Ada Visi Kebangsaan Dibalik Ibadah Kurban

Ada Visi Kebangsaan Dibalik Ibadah Kurban

- in Suara Kita
822
0
Ada Visi Kebangsaan Dibalik Ibadah Kurban

Telah kita ketahui bersama bahwa hakikat ibadah atau amal saleh sesungguhnya adalah tidak hanya dimensi akhirat semata, tetapi juga dimensi dunia. Keduanya sebenarnya adalah satu paket yang saling mempengaruhi satu sama lain. Pun demikian, kurban adalah salah satu ibadah yang bertujuan tidak lain dan tidak bukan untuk membentuk kesalehan baik itu ritual (habluminallah) maupun sosial (habluminannas). Artinya, ibadah kurban tidak hanya mengasah ketaatan kepada Tuhan saja. Namun, juga kepekaan sosial, menahan dari ujaran kebencian, dan upaya-upaya mewujudkan perdamaian atau harmonisasi sosial juga penting digalakkan. Terbukti, daging hewan kurban dibagikan atas dasar keadilan tanpa memandang SARA. Ini tentunya akan semakin mengasah kerukunan dan perdamaian antar agama.

Dalam Islam sendiri, ajaran Al-Qur’an banyak berkaitan dengan perdamaian berdasarkan keadilan pada segala waktu dan seluruh masyarakat baik Muslim maupun non-Muslim. Ajaran moral Al-Qur’an merupakan bentuk reformasi sosial Islam mengenai perdamaian yang pada dasarnya berusaha meningkatkan posisi dan memperkuat kondisi kaum lemah agar menjadi lebih baik (Endah, 2019). Bahkan, Wahiduddin Khan (2010) menyatakan bahwa perdamaian selalu menjadi kebutuhan dasar bagi setiap manusia yang apabila perdamaian itu terwujud maka ia hidup dan apabila perdamaian itu absen maka ia mati. Dan orang yang berpuasa tentunya dalam kehidupan sosial senantiasa menebar sikap cinta damai serta melenyapkan segala bentuk permusuhan, provokasi, ataupun ujaran kebencian.

Oleh karena itu, kedamaian merupakan hak mutlak setiap individu sesuai dengan entitasnya sebagai makhluk yang mengemban tugas sebagai pembawa amanah Tuhan (khalifah fi al-ard) untuk memakmurkan dunia ini. Apalagi di momentum ibadah kurban, yang mana sudah semestinya tak hanya berdampak pada penyucian diri, tetapi juga memberi pengaruh sosial yang besar (social impact) dalam menciptakan ekosistem perdamaian antar sesama makhluk. Kita bisa lihat saat prosesi penyembelihan, mereka bergotong royong bersatu padu dan bekerja sama satu dengan lainnya.

Kalau kita menempatkan etika sebagai prinsip universal, maka secara perlahan-lahan akan ditemukan titik temu atau kalimatun sawa’ dari agama-agama, yang merupakan etika universal yang secara esensial mengajarkan kebaikan, kasih sayang, kejujuran, keadilan, kedamaian, serta pembebasan terhadap diskriminasi dan kezaliman. Perbedaan agama sekarang bukan lagi menjadi penghalang bagi seseorang untuk mempraktekkan nilai-nilai tersebut. Dengan demikian, apa pun nama agamanya, semua menyatakan bahwa perdamaian dan kasih-sayang merupakan bagian dari etika universal. Etika yang tetap perlu dipraktekkan dalam kehidupan sosial guna mencapai tatanan kehidupan yang lebih baik dan tujuan-tujuan dalam beragama menjadi manusiawi dan realistis.

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa Rasulullah SAW diutus oleh Allah untuk menebarkan kasih sayang: ”dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Q.S. Al-Anbiya: 10). Dalam hal ini, Zuhairi Misrawi menyatakan bahwa ada dua hal utama yang perlu diketahui dari ayat tersebut. Pertama, makna rahmatan. Secara linguistik, rahmatan berarti kelembutan dan kepedulian (al-riqqah wa al-ta’aththuf).

Kedua, makna lil alamin. Para ulama berbeda pendapat dalam memahami ayat ini. Ada yang berpendapat bahwa cinta kasih Rasulullah SAW hanya untuk orang muslim saja. Tapi ulama lain berpendapat bahwa cinta kasih Rasulullah saw untuk semua umat manusia. Hal ini mengacu pada ayat terdahulu yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk seluruh umat manusia (kaffatan li an-nas). Sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menyebutkan pula bahwa “sesungguhnya saya tidak diutus sebagai pemberi laknat, tapi saya diutus untuk member rahmat”. Pun demikian dalam ajaran agama lain kiranya perdamaian merupakan etika universal semua agama. Karenanya, jelas bahwah ada banyak hikmah dibalik idul kurban diantaranya juga berkaitan dengan visi kebangsaan untuk kehidupan beragama yang harmonis.

Facebook Comments