4 Strategi Dakwah yang Bisa Merawat Kebhinekaan dan Kearifan Lokal

4 Strategi Dakwah yang Bisa Merawat Kebhinekaan dan Kearifan Lokal

- in Suara Kita
230
0

Viral-nya sebuah video yang memperlihatkan seorang Pria penendang sekaligus pembuang sesajen, di sekitar lokasi Erupsi Gunung Semeru itu, setidaknya akan berdampak buruk ke dalam dua hal. Pertama, tindakannya yang semacam itu, akan merobek sekaligus melukai pranata-sosial kebhinekaan kita. Kedua, keputusan yang semacam itu bersifat (destruktif), terhadap kearifan lokal, yang sejatinya (tidak pernah dilakukan) oleh para penyebar Islam terdahulu di Nusantara.

Namun, secara khusus, kasus di atas sejatinya memberikan pelajaran penting bagi kita. Yaitu, betapa pentingnya konsep berdakwah yang begitu santun, menghargai perbedaan dan mampu merawat kearifan lokal di negeri ini. Agar tidak berdampak buruk ke dalam dua hal yang saya sebutkan tadi. Sebagaimana, ada 4 strategi dakwah yang harus kita lakukan.  

Pertama, dakwah yang mengedepankan kebijaksanaan diri. Dalam arti pemahaman, di dalam berdakwah, itu ada semacam pelibatan ilmu, sekaligus pertimbangan secara etika, moral, melihat realitas sosial dan mempertimbangkan kemanusiaan tentunya. Sebab, di tengah realitas sosial-masyarakat yang kental dengan basis kultural atau kearifan lokal, sekaligus kental dengan perbedaan. Di situ kita tidak bisa mudah bersikap destruktif. Apalagi sampai menendang dan menghancurkan ritual tertentu.

 Karena, tindakan yang semacam itu, sama saja ingin membawa ajaran agama yang memiliki dampak kepada (konflik, perpecahan dan ketegangan sosial) di tengah kemajemukan. Yaitu merusak kebhinekaan. Jadi, optimal-kan dakwah yang selalu mengedepankan kebijaksanaan diri.  

Kedua, dakwah mengoptimalkan kemaslahatan dan menjauhi kemudharatan. Sebagaimana, hal yang sering-kali menjadi kelalaian seorang pendakwah, adalah berdakwah dengan memiliki niat mengajarkan kebaikan agama. Tetapi, berujung kepada (kemudharatan). Misalnya, dakwah yang condong menghina, membenci atau-pun melecehkan kepercayaan atau tradisi agama lain, mengatasnamakan kebenaran-Nya yang ingin didakwahkan-nya.

Padahal, point utama dalam dakwah adalah mengajak umat ke dalam nilai-nilai agama yang bisa membawa kemaslahatan. Bukan justru berdampak kepada kemudharatan. Sebagaimana sikap yang mengedepankan ego tanpa berpikir ulang. Karena penuh sentiment, begitu eksklusif, radikal dan intolerant dalam setiap dakwahnya. Hingga, hal-hal yang seharusnya membawa kebaikan, justru berujung pada kemudharatan.

Ketiga, pentingnya dakwah yang egalitarian. Artinya, ini menjadikan satu point penting dalam membangun dakwah di negeri ini yang sekiranya menjaga keragaman agar tidak berpecah-belah. Sebagaimana, egalitarian ini mengacu kepada sunnatullah akan keragaman. Jadi, jangan memaksakan kehendak agar orang lain mengikuti ajaran kita lalu merusak apalagi bertindak radikal agar orang lain sejalan dengan kita.

Jadi berdakwah-lah dengan egalitarian. Yaitu, dakwah yang mengacu ke dalam satu siklus, Di mana, di tengah perbedaan umat bisa diajak untuk bisa saling menghargai. Mengajak umat untuk hidup damai, hidup harmonis, saling menjaga dan tanpa konflik dan pertumpahan darah. Artinya, dakwah ini memiliki spirit keagamaan yang membawa rahmat.

Keempat, dakwah bersifat internalisasi ajaran agama ke dalam nilai-nilai kultural. Sebagaimana, metode dakwah para penyebar Islam di Nusantara. Yaitu menghidupi kultural masyarakat dengan “ruh” atau sublimasi nilai-nilai agama di dalamnya. Hal ini, agar bisa membangun puncak kekuatan religiositas masyarakat yang begitu erat secara kultural.

Karena, berdakwah dengan tetap menjaga kearifan lokal sejatinya akan membangun spirit keagamaan yang bisa menumbuhkan semangat nasionalisme. Salah satu contoh di bumi Nusantara ini. Karena, internalisasi ajaran-Nya ke dalam basis kultural, sejatinya akan membuat masyarakat semakin nasionalis sekaligus religious. Karena, ini salah satu konsep penyebaran Islam yang paling sukses di Nusantara tanpa pertumpahan darah dan paksaan.

Maka, dari empat (4) strategi dakwah inilah, niscaya kita akan bisa menjaga kebhinekaan kita terjaga. Sekaligus kita bisa menjaga kearifan lokal agar tetap hidup. Karena, kearifan lokal menjadi identitas simbolis terpenting bagi kita yang terkenal ramah, bijaksana, sopan dalam bertutur-kata dan penuh tolerant. Begitu juga dengan kebhinekaan kita sangat perlu kita jaga. Agar, negeri ini aman dari konflik dan pertumpahan darah di tengah kemajemukan yang ada.

Facebook Comments