Akhir dari Pilihan Abu Bakar Ba’asyir adalah Pancasila

Akhir dari Pilihan Abu Bakar Ba’asyir adalah Pancasila

- in Narasi
198
0
Akhir dari Pilihan Abu Bakar Ba’asyir adalah Pancasila

Akhir dari pilihan Abu Bakar Ba’asyir adalah Pancasila. Ini menjadi kesimpulan penting dari sosok yang sejak dulu bergerak menantang dan anti-Pancasila. Kini, dirinya menyadari bahwa Pancasila adalah jalan pijakan berbangsa yang tidak bertentangan dengan agama.

Maka, sebagai pemahaman akhir, tentunya tidak bisa hanya berhenti dalam taraf (keputusan pribadi) lalu melepas tanggung-jawab apa yang telah Ia perbuat semasa hidupnya. Sebab, dia telah memulai sebuah gerakan radikal yang menjadi kenyataan pahit bagi negeri ini. Maka, dialah yang harus mengakhiri kenyataan ini pula.

Sebab, tidak ada yang namanya gerakan anti-Pancasila dan tidak ada pemahaman Pancasila bertentangan dengan ajaran agama. Jika, Abu Bakar Ba’asyir tidak berbicara dan mengampanyekan pemahaman tentang hal itu. Membuat gerakan menolak Pancasila, gerakan anti-Pancasila dan gerakan ideologis yang mempertentangkan agama dan Pancasila dengan 1 dasar, bahwa Pancasila dianggap syirik atau musyrik.

Dulu Abu Bakar Ba’asyir Bisa Merekrut Umat Anti-Pancasila, Maka Sekarang Harus Sebaliknya!

Sosok Abu Bakar Ba’asyir sejak orde baru sangatlah berpengaruh besar bagi gerakan kelompok radikal penantang NKRI dan Pancasila. Jadi, ketika saat ini dirinya membangun “pemahaman akhir” yang menerima Pancasila. Maka, seharusnya, sikap ini harus berperan besar untuk mengakhiri dosa sosial yang Ia perbuat sejak dulu. Agar, menjadi (paradigma) kesadaran etis untuk merangkul kelompok radikal agar menerima Pancasila dan pro-NKRI.

Kecuali, sikap “pemahaman akhir” yang dilakukan oleh Abu Bakar Ba’asyir. Hanya bersifat (hipokrisi) di tengah sisa-sisa umurnya yang tidak muda lagi. Tetapi, catatan besarnya. Di tengah pemahaman baru Abu Bakar Ba’asyir, apakah ini akan menjadi akhir dari gerakan ideologi anti-Pancasila? Tentu, jawabannya; Dialah yang memiliki tanggung-jawab besar secara sosial-moral kemanusiaan untuk bergerak mengakhiri apa yang dia perbuat sejak dulu-kala.

Taubatnya Abu Bakar Ba’asyir Harus Menyudahi Gerakan Kelompok Radikal yang Dibuatnya

Lantas, apakah Abu Bakar Ba’asyir hanya mengekresikan “pemahaman akhir” itu sebagai prinsip pribadi? dan meninggalkan mereka (kelompok radikal) yang kini masih “tersesat” di jalan yang Ia pernah buat? Jelas, siapa yang menanam maka dia yang menuai. Maka, siapa-pun yang berbuat maka harus ada konsekuensi yaitu tanggung-jawab atas perbuatan itu.

Sebagaimana, taubatnya Abu Bakar Ba’asyir harus bersifat (universal) atau menyudahi segala gerakan radikal yang pernah dirinya buat. Artinya, dia memiliki tanggung-jawab besar untuk membawa mereka kelompok radikal dan para generasi bangsa agar pro-Pancasila. Dengan membangun semacam sosialisasi penyadaran dan pemahaman bahwa Pancasila itu sesuai dengan ajaran agama dan perlu diikuti sebagai falsafah bangsa.

Sebab, istilah “pemahaman akhir” yang digaungkan oleh Abu Bakar Ba’asyir tentang Pancasila harus membawa pengaruh besar terhadap kelompok radikal. Dalam arti fungsional, dia harus mengangkat sikap “pemahaman akhir” yang menerima Pancasila itu sebagai (alat jihad) untuk mengubah pola-pikir kelompok radikal agar pro-Pancasila dan pro-NKRI.

Jadi, jangan biarkan Abu Bakar Ba’asyir meninggalkan “dosa sosial” yang diperbuat sejak dulu. Sebagaimana, sejak orde baru dia membuat gerakan ormas yang secara misi menolak Pancasila dan anti NKRI. Lalu, gerakan itu ditinggalkan begitu saja menjalar merasuki tatanan dan merusak kemaslahatan bangsa. Sedangkan dirinya telah bertaubat di sisa-sisa umurnya dengan pemahaman akhir menerima Pancasila.

Sehingga, kenyataan inilah yang harus disadari oleh Abu Bakar Ba’asyir. Untuk memanfaatkan “pemahaman akhir” tersebut sebagai jalan “penebusan dosa” sosial-kemanusiaan yang sejak dulu Ia perbuat. Dengan bergerak menjadi agent penyadaran pola-pikir kelompok radikal agar bisa mengikuti jejak-nya yaitu pro-Pancasila dan pro-NKRI.

Facebook Comments