Agar Berkorban Tak Sekadar Berkurban

Agar Berkorban Tak Sekadar Berkurban

- in Suara Kita
158
1
Agar Berkorban Tak Sekadar Berkurban

Berkurban dan berkorban dua kata yang mirip tapi memiliki makna yang sangat jauh. Jika kata yang pertama (berkurban) hanya sekadar sarana (wasilah), maka kata yang kedua (berkorban) adalah tujuan (gayah). Artinya berkurban tidaklah sekadar penyembelihan hewan tertentu, dagingnya dibagi-bagi kepada fakir-miskin, lantas berkurban selesai. Tidak. Tujuan akhir berkurban adalah pengorbanan. Pengorbanan inilah yang jadi titik simpul dari idul adha.

Pengorbanan sebagai inti dari berkurban bisa dilihat historisitas ibadah kurban itu sendiri. Sejak Nabi Adam sudah ada ibadah berkurban yang diperintahkan oleh Allah kepada anaknya, Qobil dan Habil. Kedua anak Nabi pertama ini disuruh untuk mengeluarkan penghasilan mereka sebagai ibadah kurban. Habil sebagai peternak mengeluarkan hewan pemeliharannya yang bagus-bagus, sementara Qabil yang berprofesi sebagai petani mengeluarkan buah-buahan hasil tanamannya yang busuk-busuk. Allah menerima yang pertama dan menolak yang kedua.

Anjuran untuk berkurban lantas diperintahkan kepada Ibarahim. Lewat mimpi, Allah menyuruh agar menyembeli anak tercintanya bersama Hajar, Ismail. Sebagai bentuk kepatuhan, Ibarahim, Ismail, juga istrinya Hajar, menerima dengan ikhlas penuh kepatuhan. Akan tetapi melihat keikhlasan dan kemantapan keluarga ini, Allah pun mengganti Ibarahim dengan seekor domba.

Sampai di sini bisa kita lihat, bahwa sarana berkurban itu ternyata antara satu masa berbeda-beda. Era Adam berkurban sesuai profesi anaknya; era Ibrahim bukan profesi, malah anak Ibrahim sendiri, yang kemudian diganti oleh Allah dengan domba. Baru pada masa Nabi Muhammad, Allah mensyariatkan berkurban dengan binatang tertentu. Perbedaan sarana ini menunjukkan, bahwa berkurban itu sejatinya hanyalah jalan. Sebenarnya yang diinginkan oleh Allah adalah pengorbananya.

Baca Juga : Kurban: Menyembelih Ego, Menegakkan Kemanusiaan

Inilah maksud Al-Quran, bahwa Allah tidaklah menerima daging-daging dan darah kurban, melainkan yang Allah terima adalah ketaqwaan kalian (QS. 22: 37). Ketaqwaan adalah simbol pengorbanan. Dengan kata lain, yang diterima oleh Allah itu sejatinya adalah pengorbanan kita, bukan kurbannya.

Pengorbanan Menuju Kesalehan Sosial

Pengorbanan merupakan bagian penting agama. Tak ada agama tanpa pengorbanan. Pengorbanan itu tak sekadar berbentuk hubungan vertikal kepada Allah, melainkan juga berbentuk horizontal kepada sesama manusia. Bahkan bila dihitung, pengorbanan bentuk yang kedua inilah yang paling dominan dan lebih ditekankan agama.

Dalam konteks sekarang justru pengorbanan yang kedua ini yang marak dan dipertontonkan kepada ruang publik terlebih-lebih di dunia maya. Akibatnya kesalahen personal menjamur, sementara kesalehan sosial masih terseok-seok. Bisa kita lihat, masjid semakin bertambah; tetapi rasa disiplin berkurang; pengajian membludak; rasa toleransi menyusut;  list waiting haji panjang puluhan tahun; tetapi kemiskinan masih menahun.

 Berkurban sejatinya menekankan kesalehan sosial. Bahwa beragama itu harus merasakan penderitaan orang lain. Kepekaan sosial yang diiringi dengan tanggujawab untuk menuntaskannya adalah inti terdalam yang tersirat dalam kurban. Kepekaan sosial ini sesuai dengan hadis Nabi, bahwa ummat muslim itu seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain ikut merasakan sakit.

Artinya memperlakukan orang seperti diri kita sendiri adalah inti pengorbanan dalam konteks hubungan horizontal sesama manusia. Segala perbuatan yang bisa memudaratkan orang lain harus ditolak. Korupsi yang bisa merampas hak orang lain; intoleransi yang bisa merusak hubungan sosial, aksi terorisme yang dapat menimbulkan dis-harmoni; dan sederat perbuatan yang anti terhadap perdamaian harus dilawan.

Berkurban hanyalah simbolisasi dari pengorbanan kita. Beda tempat dan waktu maka pengorbanan itu juga berbeda. Jika sekarang musuh terbesar kita adalah hoax dan ujaran kebencian, maka pengorbanan untuk melawannya adalah kurban sejati. Jika yang kita anggap musuh bersama adalah terorisme dan korupsi, maka upaya memberantas keduanya adalah sebenar-benar kurban. Begitu seterusnya.

Pada level ini, maka kita sudah menafsirkan ibadah kurban itu secara kontekstual. Berkurban untuk berkorban. Berkorban untuk kesalehan sosial. Semoga pengorbanan kita tidak berhenti pada kurban saja. Amin.

Facebook Comments