi komplotan mereka untuk bertindak zhalim, merusak segala fasilitas publik yang ada. Serta selalu mengganggu keamanan, kenyamanan dan keselamatan masyarakat.            

Jadi, dari tiga fakta yang nyata ini, tentu sangat logis bagi kita. Bahwa kelompok KKB ini mutlak sebagai gerakan nyata terorisme. Maka, sejak dulu terorisme adalah musuh besar kita bersama yang wajib kita bersihkan keberadaannya di negeri yang kita cinta ini.

Facebook Comments