3 Strategi ala Al-Quran agar Tebebas dari Kebencian

3 Strategi ala Al-Quran agar Tebebas dari Kebencian

- in Suara Kita
176
0
3 Strategi ala Al-Quran agar Tebebas dari Kebencian

Hijrah sejatinya adalah gerak kolektif-substantif, bukan gerak individual-artifisial. Maksud gerak kolektif-substantif adalah aksi terbuka dan bersama yang melibatkan seluruh komponen menuju nilai nilai-nilai ideal seperti perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan. Sementara gerak individual-artifisial adalah gerak tertutup dan kaku yang tidak bisa menyentuh nilai ideal itu.

Nabi melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah tidak sendirian. Ia bersama para sahabatnya, baik sahabat itu duluan berangkat atau belakangan. Dan, sesampainya di Madinah, Nabi membuat dobrakan baru dalam peradaban manusia, yakni satu konstitusi yang disepakati bersama sebagai payung dalam menjaga perdamian dan persaudaraan.

Artinya hijrah Nabi dilakukan secara kolektif (Nabi dan kaum Anshar) dan ada tujuan substantif (perdamaian, persaudaraan, persatuan).

Sayangnya, yang lebih mencolok belakang adalah makna hijrah yang kedua, yakni gerak individul-artifisial. Hijrah hanya dimaknai sebagai perubahan pakaian tertentu; perpindahan pilihan politik yang sesuai dengan kelompoknya; hanya mengikuti pengajian atau ustad kelompoknya; atau hijrah hanya sekadar soal jenggot, isbal, atau cara betutur kata yang kearab-araban.

Akibatnya, hijrah menjadi tereduksi dan kaku. Padahal semangat hijrah yang diparaktekkan Nabi bukan soal perkara tetek-bengek seperti itu. Nabi hijrah demi mewujudkan nilai-nilai universal di muka bumi. Nilai-nilai universal itu adalah kebebasan beragama, keamanan, keadilan, dan kesetaraan. Semua yang disebutkan tadi, bisa mewujud jika tidak ada narasi kebencian dan pemecah belah di antara sesama anak bangsa.

Memang betul, hijrah secara historis adalah perpindahan dari satu daerah menuju daerah lain sebagai tempat menetap (migrasi). Setelah Islam tersebar luas, hijrah dimaknai sebagai perpindahan dari tempat yang tidak aman (dar al-harb) menuju tempat yang aman (dar al-salam). Dalam sejarahnya, Nabi melaksanakannya dengan cara pindah dari Mekkah (negeri yang tidak memberikan keamanan) menuju Madinah (negeri yang secara potensial memberikan keamanan).

Akan tetapi, dalam konteks Indonesia, pindah dalam makna di atas tidak mendapat momentumnya lagi, sebab Indonesia adalah negeri yang secara potensial (bahkan aktual) sudah memberikan rasa aman kepada warganya. Dengan begitu, signifikansi hijrah bukan pindah secara geografis, melainkan pindah secara moral-praktis. Maksud moral-praktis adalah segala tindak tanduk dalam berbangsa dan bernegara dalam kerangka nilai-nilai kemaslahatan, yang dalam hal ini adalah keutuhan bangsa.

Keutuhan bangsa bisa terwujud jika dalam praktek berbangsa dan bernegara jauh dari perpecahan dan kebencian. Maraknya narasi kebencian di media sosial adalah PR bersama bahwa bangsa ini perlu dihijrahkan dari narasi kebencian, baik itu provokasi, rasisme, diskriminasi, intoleransi, menuju narasi perdamaian dan persaudaraan.

Tiga Strategi

QS. Al-Baqarah, 2: 218 bisa dijadikan bahan refleksi, yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam ayat ini, ada tiga strategi menuju rahmat Allah. Perdamaian dan bebasnya manusia dari kebencian adalah bagian dari rahmat Allah. Apa yang tiga itu? Yakni iman, hijrah, dan jihad. Tiga strategi ini harus dijalankan supaya perdamaian bisa terwujud, dan kebencian bisa hilang  di muka bumi ini.

Pertama, Iman. Iman satu akar kata dengan aman, maknanya bisa ketenangan, keamanan, dan keutuhan, yang pada akhirnya melahirkan kepercayaan. Iman yang tidak berangkat dari ketenangan dan keutuhan dan tidak bisa menghasilkan rasa aman dan kedamaian, pada hakikatnya belum disebut iman.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, setiap anak bangsa harus menjadikan keamanan, keutuhan, dan ketengan sebagai titik tumpu dan titi tuju sekaligus. Baik dalam bersikap, bertindak, dan berperilaku, makna iman itu harus termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya konflik intern, kasus rasialisme, polarisasi masyarakat, dan keributan soal hubungan antara agama di ruang publik harus diselesaikan dengan kerja-kerja positif yang bisa memproduksi keteduhan, kedamaian, dan keutuhan bangsa.

Kerja-kerja positif itu dilakukan dengan syarat kedua, yakni hijrah. Dengan kata lain, hijrah harus dijadikan alat transformasi masyarakat menuju kedamaian, keteduhan, dan keutuhan bangsa.

Setiap anak bangsa, harus menjadikan hijrah sebagai semangat pindah dari kondisi tidak aman (caci-maki, ujaran kebencian, hoax, polarisasi, konflik agama, rasisme)  menuju kondisi yang aman (penuh kedamaian, saling menghargai, sikap toleransi, dan persaudaraan sesama anak bangsa).

Akan tetapi, transformasi sosial lewat hijrah belum sempurna jika belum ikut syarat ketiga, yaitu jihad. Artinya kerja-kerja menuju kedamaian, ketenangan, keteduhan, dan keutuhan bangsa, tidak akan bertahan lama, jika tidak dilakukan secara maksimal, totalitas, dan kolektivitas semua komponen anak bangsa. Jihad menuju kedamaian dan keutuhan bangsa itu harus terus menerus dilakukan.

Dengan demikian, signifikasi hijrah dalam konteks Indonesia saat ini bukan lagi perpindahan tempat melainkan perpindahan kondisi dan keadaan. Dari kondisi yang tidak nyaman dan aman menuju kondisi yang aman dan damai. Dari narasi kebencian menuju narasi perdamian. Dari perpecahan menuju persaudaraan. Ini bisa dilakukan jika trilogi gerak kolektif: iman, hijrah, dan jihad sama-sama dilakukan oleh semua lapisan anak bangsa.

Facebook Comments