Abu Bakar Ba’asyir Menerima Pancasila; Keberhasilan Deradikalisasi atau Sindrom Hipokrisi?

Abu Bakar Ba’asyir Menerima Pancasila; Keberhasilan Deradikalisasi atau Sindrom Hipokrisi?

- in Suara Kita
160
0
Abu Bakar Ba’asyir Menerima Pancasila; Keberhasilan Deradikalisasi atau Sindrom Hipokrisi?

Berita Abu Bakar Ba’asyir yang menyatakan mengakui Pancasila sebagai dasar negara Indonesia mencuat ke permukaan. Berita itu berawal dari video penggalan ceramahnya yang mengatakan bahwa dulunya ia menganggap Pancasila itu syirik atau kafir, namun sekarang ia mengakui Pancasila lantaran telah disetujui para ulama. Ba’asyir seperti kita tahu merupakan tokoh penting di balik gerakan terorisme di Indonesia.

Sejak era tahun 1990-an, namanya lekat dengan gerakan keagamaan ekstrem. Mulai dari Jamaah Islamiyyah, Majelis Mujahidin, Jamaah Ansharud Daulah, Jamaah Ansharut Tauhid, hingga terakhir ia diketahui berbaiat pada ISIS. Ia menjadi tokoh sentral dalam gerakan terorisme yang menebar kekerasan sejak dua dekade terakhir di negeri ini. Ia keluar dari penjara sejak 8 Januari 2021 lalu setelah 10 tahun mendekam dalam jeruji besi lantaran terlibat kasus terorisme.

Menanggapi pernyataan Ba’asyir yang mengakui Pancasila sebagai dasar negara tentu harus mengedepankan sikap kehati-hatian dan nalar kritis. Bagaimana pun, menilik rekam jejaknya di gerakan terorisme, tidak mudah untuk begitu saja mempercayai pernyataannya yang mengakui Pancasila. Rekam jejaknya sebagai punggawa terorisme sampai kapan pun tidak akan pernah kita lupakan. Semua jejak digital ceramahnya yang keras ialah bukti tidak terbantahkan bahwa Ba’asyir ialah sosok yang keras hati namun memiliki pendirian yang teguh.

Ba’asyir dan Keberhasilan Deradikalisasi

Maka, di satu sisi, kita bisa membaca pernyataan Ba’asyir yang mengakui Pancasila ini sebagai bagian dari keberhasilan program deradikalisasi bagi narapidana terorisme (napiter). Harus diakui bahwa program deradikalisasi napiter yang selama ini dijalankan oleh Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT) dalam banyak hal bisa dikatakan berhasil. Indikasinya ialah banyaknya napiter yang kembali mengucap ikrar setia pada NKRI dan meninggalkan gerakan radikal-teror yang sempat diyakininya.

Dalam konteks ini kita bisa menyebut sejumlah nama mantan teroris yang kini berbalik arah menjadi agen-agen anti-terorisme berkat program deradikalisasi. Antara lain, Abdurrahman Ayub, Sofyan Tsauri, Nassir Abbas, Ali Fauzi, dan Ali Imron. Nama-nama itu kini aktif terlibat dalam kampanye anti-terorisme. Ini membuktikan bahwa program deradikalisasi dengan pendekatan lunak dan berkelanjutan membawa dampak positif.

Pernyataan Ba’asyir yang mengakui Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu indikasi bahwa ia telah “bertaubat” dari pandangan atau ideologi ekstrem yang dulu ia pegang teguh. Jika mengutip pernyataan Noor Huda Ismail, yang merupakan pengamat terorisme, seorang terpidana terorisme bisa saja mengalami perubahan pandangan ketika dipenjara. Perubahan ini terjadi karena sejumlah faktor. Antara lain, adanya pemahaman baru yang ia dapatkan dari lingkungan penjara. Misalnya, di penjara ia bertemu dengan seoarang non-muslim yang baik hati, atau berkawan dengan Polisi yang dermawan.

Pengalaman empirik itu, menurut Ismail bisa membuka mata hati napiter untuk kemudian mengubah pandangan ideologisnya. Seperti kita tahu, pada umumnya individu yang terlibat gerakan radikal-terorisme memiliki kebencian pada kaum non-muslim dan aparat keamanan, terutama Polisi yang dianggap sebagai kepanjangan tangan rezim taghut.

Selain itu, perubahan pandangan itu juga bisa terjadi karena program deradikalisasi yang dijalankan pemerintah. Adanya perjumpaan dan diskusi dengan orang yang berpandangan nasionalis dan moderat secara terus-menerus nyatanya berhasil mengubah cara pandang napiter dalam memahami hakikat agama (Islam), Indonesia, dan Pancasila.

Waspada Gejala Hipokrisi

Namun, di sisi lain kita juga patut curiga bahwa pernyataan Baa’syir yang menerima Pancasila sebagai dasar negara ini tidak lebih dari sindrom hipokrisi alias kemunafikan. Kecurigaan ini tidak dimaksudkan untuk membangun prasangka, namun lebih sebagai bentuk kewaspadaan mengingat rekam jejak Ba’asyir yang lekat dengan citra teroris. Ini artinya, kita tidak boleh sepenuhnya percaya secara mutlak terhadap pernyataan Ba’asyir lantas lupa untuk mengawasi gerak-geriknya.

Gejala hipokrisi ini banyak terjadi di kalangan napiter. Awalnya, mereka bersedia menerima Pancasila sebagai dasar negara dengan kepentingan tertentu. Misalnya sebagai syarat pembebasannya dari penjara. Cilakanya, beberapa waktu pasca keluar penjara, mereka kembali ke jalan sesat yakni bergabung ke gerakan terorisme. Sindrom hipokrisi inilah yang patut kita waspadai dari pernyataan Ba’asyir yang mau menerima Pancasila.

Kita tentu patut mengapresiasi pernyataan Ba’asyir yang akhirnya mau menerima Pancasila sebagai dasar negara. Pernyataan ini kiranya bisa menjadi inspirasi bagi para napiter lain untuk bertaubat dan kembali mendukung NKRI dan Pancasila. Namun, sekali lagi pernyataan itu tidak boleh membuat kita lengah untuk terus mengawasi segala ucapan dan perbuatan Abu Bakar Ba’asyir. Selalu ada kemungkinan bagi para napiter untuk kembali ke gerakan terorisme. Fakta itu merupakan kenyataan yang tidak bisa dibantah.

Facebook Comments