Air Mata Pendosa

Air Mata Pendosa

- in Suara Kita
148
1
Air Mata Pendosa

Ada seorang jamaah haji yang mengaku mempunyai masa lalu yang bergelimang dosa. Setiap malam, ia selalu pergi ke diskotik. Sudah tak terhitung berapa banyak minuman keras yang terminum olehnya. Naas, ketika berjalan di sebuah perdesaan, dalam keadaan mabuk ia memukul salah satu warga kampung. Dengan tergopoh-gopoh dia berlari karena beberapa warga kampung berusaha mengejarnya. Bukan soal yang mudah, berlari dalam keadaan mabuk seperti itu. Akhirnya dia memilih bersembunyi di salah satu rumah di sudut desa milik salah satu ustaz di kampung itu.

Keesokan paginya, sang ustaz menemukannya tergeletak dengan bau alkohol yang menyengat. Hal itu tak membuat usaz marah, malah dengan lembut sang ustaz membangunkannya dan berusaha berkomunikasi dengannya. Dari pembicaraan tersebut, ternyata pemabuk itu seorang pengusaha yang sukses. Karena tekanan kerja di pagi hari, dia berusaha menghibur dirinya di malam hari. Sayang, hiburan yang digunakannya salah dan berakibat buruk pada kondisinya.

Setelah berbicara agak lama, akhirnya sang ustaz menawarkan kegembiraan baru selain dengan mabuk-mabukan. Sang ustaz memulainya dengan membacakan beberapa ayat Al-Qur’an, karena dia percaya bahwa Al-Qur’an bisa membawa kebahagiaan dan ketenangan hati. Setelah beberapa lama, pengusaha ini mulai tertarik dengan kegembiraan baru yang dibawakan sang ustadz. Hatinya merasa damai dan tenang ketika mendengarkan Al-Qur’an. Akhirnya, dia memantapkan diri untuk mempelajari agama Islam dan pelan-pelan meninggalkan dunia malam.

Pada bulan haji tahun lalu, dia memantapkan hati untuk melaksanakan haji dengan mengajak keluarga ustaz yang selalu membimbingnya. Ada sedikit rasa ragu pada dirinya mengenai dosa yang diperbuatnya di masa lalu. Dia selalu bertanya “apakah seorang pendosa berhak melangkahkan kakinya ke tanah suci?”. Anggapan itu cepat-cepat ditepis oleh sang ustaz dan memperkuat kembali niatnya untuk pergi ke tanah suci. Selama di menjalankan ibadah haji, entah mengapa setiap langkahnya terasa ringan. Bahkan, dia bisa mencium hajar aswad di tengah lautan manusia. Dia bercerita bahwa ada sosok yang menuntunnya pergi ke hajar aswad.

Baca Juga : Awas, Anak Kita Rentan Terpapar Radikalisme

Kisah tersebut mengingatkan kita pada salah satu ayat Al-Qur’an “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-Ankabut: 69).

Kita sering mendengar cerita orang yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan ibadah haji. Padahal, selama hidupnya dia tidak pernah melakukan dosa seperti pemabuk tadi. Sedangkan, dalam kisah ini, kita melihat betapa mudahnya sang pemabuk mencium hajar aswad yang didambakan setiap jamaah haji.

Namun, dari sini kita bisa belajar substansi dari ibadah haji itu sendiri. Kebanyakan orang merasa pantas melakukan ibadah haji. Mereka merasa sudah berjihad habis-habisan dengan mengorbankan harta benda, tenaga, serta keluarga mereka demi menyempurnakan ibadahnya. Sayangnya mereka melupakan satu hal, yaitu tujuan dari ibadah haji itu sendiri. Mereka lupa menata niat dalam melaksanakan ibadah. Sebab itu, mereka selalu mengalami kesulitan-kesulitan selama pelaksanaan ibadah haji.

Banyak orang menunaikan haji dengan niat pamer dan meningkatkan status sosial di masyarakat. Hal ini sangat menyimpang dengan substansi haji sendiri yang bertujuan mencari ridha Allah dan kembali kepadaNya. Maka orang haji yang mencari popularitas semata, sejatinya telah meninggalkan Allah dalam ibadahnya.

Mereka telah keluar dari substansi jihad yang sebenarnya. Mereka menganggap pengorbanan harta, tenaga, dan keluarga sebagai sebuah jihad yang mulia. Padahal, jihad yang sebenarnya adalah meraih keridhaan Allah dengan pengorbanan tersebut. Dan yang mereka lakukan adalah menggadaikan segala pengorbanannya untuk meraih popularitas semata. Tujuan mereka adalah popularitas, bukan keridlaan Allah. Dengan begitu, makna jihad telah hilang dalam ibadah hajinya.

Seharusnya, ketika memakai ihram, mereka telah membebaskan dirinya dari tujuan duniawi. Pakaian ihram inilah yang seharusnya menjadi penghubung antara pemakai dengan Tuhannya. Warna putih pakaian ihram mengingatkan pemakainya dengan warna pakaian saat kita meninggal kelak. Dengan begitu, kita akan tersadar bahwa segala sesuatu yang bersifat duniawi tidaklah berarti. Kita akan lebih fokus untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena hanya cara itulah kita bisa selamat dari ancaman siksa.

Kisah sang pendosa tersebut telah mengajarkan kepada kita mengenai makna jihad yang tertuang dalam surat Al-Ankabut ayat 69. Bahwa tujuan jihad adalah mendekatkan diri kepada Allah dan berharap akan keridhaanNya. Meskipun masa lalu sang pendosa begitu buruk dan berlimpah dosa. Namun, Allah melihat kesungguhan hatinya untuk mendekatkan diri dengan sang Pencipta. Tidak hanya harta, tenaga, keluarga yang dia korbankan, namun kesenangan duniawinya juga ia korbankan untuk mencari keridhaan Allah. Sehingga, Allah memudahkan segala langkahnya menunaikan ibadah dan menghantarkannya mencium hajar aswad yang menjadi dambaan setiap umat Islam.

Facebook Comments