4 Alasan, Penangkapan Abdul Qodir Baraja sebagai Keputusan yang Tepat!

4 Alasan, Penangkapan Abdul Qodir Baraja sebagai Keputusan yang Tepat!

- in Suara Kita
147
0
4 Alasan, Penangkapan Abdul Qodir Baraja sebagai Keputusan yang Tepat!

Akhirnya, Ditrektorat Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya menangkap pemimpin tertinggi khilafarul muslimin. Yaitu, Abdul Qadir Hasan Baraja. Tentunya, keputusan yang semacam ini, sejatinya sebagai keputusan yang sangat begitu tepat. Mengapa? Karena ada 4 alasan paling fundamental yang mengharuskan pemerintah mengambil keputusan yang semacam itu.

Pertama, seorang Abdul Qadir Hasan Baraja adalah “akar-rumput” di balik gerakan kembali ke khilafah yang baru-baru ini viral di sosial media kita. Dialah yang menggagas ideologi khilafatul muslimin dan memprovokasi umat untuk kembali ke khilafah. Maka, secara otomatis dia mengajak orang untuk “berkhianat” terhadap bangsa ini. Serta, mengajak umat untuk melakukan konvoi sambil memengaruhi yang lain agar bergabung dalam barisan khilafatul muslimin.

Maka, kebijakan (penangkapan) seorang pemimpin, merupakan gerakan memutus akar. Maka, regulasi pelarangan ideologi yang mengalir akan jauh lebih mudah. Jadi, kebijakan untuk menangkap seorang pemimpin tertinggi khilafatul muslimin adalah satu tindakan untuk memutus mata-rantai penularan serta penyebaran. Karena, ketika sumbernya ditutup, maka secara otomatis tidak akan mengalir dan menyebar.

Sebab, ideologi khilafah itu mutlak tidak diterima di lingkungan masyarakat kita di Indonesia. Artinya, ini bukan kepentingan pemerintah. Melainkan, sebagai kepentingan masyarakat banyak. Agar, tidak terkontaminasi oleh virus-virus ideologi yang akan merusak keharmonisan sosial di tengah kemajemukan. Sebab, ideologi khilafah yang digagas oleh Abdul Qadir Hasan Baraja ini jelas sangat-sangat tidak bisa diterima di dalam masyarakat kita yang majemuk.

Kedua, pada tahun 1997, Abdul Qadir Hasan Baraja mendirikan khilafatul muslimin dengan tujuan yang sangat jelas. Yaitu ingin melanjutkan sistem kekhilafahan Islam. Bahkan, Dialah eksekutor secara ideologi yang menggagas gerakan Majelis Mujahidin Indonesia pada tahun 2000 yang lalu. Pun, tujuannya sama yaitu ingin menegakkan negara khilafah.

Dari ini cukup jelas sekali, Bahwa tujuan-nya adalah (membangun sebuah negara). Membawa satu label agama untuk menguasai negara ini dan menginsiatif dirinya sebagai seorang pemimpin khilafah di negeri ini. Maka, tindakan apa yang paling tepat, kecuali menangkap seorang yang jelas-jelas ingin merebut tatanan ini. Dengan membawa ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI. Yaitu negara berbungkus agama.

Ketiga, keputusan pemerintah menangkap Abdul Qadir Hasan Baraja, sebagai seorang pemimpin tertinggi di dalam khilafatul muslimin, adalah jalan untuk memberantas secara organisir. Sehingga, akan jauh lebih mudah untuk melarang aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan ideologi yang bertentangan dengan ideologi bangsa tersebut. Hal ini sama dengan kasus penangkapan Habib Rizeq, sebagai petinggai FPI yang kini sudah terkubur.

Maka, untuk membangun regulasi pelarangan segala aktivitas yang basis-nya ideologi adalah menangkap “aktor intelektual” di balik penggagas ideologi tersebut. Seperti yang kita lihat saat ini. Terkait kasus penangkapan seorang pemimpin tertinggi khilafatul muslimin tersebut.

Keempat, pada 1 Januari 1979, Abdul Qadir Hasan Baraja ditahan selama 3 tahun. Akibat tindak pidana terorisme dalam gerakan bom teror Warman. Juga, pada awal tahun 1985, dia ditangkap dan ditahan selama 13 tahun dalam kasus bom di Jawa Timur dan Borobudur. Artinya apa? kalau kita pahami, semua napi terorisme ketika bebas dari penjara itu pasti harus melantunkan sumpah-janji. Tetapi, itu berulang kembali.            

Maka, saat ini dia kembali ditangkap oleh aparat yang berwajib. Terkait peran dirinya sebagai penggagas atau “aktor intelektual” ideologi khilafatul muslimin. Dialah yang menggerakkan masa untuk melakukan konvoi menegakkan negara khilafah. Yaitu ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI. Maka, di samping penangkapan itu sebagai keputusan yang sangat tepat, juga regulasi hukum untuk melarang akar-buntutnya akan jauh lebih mudah.

Facebook Comments