Agama Ageman: Kapitayan dan Moderasi Beragama

Agama Ageman: Kapitayan dan Moderasi Beragama

- in Suara Kita
667
0
Agama Ageman: Kapitayan dan Moderasi Beragama

Kapitayan telah sejak lama menjadi kearifan yang diwariskan oleh bangsa Nusantara. Dalam khazanah budaya Jawa kapitayan dapat diartikan sebagai kepercayaan atau keyakinan. Tapi istilah kepercayaan atau keyakinan ini, yang merupakan istilah bahasa Indonesia dan pengadopsian istilah Arab, dapat mengaburkan arti yang sebenarnya dari istilah kapitayan yang merupakan turunan dari istilah “Taya” atau tunggal sebagai representasi Tuhan Yang Maha Esa, yang disebut sebagai “Sang Hyang Taya.” Dengan demikian, seandainya di hari ini terdapat istilah “Aliran Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa,” dalam kerangka keesaan Tuhan itulah ia semestinya dimengerti.

Secara substansial, kapitayan memang berbeda dengan agama yang tak semata berurusan dengan masalah spiritualitas, yang merupakan wilayah kapitayan, melainkan juga religiositas yang berkaitan dengan ikatan ataupun mengikat sebagaimana yang tersirat dari dari istilah religare. Dalam kerangka ini, spiritualitas yang berbasiskan agama memiliki istilah yang lain, seperti tasawuf dalam agama Islam atau gnostisme dalam agama Katolik. Jadi, dalam hemat saya, perbandingan yang tepat, ketika mesti diperbandingkan, bukanlah misalnya antara agama Islam dengan Sumarah, Harda Pusara, PDKK, ataupun aliran-aliran penghayat lainnya. Tapi semestinya antara tasawuf dengan entah Sumarah, Harda Pusara, PDKK, Sunda Wiwitan, dst. Sebab, memperbandingkan agama dengan kapitayan seperti halnya memperbandingkan penglihatan orang yang buta dengan orang yang tak buta.

Kebanyakan aliran kapitayan pun pada hakikatnya, meskipun MK telah mengabulkan gugatan mereka untuk mencantumkan identitas keyakinan mereka di KTP, tak pernah menutup diri terhadap kehadiran agama. Mereka umumnya terbuka dengan orang atau anggota dengan latar-belakang agama yang berbeda. Jadi, dalam kebanyakan aliran penghayat, perbedaan agama bukanlah sebuah persoalan. Sebab, kapitayan memang melampaui logika agama sebagaimana logika Tuhan yang jelas berbeda dengan logika agama. Dalam hal ini, al-Hikam, meskipun ditulis dalam kerangka agama Islam, memiliki tilakan yang bagus bahwa meskipun seseorang itu terlihat tak pernah menunaikan sholat (wilayah keagamaan) belum tentu kemudian neraka menunggunya (wilayah ketuhanan). Bagaimana pun, konon Tuhan memiliki hak yang mutlak atas segenap makhluknya.

Kontribusi kapitayan di Nusantara, saya kira, berkaitan dengan moderasi diri yang otomatis, ketika dikaitkan dengan agama, juga moderasi beragama. Sebab, banyak juga aliran kapitayan yang menghadirkan diri sebagai pelengkap atau melengkapi agama. Maka, dapat dipastikan bahwa tak ada satu pun data bahwa orang-orang kapitayan ataupun orang-orang yang memegang teguh kearifan lokalnya terjangkit radikalisme dan terorisme.

Radikalisme dan terorisme memang berkaitan dengan hal-hal yang dijauhi oleh kapitayan. Di samping antitoleransi atau anti-tepa sarira, radikalisme dan terorisme erat berkaitan dengan kondisi lupa diri. Sebab, pada dasarnya toleransi—yang dalam khazanah kearifan lokal dikenal dengan istilah tepa sarira—berkaitan dengan proses mengenal diri sendiri. Radikalisme dan terorisme, dalam kerangka kearifan lokal ini, merupakan tahap terendah dari proses mengenal diri sendiri yang dikenal dengan istilah nandhing sarira yang hasilnya adalah perbedaan dan bahkan pertentangan. Masing-masing orang, pada tahap ini, akan bersikap masturbasif atau mengagungkan kebenaran sendiri. Sementara pada tahap tepa sarira, yang ditunjukkan oleh kebanyakan aliran kapitayan, orang akan menemukan persinggungan yang semestinya berlanjut ke tahap mulat sarira yang berkaitan dengan salah satu hadist qudsi yang kerap dikutip oleh para sufi: “Sing sapa tambuh marang pribadine bakal wanuh marang Gustine.”

Hanya dengan spiritualitas semacam inilah, dan bukan hanya religiositas, moderasi beragama yang di hari ini tengah diidealkan di Indonesia dapat terwujud secara massif. Sebab, dengan berkaca pada orang-orang kapitayan ataupun orang-orang yang menghidupi kearifan-kearifan lokalnya, dengan keterbukaan pada kehadiran agama-agama di atas, moderasi diri dan moderasi beragama itu ternyata sudah lama dihidupi oleh mereka tanpa perlu berkoar-koar keluar laiknya para pahlawan kesiangan. Moderasi beragama itu cukup sederhana mereka istilahkan dengan ungkapan “agama iku ageman.” Bayangkanlah ketika seseorang yang bertubuh gendut memakai baju yang berukuran S, apa yang akan terjadi? Atau sebaliknya, ketika orang yang kurus memakai baju yang berukuran XXL? Demikianlah radikalisme dan radikalitas yang ternyata hanyalah masalah ketaksesuaian dalam memakai ageman atau baju.

Facebook Comments