3 Prinsip Al-Qur’an dalam Membangun Tahun Toleransi 2022

3 Prinsip Al-Qur’an dalam Membangun Tahun Toleransi 2022

- in Suara Kita
620
7
3 Prinsip Al-Qur’an dalam Membangun Tahun Toleransi 2022

Al-Qur’an sejatinya telah menjelaskan secara komprehensif. Perihal pentingnya toleransi sebagai prinsip hidup yang ideal dalam membangun suatu negara. Sebagaimana, inti, fungsi dan substansi dalam membangun tahun toleransi di tahun 2022 ini, Al-Qur’an memberikan clue-etis yang mengacu kepada Baldatun Tayyibatun Warabun Ghafur (Qs. Saba’:15).

Sebagaimana, ada tiga prinsip di dalam Al-Qur’an yang perlu kita pegang bersama untuk membangun tahun toleransi. Pertama, Al-Qur’an memberikan arahan bagaimana cara kita (saling menghargai) satu-sama lain. Kedua, Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam membangun (sikap sosial-kemanusiaan) dengan mereka yang berbeda. Serta seperti apa batasannya. Ketiga, Al-Qur’an mencoba memberikan titik-temu perbedaan ke dalam spirit nasionalisme yang disatukan.

Misalnya yang pertama, (Qs.Al-An’am:108) yang artinya: “Janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa ada dasar pengetahuan”. Dari sini, (Qs. Al-Kafirun:6) juga menjelaskan, artinya: untukmu agamamu dan untukku agamaku”.

Dari dua ayat di atas, kita bisa memahami betul. Allah SWT di dalam Al-Qur’an ini sangat melarang mencaci, membenci, mengkafir-kafirkan dan merasa paling benar dibanding penyembah Tuhan dalam agama lain. Karena hal demikian akan memunculkan konflik-pertikaian. Sebab, agama lain akan melakukan hal yang sama. Karena, di ayat kedua telah diperingatkan untuk kita bisa (menjaga agama kita) sendiri masing-masing untuk berlomba-lomba berbuat baik bagi tatanan dan jangan saling mengganggu.

Kedua, selain kita diberikan batasan untuk bisa saling menghargai. Kita juga diberikan arahan untuk membangun (hubungan sosial-kemanusiaan) dengan mereka yang berbeda dengan baik. Seperti halnya (Qs.Mumtahanah:8) “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu. Sungguh, Allah SWT mencintai orang-orang yang berlaku adil”. Pun, (Qs. Al-Maidah:2) mengisyaratkan “Tolong-menolong dalam kebaikan, kebajikan dan ketakwaan dan jangan tolong-menolong dalam keburukan, dosa dan permusuhan”.

Dari dua ayat ini, sebetulnya menjadi satu entitas penting untuk (membangun hubungan sosial) yang baik dengan mereka yang berbeda agama itu tidak dilarang. Artinya, kita diperbolehkan. Bahkan, di dalam ayat lain juga mengisyaratkan kita tidak boleh berlaku semena-mena. Artinya, berbuat baik dan menjalin hubungan sosial dengan mereka yang berbeda adalah perlu dan wajib untuk kita bangun. Sebagaimana Prof. Quraish Sihab menjelaskan bahwa ayat tentang pentingnya tolong-menolong itu sejatinya bersifat (universal) atau bagi seluruh umat manusia. 

Ketiga, selain kita diperintahkan untuk saling menghargai dan saling membangun hubungan sosial yang baik. Kita juga diarahkan untuk membangun (persatuan) atas nama nasionalisme. Sebagaimana yang terurai dalam (Qs. Al-Hujarat:3) yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal

Dari ayat di ini, Al-Qur’an menjelaskan bahwa “Orang Mulai di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa”. Dari sini kita bisa memahami, bahwa, kita bersatu dalam wadah yang sama yaitu semangat (nasionalisme) adalah bentuk pranata ketakwaan yang perlu kita bangun. Di mana, perbedaan bukan menjadi penghalang bagi kita untuk bersatu dalam semangat kebangsaan.            

Maka, dari tiga tips inilah, kita bisa memahami dan mengerti batasan dan anjuran Al-Qur’an dalam membangun negara ideal dengan toleransi. Sebagaimana, kita perlu menyongsong tahun 2022 ini dengan menjadikan toleransi sebagai prinsip hidup. Maka, ikutilah apa yang telah diarahkan oleh Al-Qur’an tersebut. Karena, ini akan mengacu ke dalam fungsi untuk membangun sebuah negara ideal yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai “Baldatun Tayyibatun Warabun Ghafur”.

Facebook Comments