4 Alasan Mengapa Ujaran Kebencian Berbahaya Bagi Kebinekaan dan Kemanusiaan

4 Alasan Mengapa Ujaran Kebencian Berbahaya Bagi Kebinekaan dan Kemanusiaan

- in Suara Kita
123
5

Kasus ujaran kebencian yang dilakukan Bahar bin Smith dan Ferdinand Hutahaen menyita perhatian publik beberapa hari belakangan ini. Dua kasus itu seolah membuktikan bahwa fenomena semburan kebencian nyatanya belum reda di negeri ini. Bahkan, bisa dibilang fenomena ujaran kebencian masih menjadi problem laten di negeri ini.

Data The Wahid Institute menyebutkan bahwa selama tahun 2014-2018 tercatat ada mencatat 120 siar kebencian keagamaan dengan pelaku aktor non-negara. Sementara itu Polri mencatat jumlah ujaran kebencian, termasuk di dalamnya siar kebencian keagamaan, pada 2017 mencapai 3.325 kasus. Angka ini naik 44,99% dari tahun 2016 yang berjumlah 1.829 kasus.

Angka-angka itu secara langsung berdampak buruk pada citra Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Pada medio 2017, peneliti Christian Solidarity Worldwide (CSW) Inggris menyebut Indonesia dengan nada pesimis menyebut Indonesia tidak bisa lagi menjadi model negara muslim moderat. Pesimisme itu dilatari oleh angka intoleransi, kekerasan dan kebencian berbasis agama yang kian meningkat dalam kurun waktu satu dekade terakhir.

Kencangnya arus semburan kebencian yang membanjiri ruang publik belakangan ini membuat kita sulit memaknai hakikat kebebasan. Kebebasan disalahartikan sebagai kondisi tanpa aturan dan norma. Tafsir kebebasan yang kebablasan ini dalam banyak hal lantas mengacak-acak nilai-nilai kemanusiaan. Kebebasan lantas kerap menjadi dalih untuk menyebar ujaran kebencian. Padahal, antara kebebasan (berpendapat) dan ujaran kebencian itu terdapat perbedaan yang sangat menonjol.

Definisi Ujaran Kebencian

Newton Lee mengatakan, “there is a fine line between free speech and hate speech. Free speech encourages debate whereas hate speech incites violence”. Menurut Lee, kebebasan berpendapat (freedom of speech) bertendensi memicu perdebatan wacana dan opini yang konstruktif dan solutif. Sebaliknya, ujaran kebencian (hate speech) cenderung memicu kekerasan verbal bahkan fisik dan bertendensi destruktif.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) disebutkan bahwa ujaran kebencian mencakup pencemaran fitnah, pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, provokasi, hasutan kekerasan, dan menyebarkan kebohongan. KUHP juga menyatakan bahwa pidato kebencian ditujukan untuk menghasut kebencian berdasarkan etnis, agama, keyakinan, ras, orientasi seksual, warna kulit dan cacat; itu dapat disebarkan melalui orasi kampanye, poster, media sosial, khutbah agama, media massa, demonstrasi, dan selebaran.

Jika merujuk pada Oxford English Dictionary (OED), ujaran kebencian dimaknai sebagai “speech expressing hatred or intolerance of other social group especially on the basis of race and sexuality”. Dalam hal ini yang bisa dikategorikan sebagai kebencian (hate) ialah “an emotion of extreme dislike or aversion; abbhorence, hatred”. Definisi ini mengandung dua aspek penting, yakni substansi ujaran kebencian dan obyek sasaran kebencian. Sebuah ujaran (speech) bisa dikatakan kebencian (hate) apabila mengekspresikan perasaan kebencian atau intoleransi yang bersifat ekstrim dan ditujukan kepada kelompok lain berdasarkan identitas agama, suku, ras, etnis, warna kulit, jenis kelamin atau orientasi seksual.

Bahaya Ujaran Kebencian

Ujaran kebencian ialah fenomena yang berbahaya bagi kebinekaan dan kemanusiaan. Dari sisi kebinekaan, ujaran kebencian yang memuat narasi provokatif dan adu-domba dapat memecah-belah bangsa dan umat. Sedangkan dari sisi kemanusiaan, ujaran kebencian telah mencederai harkat dan martabat manusia yang merupakan hak paling dasar. Ada setidaknya empat alasan mengapa ujaran kebencian berbahaya bagi kebinekaan dan kemanusiana.

Pertama, ujaran kebencian adalah intimidasi terhadap kebebasan berbicara dan menghambat partisipasi warga dalam demokrasi. Ujaran kebencian mengandung pesan bahwa kelompok tertentu adalah warga kelas rendah (sub-human) dan pantas didiskriminasi. Maka, ujaran kebencian pada dasarnya justru anti pada kebebasan berpendapat.

Kedua, ujaran kebencian berperan menciptakan polarisasi sosial berdasarkan kelompok identitas. Dalam masyarakat plural seperti Indonesia identitas menjadi hal pokok dalam kehidupan sosial. Keragaman identitas itu tidak menjadi persoalan selama masyarakat bisa mengelolanya dalam bingkai persatuan. Namun, kebinekaan identitas itu akan menjadi ancaman manakala semburan kebencian telah mewarnai kehidupan sosial masyarakat.

Ketiga, ujaran kebencian tidak hanya dimaksudkan untuk menciptakan wacana permusuhan, menyemai benih intoleransi atau melukai perasaan terhadap kelompok identitas lain, tetapi juga telah menjadi alat mobilisasi atau rekrutmen oleh kelompok-kelompok garis keras.

Keempat, ujaran kebencian mempunyai kaitan baik secara langsung dan tidak langsung dengan terjadinya diskriminasi dan kekerasan. Hal ini banyak terjadi terutama dalam situasi konflik dan pertarungan politik seperti pemilu. Masyarakat yang merasa termiskinkan atau termajinalkan bisa menjadi lebih mudah dimobilisasi dalam melakukan kekerasan ketika retorika kebencian berdasarkan sentimen identitas digunakan.

Facebook Comments