5 Alasan Kenapa Anak Muda Mudah Tersesat ke Jalan Teror?

5 Alasan Kenapa Anak Muda Mudah Tersesat ke Jalan Teror?

- in Suara Kita
248
0
Pemberitaan yang melibatkan seorang anak kecil dan juga generasi milenial yang terpapar dan memilih bergabung dalam jaringan dan aksi radikalisme bukanlah hal baru. Bahkan beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2018 seorang orang tua malah membawa turut serta anaknya dalam menjalankan aksi bom bunuh diri. Memang harus diakui bahwa, kelompok-kelompok radikalisme dan ekstremisme masih bergerak dan aktif melakukan rekrutmen di Indonesia. Kelompok-kelompok ini yang secara nyata berafiliasi ke ISIS atau jaringan teroris lainnya. Kelompok ini akan terus mencari anggota baru untuk melakukan kaderisasi dan memperbesar kekuatan mereka. Anak-anak dan pemuda dinilai sebagai bibit yang empuk. Kenapa memilih anak-anak dan pemuda? Melatih anak-anak dari kecil, militansi, rasa solidaritas dan kecintaannya terhadap kelompoknya akan membuat mereka kuat dan tidak mudah goyah. Sementara pemuda secara psikologis sering mengalami guncangan situasional yang membutuhkan jawaban tentang identitas dan kebersamaan. Itulah sebab mengapa banyak anak-anak maupun generasi muda banyak tersesat ke jalan teror. Fenomena ini terjadi karena, seorang anak atau generasi milenial rentan terhadap kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya. Banyak alasan memang mengapa anak kecil sampai generasi milenial memilih jalan terror untuk menjalani kehidupannya. Setidaknya ada 5 alasan: Pertama, sebagai korban dari ketidakadilan. Banyak dari anak-anak dan pemuda yang memilih jalan teror merupakan korban lingkungan baik keluarga, pertemenan dan lingkungan sosial. Banyak dari mereka yang dikucilkan menjadi korban bully sehingga merasa sendiri dan butuh pertemanan yang lebih nyaman. Mereka sudah menyimpan dendam dalam hatinya sehingga tidak merasakan nikmatnya kemerdekaan di negaranya dan rasa cinta tanah air bukanlah hal yang istimewa bagi mereka. Ketika di masa kecilnya mereka sudah merasakan persepsi ketidakadilan, ketika remaja mereka menggebu-gebu dengan semangat idealisme untuk perubahan. Karena itu organisasi yang merekrut teroris di seluruh dunia menggunakan ide perubahan secara revolusioner dengan ingin melakukan balas dendam sebagai dorongan untuk mendorong gairah di antara rekrutan mereka. Kedua, pencarian jati diri. Kasus terror yang melibatkan anak-anak serta generasi milenial mampu tumbuh subur seperti ini dikarenakan mereka relatif sedang dalam tahapan pencarian jati diri. Studi the United States Institute of Peace pada tahun 2010 bahwa 2.032 para pejuang asing (foreign fighter) jaringan al-Qaeda kalangan mahasiswa, pelajar dan remaja yang sedang mempertanyakan identitas dirinya. Persepsi ini tentu menjadi jawaban bahwa bukan sekedar karena tingkat Pendidikan rendah, tetapi proses seseorang mencari identitas dan jati diri dalam kelompoknya. Kelompok-kelompok teror sengaja menyasar kampus lantaran rata-rata mahasiswa masih dalam taraf mencari paradigma baru dalam memahami agama dan perubahan, sementara kurikulum di perguruan tinggi kurang memadai untuk memenuhi keingintahuan mereka. Karena itulah banyak mahasiswa yang mencari jawabannya di luar kampus atau ataupun jika mereka mencari di lingkungan kampus, biasanya melalui jalur informal, seperti alumni atau orang luar kampus buat kajian di dalam kampus. Selain itu, regenarasi keanggotaan mudah untuk dilakukan tanpa control dari institusi pendidikan. Ketiga, mereka yang membutuhkan perasaan kebersamaan. Kelompok teroris pandai memanfaatkan para remaja yang sedang galau terhadap kondisi emosionalnya. Intinya mereka ingin mencari kebersamaan keluarga yang kadang tidak mereka dapatkan di keluarga intinya. Contohnya, seorang anak dari kalangan keluarga kaya raya yang terfasilitasi semua kebutuhannya, namun komunikasi dengan orang tuanya sangatlah minim, sampai ia berfikir tidak ada yang berarti dalam hidupnya, tidak ada yang perlu di perjuangkan lagi. Dan ketika ia menjadi seorang mahasiswa, iapun berharap memiliki lingkungan yang bisa memperhatikannya. Di sinilah, organisasi teroris akan memberikan perhatian yang terbaik bagi dirinya sehingga si anak akan mau memberikan apapun yang ia miliki demi sebuah kebersamaan. Inilah menariknya organisasi teroris bagi sebagian masyarakat yang rentan karena mampu merangkul mereka dan seolah memberikan solusi kebahagiaan. Ada rasa afiliasi yang kuat ketika kaum muda bergabung di dalamnya dan menciptakan kebersamaan, karena setiap tindakan diawasi dan setiap tindakan dihargai. Setiap pembicaraan, setiap pemikiran dicari oleh para “sesepuh” di organisasi-organisasi ini. Seseorang yang tidak memiliki arti sebenarnya dalam hidup sekarang memiliki tujuan yang pasti. Keempat, mereka yang sedang mencari sensasi dan kegagahan. Terdapat sebuah studi yang dilakukan oleh Institut Perdamaian Amerika Serikat. Terdapat 2032 teroris muda yang diwawancarai, dan kurang lebih 100 orang di antaranya bergabung karena rasa bosan. Anak-anak muda, biasanya dari kalangan menengah ke atas yang kecanduan video game kekerasan dan cerita heroik peperangan. Pada akhirnya, anak-anak ini akan memutuskan untuk bergabung dengan organisasi untuk membunuh kehampaan mereka untuk tujuan yang mereka anggap adil. Rasa militansi dan heroisme serta ingin menjadi pejuang perubahan dalam bentuk yang gagah dan berani menjadi impian. Kelompok radikal terorisme secara cerdas memberikan pembenaran dan justifikasi ideologis dan dalil untuk mengangkat moral heroik para pemuda untuk tampil membawa senjata dan melakukan latihan militer. Itulah sebuah kebanggaan. Kelima, mereka yang menaruh simpati pada kelompok radikal-teroris melalui internet. Faktor terakhir ini tentu menjadi problem besar bersama. Banyak dari remaja yang menghabiskan waktu di media online bertemu dengan konten-konten yang memprovokasi dan menyebar kebencian. Narasi hasutan, provokasi, dan radikalisme dengan mudah bertebaran di dunia maya. Lima pintu masuk di kalangan generasi muda ini penting ditutup bersama oleh seluruh pihak. Harus ada desain untuk memberikan rasa nyaman, pemberian identitas serta kebangaan anak muda untuk menjadi seorang pejuang. Bedanya, semangat idealisme dan heroisme ini harus diarahkan kepada perjuangan menegakkan perdamaian, bukan kerusakan.

