Abu Bakar Baasyir, Pancasila dan Peran Deradikalisasi

Abu Bakar Baasyir, Pancasila dan Peran Deradikalisasi

- in Narasi
274
0
Abu Bakar Baasyir, Pancasila dan Peran Deradikalisasi

Pada video yang beredar viral di media sosial (01/08), Abu Bakar Baasyir (selanjutnya disebut ABB) menerima Pancasila sebagai ideologi negara yang sesuai dengan ajaran tauhid dalam Islam. Sehingga, negara Indonesia dianggap dapat ditata sesuai aturan yang bersumber pada prinsip-prinsip ketuhanan sebagaimana telah diatur dalam Pancasila.

Ini menjadi tanda keberhasilan proses deradikalisasi yang dilakukan pemerintah kepada ABB sebagai mantan pentolan teroris di Indonesia. Karena dalam perjalanannya sangat sulit untuk memberikan pengaruh (deradikalisasi) terhadap ABB akan pentingnya ideologi Pancasila dan NKRI.

Di masa-masa akhir proses penahanannya, tanggal 13 Desember 2018, ABB telah memenuhi perhitungan dua pertiga masa hukuman untuk mekanisme pembebasan bersyarat. Sehingga secara hukum boleh dibebaskan. Kemudian pada awal tahun 2019, ABB sempat mendapat penawaran bebas dari pemerintahan Joko Widodo dengan syarat, ia mau menandatangani perjanjian agar setia dengan Pancasila. Namun menurut Yusril Ihza Mahendra selaku pengacara Jokowi, Abu Bakar Baasyir menolak syarat tersebut sebagimana dilansir dari Tirto.id (08/01/21).

Artinya, ketika itu pemahaman ABB akan konsep negara adalah senantiasa sama dengan konsekuensi hukum ketika ia berada di dalam penjara (sebagai seorang narapidana teroris), yakni Pancasila dan sistem Pemerintahan Indonesia menurutnya itu adalah Thogut. NKRI harus diubah karena baginya tidak sesuai dengan syariat Islam.  

Sebagai mantan CEO Majelis Mujahidin Indonesia dan Jamaah Ansharut Tauhid, ia banyak terlibat dalam aksi-aksi terorisme, seperti Bom Bali 1 tahun 2001 dan Bom JW Marriot di tahun 2003 serta menjadi aktor yang invisible (tidak tampak) dalam berbagai aksi terorisme yang lainnya di Indonesia. Ia memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap anggotanya yang militan.

Pancasila dan Peran Deradikalisasi

Sejak zaman Presiden Soeharto, ABB banyak melakukan kegiatan makar yang berpotensi memecah belah bangsa. Hingga pada tahun 1983, ia ditangkap karena kasus penghasutan penolakan terhadap Pancasila bersama Abdullah Sungkar. Ia menjadi bagian dari kelompok separatis yang berusaha meruntuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengganti pancasila dengan syariat Islam.  

Pasca keluar, ia kemudian pergi ke Malaysia dan tinggal di sana selama 17 tahun dan mendirikan Jemaah Islamiyah di Malaysia. ABB kemudian Kembali ke Indonesia pada tahun 1999 di masa pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Begitu strategis peran dan rekam jejaknya dalam menelurkan organisasi radikal yang tak hanya di Indonesia, bahkan di luar negeri.

Proses deradikalisasi ini senantiasa melalui penguatan pemahaman terhadap Pancasila. Sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2019 ihwal Pencegahan Tindak Pidana Terorisme dan Perlindungan Terhadap Penyidik, Penuntut Umum, Hakim, dan Petugas Pemasyarakatan.

Deradikalisasi ini dilaksanakan kepada tersangka, terdakwa, terpidana, narapidana, mantan narapidana, dan orang atau kelompok yang sudah terpapar paham radikal terorisme. Dengan Pancasila inilah akhirnya banyak dari para teroris yang lain sembuh dari keterpaparan virus radikal terorisme.

Ketika isu pemberitaan pembebasan ABB dari penjara, sebagian pengamat ketar ketir, namun banyak pula yang menggapnya biasa karena faktor semakin melemahnya fisik Baasyir. Karena pasca keluarnya ABB dari Penjara, salah satu pengamat intelijen dan keamanan, Stanislaus Riyanta menilai upaya negara untuk melakukan pembinaan melalui deradikalisasi kepada Ba’asyir tidak akan efektif. Sebab, menurutnya, Ba’asyir telah memandang negara adalah musuhnya.

Selain itu, baginya hanya sekitar 30 persen teroris yang insaf karena program deradikalisasi. Hal itu pun dibuktikan dengan Ba’asyir yang tidak mau menandatangani kesetiaannya kepada ideologi Pancasila dan NKRI. Jika dibandingkan melakukan hal seperti itu, dirinya menyarankan agar pemerintah melakukan pendekatan kepada keluarganya supaya Ba’asyir tidak melakukan tindakan serupa. Selain itu, agar dapat putus kontak dengan rekannya yang masih terlibat dalam aksi terorisme.

Namun analisis intelijen ini ternyata meleset, buktinya ABB sekarang sudah menerima Pancasila dan ini bisa menjadi motivasi bagi para mantan jamaahnya yang masih militan untuk mengikuti jejak langkahnya.

Penerimaan ABB terhadap Pancasila seketika menjadi bukti akan pentingnya gerakan deradikalisasi lintas sektor, khususnya oleh pemerintah. Pelan tapi pasti, dari sosok yang sangat getol menolak Pancasila hingga akhirnya khusnul khotimah menerima Pancasila sebagai satu-satunya ideologi yang relevan dengan syariah.

Akhirnya pemahaman akan Pancasila Baasyir sama halnya dengan para ulama moderat yang memahami bahwa jika syariah Islam tidak bisa ditegakkan di dalam dasar negara (Pancasila), maka nilai-nilai Islam tidak boleh terhapus sama sekali dari dasar negara. Dan inilah nilai yang sejak awal terkandung dalam Pancasila.

Facebook Comments