Akhlak Mulia: Fondasi Membangun dan Menjaga Bangsa

Akhlak Mulia: Fondasi Membangun dan Menjaga Bangsa

- in Suara Kita
1038
1
Akhlak Mulia: Fondasi Membangun dan Menjaga Bangsa

Setiap orang tentu saja mendambakan terciptanya ketertiban atau keteraturan sosial dalam kehidupan masyarakat agar kehidupan lebih terjamin. Namun, keteraturan ini bisa terwujud apabila anggota masyarakat memiliki akhlak yang mulia. Sebab, akhlak bukan sekadar retorika belaka, tetapi menyangkut mentalitas dan perilaku setiap orang yang berkaitan dengan; baik dan buruk, pantas tidak pantas, dan benar-salahnya suatu perbuatan. Dengan akhlak, seseorang akan dapat meraih segala kemuliaan hidup bahkan, ia dapat menciptakan keadilan dan kesejahteraan yang diimpikan oleh semua orang.

Dengan demikian, memiliki akhlak mulia merupakan dambaan bagi seluruh insan di muka bumi ini. Apalagi, bagi seseorang yang memahami dan mempercayai agama, yaitu sebagai ajaran langsung datang dari Tuhan, tentu saja mereka akan berlomba-lomba untuk meraihnya. Melihat begitu urgennya akhlak, Islam menaruh perhatian lebih terhadapnya (memberikan kedudukan yang tinggi dan sangat diperhatikan dalam ajaran Islam). Hal ini dibuktikan dengan begitu banyaknya penjelasan ihwal tingginya kedudukan akhlak, sebagaimana hadis Rasulullah saw.: “Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan lebih dari itu, diutusnya Rasulullah saw. ke muka bumi dengan mengemban salah satu misi utamanya; untuk menyempurnakan akhlak.

Bertolak dari kedudukan akhlak dalam Islam, maka akhlak mulia dapat dikategorikan sebagai manifestasi dari keimanan seseorang. Semakin tinggi keimanan seseorang, maka semakin tinggi pula kualitas akhlak dan budi pekertinya antar-sesama. Karena akhlak mulia adalah kondisi mental, sikap dan perilaku yang menjunjung tinggi keadaban, kesantunan, keadilan dan kedamaian. Sehingga, orang yang berakhlak mulia akan selalu menjaga lisan untuk tidak berkata kasar dan mengancam, bersikap terbuka dan menerima akan perbedaan; berperilaku sopan, santun, menaati hukum dan menjadi juru damai.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara misalnya, akhlak mulia terwujud dalam bentuk norma, moral dan ketaatan hukum dalam komitmen menjaga bangsa sebagai tempat nyaman dan aman bagi seluruh warga negara. Itu artinya, untuk membangun dan menjaga suatu bangsa diperlukan akhlak mulia. Tanpa akhlak mulia, maka setiap bangsa akan mengalami chaos dan bahkan apa yang dicita-citakan (keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan) hanya sekadar menjadi bualan belaka.

Sebagaimana Thomas Lickona misalnya, menyatakan bahwa; di antara tanda dari kehancuran suatu bangsa adalah: pertama, meningkatnya kekerasan pada remaja, kedua, penggunaan kata-kata yang memburuk, ketiga, pengaruh peer group (rekan kelompok) yang kuat dalam tidak kekerasan, keempat, meningkatnya penggunaan alkohol, narkoba, dan seks bebas, kelima, kaburnya batasan moral antara baik dan buruk, keenam, menurunnya etos kerja, ketujuh, rendahnya rasa hormat, baik kepada orang tua maupun guru, kedelapan, rendahnya rasa tanggung-jawab setiap individu dan warga-negara, kesembilan, membudayanya perilaku ke-tidak jujuran, dan kesepuluh, maraknya sikap saling curiga dan kebencian antar-sesama. (Muhibbin Noor, Pendidikan Karakter Catatan Reflektif dalam Membangun Pendidikan Berbasis Akhlak dan Norma, 231)

Dengan demikian, jelaslah bahwa akhlak mulia dapat menjadi power untuk membangun dan menjaga keutuhan setiap bangsa. Apalagi, Indonesia misalnya sebagai bangsa yang dikenal akan multikulturalisme dan penduduk muslim terbesar di dunia, menjadi suatu keniscayaan untuk memiliki akhlak mulia dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari bagi seluruh warga-negaranya.

Namun untuk mencapai hal tersebut diperlukan suatu cara yang efisien, yaitu dengan melakukan upaya pembinaan akhlak yang dilakukan secara kontinu dan sungguh-sungguh melalui pendidikan. Sebab, akhlak merupakan hasil dari kegiatan pendidikan dan pembinaan, latihan serta perjuangan keras dan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, tokoh agama, masyarakat dan keluarga memiliki peran penting dalam mengupayakan terbentuknya dan terciptanya akhlak mulia khususnya bagi generasi bangsa, sehingga apa yang dicita-citakan bangsa ini bisa terwujud sebagaimana yang termaktub dalam kelima sila Pancasila. Wallahu A’lam

Facebook Comments