Pemberitaan yang melibatkan seorang anak kecil dan juga generasi milenial yang terpapar dan memilih bergabung dalam jaringan dan aksi radikalisme bukanlah hal baru. Bahkan beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2018 seorang orang tua malah membawa turut serta anaknya dalam menjalankan aksi bom bunuh diri.

Memang harus diakui bahwa, kelompok-kelompok radikalisme dan ekstremisme masih bergerak dan aktif melakukan rekrutmen di Indonesia. Kelompok-kelompok ini yang secara nyata berafiliasi ke ISIS atau jaringan teroris lainnya. Kelompok ini akan terus mencari anggota baru untuk melakukan kaderisasi dan memperbesar kekuatan mereka. Anak-anak dan pemuda dinilai sebagai bibit yang empuk.

Kenapa memilih anak-anak dan pemuda? Melatih anak-anak dari kecil, militansi, rasa solidaritas dan kecintaannya terhadap kelompoknya akan membuat mereka kuat dan tidak mudah goyah. Sementara pemuda secara psikologis sering mengalami guncangan situasional yang membutuhkan jawaban tentang identitas dan kebersamaan.

Itulah sebab mengapa banyak anak-anak maupun generasi muda banyak tersesat ke jalan teror. Fenomena ini terjadi karena, seorang anak atau generasi milenial rentan terhadap kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya. Banyak alasan memang mengapa anak kecil sampai generasi milenial memilih jalan terror untuk menjalani kehidupannya. Setidaknya ada 5 alasan:

Pertama, sebagai korban dari ketidakadilan. Banyak dari anak-anak dan pemuda yang memilih jalan teror merupakan korban lingkungan baik keluarga, pertemenan dan lingkungan sosial. Banyak dari mereka yang dikucilkan menjadi korban bully sehingga merasa sendiri dan butuh pertemanan yang lebih nyaman. Mereka sudah menyimpan dendam dalam hatinya sehingga tidak merasakan nikmatnya kemerdekaan di negaranya dan rasa cinta tanah air bukanlah hal yang istimewa bagi mereka.

Ketika di masa kecilnya mereka sudah merasakan persepsi ketidakadilan, ketika remaja mereka menggebu-gebu dengan semangat idealisme untuk perubahan. Karena itu organisasi yang merekrut teroris di seluruh dunia menggunakan ide perubahan secara revolusioner dengan ingin melakukan balas dendam sebagai dorongan untuk mendorong gairah di antara rekrutan mereka.

