4 Cara Menanggulangi Paham Radikal di Lingkungan Pemerintahan

4 Cara Menanggulangi Paham Radikal di Lingkungan Pemerintahan

- in Suara Kita
633
0
4 Cara Menanggulangi Paham Radikal di Lingkungan Pemerintahan

Radikalisme merupakan salah satu persoalan yang tak akan pernah habis untuk dibahas dan didiskusikan sampai kapanpun. Pasalnya, ia tidak sekadar suatu paham melainkan bertransformasi menjadi sebuah gerakan yang kerap membahayakan, bukan hanya pada masyarakat tetapi juga pemerintah melalui aksi-aksi heroiknya, yakni kekerasan, memaksakan kehendak hingga aksi terorisme.

Maraknya paham dan gerakan radikalisme ini, tidak bisa dilepaskan dari kemajuan teknologi. Dimana kemajuan tersebut memberikan kemudahan bahkan segala kebutuhan setiap orang dapat dengan mudah diakses lewat teknologi. Ini berarti, tantangan bangsa Indonesia ke depannya semakin berat, khususnya ihwal paham-paham yang bertentangan dengan falsafah bangsa (Pancasila).

Ironisnya, paham radikal ini tidak sekadar menjangkiti para pelajar, masyarakat dan remaja. Tetapi juga para Aparatur Sipil Negara (ASN) pun mulai terkontaminasi akan paham tersebut. Tentu, pertanyaan yang muncul dalam benak, bukankah mereka (para ASN) telah berikrar untuk patuh dan tunduk serta mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sebelum menjadi aparat pemerintah? Bahkan lebih dari itu, bukankah mereka merupakan benteng terhadap keutuhan dan kesatuan bangsa?

Tentu kebanyakan orang akan menjawab Ya, mereka memang berikrar untuk setia menjadi benteng pertahanan terhadap NKRI dan Pancasila. Namun fakta di lapangan, bertolak belakang dengan ikrar yang mereka ucapkan. Sebagaimana pada Oktober 2018 lalu, hasil survei Setara Institut menunjukkan bahwa; terdapat 19,4 persen ASN di 6 kota yang tidak setuju dengan ideologi Pancasila.

Melihat kenyataan tersebut, menjadi suatu keniscayaan (wajib) untuk menanggulanginya. Bukan sekadar bagi pihak berwajib melainkan juga seluruh elemen masyarakat, mengingat dampak yang ditimbulkan paham atau gerakan radikal ini sangat membahayakan terhadap keutuhan dan kesatuan NKRI serta ideologi Pancasila yang telah lama diperjuangkan.

Di antara cara yang bisa dilakukan adalah: Pertama, membentuk forum-forum kerukunan antar seluruh umat dan tim penanggulangan terorisme. Dengan kata lain, pemerintah baik daerah maupun pusat harus bekerja sama dengan masyarakat untuk menangkal maraknya tindakan radikalisme baik yang sifatnya individu maupun kelompok.

Kedua, penguatan akan wawasan kebangsaan. Karena, wawasan kebangsaan merupakan suatu cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya, mengutamakan kesatuan dan persatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Selain itu, wawasan kebangsaan juga mengamanatkan kepada seluruh elemen bangsa agar menempatkan kesatuan, persatuan serta kepentingan adan keselamatan bangsa dan negara di atas segala-galanya, baik kepentingan pribadi maupun kelompok yang dapat merugikan terhadap bangsa Indonesia.

Ketiga, penguatan literasi digital. Apalagi, di tengah berkembangnya teknologi bukan tidak mungkin mereka mudah terpapar paham-paham radikal. Karenanya, selain dapat membentengi diri dari berbagai informasi Hoax, hasutan dan ujaran kebencian, juga dapat mendorong mereka untuk melakukan kreativitas dalam memproduksi konten-konten digital yang bernuansa positif sebagai daya tangkal dari paham radikal.

Pun, pemerintah harus melakukan pemantauan dan pencegahan dini terhadap segala aktivitas kelompok-kelompok tertentu yang berpotensi menyebarkan serta mempropaganda paham-paham radikal-ekstremis, khususnya di lingkungan pemerintahan.

Keempat, memberikan pemahaman tentang arti penting bela negara. Sebab, di dalamnya terkandung nilai-nilai yang dapat melahirkan sikap rasa cinta terhadap bangsa dan negara Indonesia, juga mampu membangun rasa nasionalisme yang kokoh bagi para Aparatur Sipil Negara khususnya. Dengan demikian, ia mampu menjadi fondasi utama untuk menanggulangi maraknya paham-paham radikal yang sampai saat ini masih menjamur bak virus di negeri ini.

Apabila keempat hal tersebut sudah terpatri dalam diri setiap individu masyarakat dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka bukan mustahil paham radikal yang menjangkiti Aparatur Sipil Negara (ASN) lambat-laun akan terkikis dengan sendirinya. Wallahu A’lam

Facebook Comments