Abu Bakar Ba’asyir Sudah ‘Move On’: Masa Kamu Masih Anggap Pancasila Syirik?

Abu Bakar Ba’asyir Sudah ‘Move On’: Masa Kamu Masih Anggap Pancasila Syirik?

- in Narasi
435
0
Abu Bakar Ba’asyir Sudah ‘Move On’: Masa Kamu Masih Anggap Pancasila Syirik?

Siapa yang tak kenal Abu Bakar Ba’asyir? Ya. Ia adalah pentolan, ideolog dan inspirasi gerakan radikalisme di Indonesia. Ketenaran Abu Bakar Ba’asyir semakin melekat dibenak masyarakat Indonesia lantaran ia kekeuh mempropagandakan bahwa ideologi Pancasila itu syirik.

Beberapa waktu lalu, Ba’asyir mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan, terlebih bagi kelompok radikalis-teroris yang selama ini mengkafirkan ideologi Pancasila. Bagaimana tidak. Abu Bakar Ba’asyir justru akui Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Sontak saja pernyataan Ba’asyir tersebut menjadi trending di berbagai platform media online dalam sepekan terakhir. Dengan penuh kesadaran, Abu Bakar Ba’asyir (ABB) mengakui Pancasila sebagai ideologi yang ‘senafas’ dengan Islam.

“Indonesia berdasar Pancasila itu mengapa disetujui ulama, karena dasarnya tauhid, Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini pun pengertian saya terakhir,” kata Abu Bakar Ba’asyir berbicara menggunakan mikrofon, seperti dalam video yang telah banyak beredar di media sosial.

Ucapan ABB tersebut telah dikonfirmasi kebenarannya oleh keluarga dan lain sebagainya. Fenomena titik balik ABB akui Pancasila seharusnya mampu meng-insyafkan minimal para pengikutnya yang selama ini mempertentangkan Pancasila dengan nilai-nilai Islam.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sang ‘maestro’ saja sudah move on dari pandangan yang menganggap Pancasila itu syirik, masa kamu masih saja betah mempertahankan ideologi lemah, yang menyebutkan Pancasila itu bertentangan dengan agama? Mari berpikir jernih!

Menilik Rekam Jejak ABB

Pria kelahiran Jombang 17 Agustus 1938 itu dikenal sebagai tokoh agama dan orang yang paling getol menentang ideologi Pancasila. Berpuluh-puluh tahun lamanya Abu Bakar Ba’asyir (ABB) mendakwahkan ideologi bahwa Pancasila itu bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Dari pemikirannya itu, telah menginspirasi berbagai kejadian teror yang terjadi di republik ini. Seolah tak ingin kehilangan pengaruhnya, pada tahun 1972, Ba’asyir mendirikan Ponpes Al Mukmin Ngruki di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Bahkan ABB juga terlibat aktif menggerakkan orang dengan menjadi Ketua Organisasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Dari sini, ABB mempunyai pengaruh amat besar. Ideologi radikal pun bisa disebut ‘subur’ berkat kegigihan ABB dalam menyebarkannya.

Sebelum mengakui Pancasila diujung usianya yang mulai menua, Abu Bakar Ba’asyir sebelumnya pernah dicap sebagai teroris. Hal itu terjadi lantaran sepak terjangnya, yang dimulai saat Soeharti berkuasa. ABB menjadi sosok terdepan dalam penentangan kebijakan asas tunggal Pancasila era orde baru (Juansyah, 2014).

Tidak hanya sampai di situ, pesona Ba’asyir kembali mencuri perhatian khalayak ketika dunia dihadapkan pada perang global melawan terorisme dikomandoi oleh Amerika Serikat. Perannya yang sangat dominan dalam dakwah anti-Pancasila, menjadikan Ba’asyir dituduh banyak terlibat dalam kelompok dan aksi para terorisme yang terjadi di Indonesia.

Karena hal tersebut, jiwa aktivis Ba’asyir seolah menari-nari. Walhasil, ia pun melawan dengan mengatakan bahwa negara yang mayoritas berpenduduk muslim ini adalah kafir. Karena sikap dan pikiran yang menentang itulah, ia kerap keluar-masuk penjara sebelum akhirnya ia ‘insyaf’.

Mengupas Beberapa Pemikiran ABB

Abu Bakar Ba’asyir memang sudah merivisi pemikirannya dan telah mengakui Pancasila itu sejalan dengan agama. Harusnya ini menjadi akhir sebuah narasi kelompok radikal yang kerap mempertengkan Pancasila dan agama.

Namun, kiranya perlu juga sedikit mengulik pemikiran Abu Bakar Ba’asyir sebelum akhirnya ia akui bahwa pemikiran lama itu salah. Berikut beberapa pemikiran ABB yang kini sejatinya tidak relevan lagi, namun ini penting untuk sebuah pembelajaran.

Pertama, menolak setia pada Pancasila. Inilah salah satu pemikiran utama ABB. Karena pemikiran ini, banyak orang atau simpatisannya mengkafirkan sesama pemeluk agama. Jelas, sikap dan narasi tersebut berimplikasi besar bagi ketertiban dan kedamaian dalam berbangsa dan bernegara. Bahkan bisa memicu tindak radikal-teroris.

ABB berdalih bahwa setianya hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, tidak kepada yang lain, termasuk Pancasila. Karena ABB menganggap bahwa Pancasila itu prodak kafir. Akan tetapi, pemikiran ABB tersebut ternyata tidak tepat. Kini ia pun mengatakan bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa sesuai dengan prinsip ke-Tauhidan.

Kedua, aparat dianggap thogut. ABB juga mengharamkan demokrasi. Akbibatnya, presiden negara yang beragama Islam  dan aparatnya dikatakan sebagai penguasa murtad bahkan dikatakan sebagai thogut. Mengelorakan jihad fi sabilillah sebagai cara melawan penguasa tersebut. Dari sinilah aksi-aksi terorisme yang menyerang aparat.

Ketiga, jihad. Wahyudin (2012) telah menelitik tentang pemikiran ABB. Ia pun menyimpulkan bahwa Ba’asyir tipologi pemikir yang fundamentalis-radikal. Hal ini lantaran pemikirannya yang keras, termasuk tentang konsep jihad.

Baginya hanya ada satu cara untuk menegakkan Islam yaitu dengan jalan memberlakukan hukum tatanan Negara dengan berlandasan al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa terkecuali.

Dalam pandangan Abu Bakar Ba’asyir wajib hukumnya bagi orang muslim untuk memberlakukan tatanan Negara dengan Syari’at Islam dan yang utama adalah berani berkata kebenaran di depan penguasa yang zalim serta tingkatan terendah adalah dengan diam disertai penolakan hati atas kemunkaran.

Itulah beberapa pemikiran lama (qaul qadim) Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, yang kini sudah tak relevan lagi sesuai ia mengakui Pancasila. Jika ABB sudah mendeklarasikan dan mengakui Pancasila dan tidak lagi mempertentangkannya dengan agama, masa kamu masih tetap memegang pandangan lama, yang salah?

Facebook Comments