Kedua, pencarian jati diri. Kasus terror yang melibatkan anak-anak serta generasi milenial mampu tumbuh subur seperti ini dikarenakan mereka relatif sedang dalam tahapan pencarian jati diri. Studi the United States Institute of Peace pada tahun 2010 bahwa 2.032 para pejuang asing (foreign fighter) jaringan al-Qaeda kalangan mahasiswa, pelajar dan remaja yang sedang mempertanyakan identitas dirinya.

Persepsi ini tentu menjadi jawaban bahwa bukan sekedar karena tingkat Pendidikan rendah, tetapi proses seseorang mencari identitas dan jati diri dalam kelompoknya. Kelompok-kelompok teror sengaja menyasar kampus lantaran rata-rata mahasiswa masih dalam taraf mencari paradigma baru dalam memahami agama dan perubahan, sementara kurikulum di perguruan tinggi kurang memadai untuk memenuhi keingintahuan mereka.

Karena itulah banyak mahasiswa yang mencari jawabannya di luar kampus atau ataupun jika mereka mencari di lingkungan kampus, biasanya melalui jalur informal, seperti alumni atau orang luar kampus buat kajian di dalam kampus. Selain itu, regenarasi keanggotaan mudah untuk dilakukan tanpa control dari institusi pendidikan.

Ketiga, mereka yang membutuhkan perasaan kebersamaan. Kelompok teroris pandai memanfaatkan para remaja yang sedang galau terhadap kondisi emosionalnya. Intinya mereka ingin mencari kebersamaan keluarga yang kadang tidak mereka dapatkan di keluarga intinya. Contohnya, seorang anak dari kalangan keluarga kaya raya yang terfasilitasi semua kebutuhannya, namun komunikasi dengan orang tuanya sangatlah minim, sampai ia berfikir tidak ada yang berarti dalam hidupnya, tidak ada yang perlu di perjuangkan lagi. Dan ketika ia menjadi seorang mahasiswa, iapun berharap memiliki lingkungan yang bisa memperhatikannya.

Di sinilah, organisasi teroris akan memberikan perhatian yang terbaik bagi dirinya sehingga si anak akan mau memberikan apapun yang ia miliki demi sebuah kebersamaan. Inilah menariknya organisasi teroris bagi sebagian masyarakat yang rentan karena mampu merangkul mereka dan seolah memberikan solusi kebahagiaan. Ada rasa afiliasi yang kuat ketika kaum muda bergabung di dalamnya dan menciptakan kebersamaan, karena setiap tindakan diawasi dan setiap tindakan dihargai. Setiap pembicaraan, setiap pemikiran dicari oleh para “sesepuh” di organisasi-organisasi ini. Seseorang yang tidak memiliki arti sebenarnya dalam hidup sekarang memiliki tujuan yang pasti.

Keempat, mereka yang sedang mencari sensasi dan kegagahan. Terdapat sebuah studi yang dilakukan oleh Institut Perdamaian Amerika Serikat. Terdapat 2032 teroris muda yang diwawancarai, dan kurang lebih 100 orang di antaranya bergabung karena rasa bosan. Anak-anak muda, biasanya dari kalangan menengah ke atas yang kecanduan video game kekerasan dan cerita heroik peperangan. Pada akhirnya, anak-anak ini akan memutuskan untuk bergabung dengan organisasi untuk membunuh kehampaan mereka untuk tujuan yang mereka anggap adil.

Rasa militansi dan heroisme serta ingin menjadi pejuang perubahan dalam bentuk yang gagah dan berani menjadi impian. Kelompok radikal terorisme secara cerdas memberikan pembenaran dan justifikasi ideologis dan dalil untuk mengangkat moral heroik para pemuda untuk tampil membawa senjata dan melakukan latihan militer. Itulah sebuah kebanggaan.

Kelima, mereka yang menaruh simpati pada kelompok radikal-teroris melalui internet. Faktor terakhir ini tentu menjadi problem besar bersama. Banyak dari remaja yang menghabiskan waktu di media online bertemu dengan konten-konten yang memprovokasi dan menyebar kebencian. Narasi hasutan, provokasi, dan radikalisme dengan mudah bertebaran di dunia maya.

Lima pintu masuk di kalangan generasi muda ini penting ditutup bersama oleh seluruh pihak. Harus ada desain untuk memberikan rasa nyaman, pemberian identitas serta kebangaan anak muda untuk menjadi seorang pejuang. Bedanya, semangat idealisme dan heroisme ini harus diarahkan kepada perjuangan menegakkan perdamaian, bukan kerusakan.

Facebook Comments