Aksiologi Zakat Fitrah untuk Solidaritas dan Kesatuan Umat

Aksiologi Zakat Fitrah untuk Solidaritas dan Kesatuan Umat

- in Suara Kita
222
0
Zakat fitrah selain merupakan sarana ibadah, juga mempunyai fungsi sosial agar terwujudnya keadilan manusia secara luas. Artinya, zakat fitrah dapat menopang kebutuhan masyarakat yang wajib menerima zakat (mustahik). Zakat fitrah yang dikeluarkan oleh muzzaki dapat dipergunakan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan mereka. Harapannya tidak terjadi kesenjangan antara orang yang mampu dengan tidak mampu. Atau tak terjadi adanya gap antara si kaya dan si miskin. Dari sini adalah di antara fungsi zakat sebagai elemen untuk menegakan keadilan dan kesejahteraan. Oleh karenanya, zakat fitrah tersebut harus diperhatikan dari segi penghimpunan hingga pendistribusian, sehingga tidak tercerabut dari esensi adanya zakat sebagai rukun Islam dan juga menopang kesejahteraan masyarakat yang kurang mampu serta agar tidak terjadi kesenjangan sosial di masyarakat. Berbicara mengenai hikmah zakat fitrah tentu sangat banyak, baik dalam segi spiritual maupun sosial. Secara spiritual zakat fitrah salah satunya sebagai sarana untuk membersihkan jiwa seseorang yang berpuasa dari segala sesuatu yang mengotorinya seperti perbuatan sia-sia, perbuatan keji, dan segala amalan yang mengurangi nilai puasa Ramadhan. Setiap muslim yang menunaikan zakat fitrah, maka kesalahan dan dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah SWT. Tidak hanya itu, Allah SWT juga telah menjamin bagi setiap muslim yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat akan dijamin masuk surga. Sebagaiamana dalam Al-Quran Surat Al-Ma’idah ayat 12 yang artinya sebagai berikut. “Dan sungguh, Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang pemimpin di antara mereka. Dan Allah berfirman, “Aku bersamamu.” Sungguh, jika kamu melaksanakan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, pasti akan Aku hapus kesalahan-kesalahanmu, dan pasti akan Aku masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tetapi barangsiapa kafir di antaramu setelah itu, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus” (QS. Al-Ma’iddah: 12). Adapun secara sosio zakat fitrah setidaknya dapat memberikan rasa suka-cita kepada orang-orang fakir dan miskin supaya mereka turut merasakan kegembiraan di hari raya. Kemudian, zakat fitrah juga dapat mengurangi kecemburuan sosial. Dengan menerima zakat fitrah, para fakir miskin akan tetap bisa merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan sanak famili atau keluarganya. Dengan begitu, mereka tidak akan merasa iri atau cemburu ketika melihat orang yang lebih mampu merayakan Idul Fitri karena mereka pun bisa merayakannya. Selain itu, ketika seorang wajib zakat (muzzaki) memberikan zakat fitrah kepada fakir miskin, tentunya mereka orang yang mampu akan belajar untuk menumbuhkan rasa saling tolong menolong terhadap sesama muslim. Mereka tidak lagi hanya memikirkan kebutuhan diri sendiri, melainkan juga berusaha untuk meringankan kesulitan orang lain, terutama kebutuhannya di Hari Raya Idul Fitri. Hal itu juga bisa mencegah mereka yang tidak mampu melakukan perbuatan meminta-minta pada hari raya. Bagi para wajib zakat (muzzaki), dengan menunaikan zakat fitrah, mereka juga akan bisa menumbuhkan rasa toleransi terhadap sesama. Saat mereka membayar zakat fitrah, mereka belajar untuk juga memikirkan orang lain untuk berbagi kebahagiaan. Hal ini akan melatih rasa toleransi dengan memahami bahwasanya tidak semua orang memiliki rezeki dan kemudahan seperti yang kita miliki. Pun demikian, dengan adanya kewajiban zakat fitrah, maka ada interaksi positif antara si kaya dan si miskin, yaitu saling tolong menolong. Hal ini akan menjebol sekat antara orang kaya dan miskin. Kehidupan akan menjadi harmonis, antara si kaya dengan si miskin akan tercipta saling mengenal dan saling menghormati. Harapannya dengan itu semua, pada akhirnya, solidaritas dan kesatuan antara umat muslim akan semakin terbentuk kokoh.

Zakat fitrah selain merupakan sarana ibadah, juga mempunyai fungsi sosial agar terwujudnya keadilan manusia secara luas. Artinya, zakat fitrah dapat menopang kebutuhan masyarakat yang wajib menerima zakat (mustahik). Zakat fitrah yang dikeluarkan oleh muzzaki dapat dipergunakan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan mereka. Harapannya tidak terjadi kesenjangan antara orang yang mampu dengan tidak mampu. Atau tak terjadi adanya gap antara si kaya dan si miskin.

Dari sini adalah di antara fungsi zakat sebagai elemen untuk menegakan keadilan dan kesejahteraan. Oleh karenanya, zakat fitrah tersebut harus diperhatikan dari segi penghimpunan hingga pendistribusian, sehingga tidak tercerabut dari esensi adanya zakat sebagai rukun Islam dan juga menopang kesejahteraan masyarakat yang kurang mampu serta agar tidak terjadi kesenjangan sosial di masyarakat.

Berbicara mengenai hikmah zakat fitrah tentu sangat banyak, baik dalam segi spiritual maupun sosial. Secara spiritual zakat fitrah salah satunya sebagai sarana untuk membersihkan jiwa seseorang yang berpuasa dari segala sesuatu yang mengotorinya seperti perbuatan sia-sia, perbuatan keji, dan segala amalan yang mengurangi nilai puasa Ramadhan.

Setiap muslim yang menunaikan zakat fitrah, maka kesalahan dan dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah SWT. Tidak hanya itu, Allah SWT juga telah menjamin bagi setiap muslim yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat akan dijamin masuk surga. Sebagaiamana dalam Al-Quran Surat Al-Ma’idah ayat 12 yang artinya sebagai berikut.

“Dan sungguh, Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang pemimpin di antara mereka. Dan Allah berfirman, “Aku bersamamu.” Sungguh, jika kamu melaksanakan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, pasti akan Aku hapus kesalahan-kesalahanmu, dan pasti akan Aku masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tetapi barangsiapa kafir di antaramu setelah itu, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus” (QS. Al-Ma’iddah: 12).

Adapun secara sosio zakat fitrah setidaknya dapat memberikan rasa suka-cita kepada orang-orang fakir dan miskin supaya mereka turut merasakan kegembiraan di hari raya. Kemudian, zakat fitrah juga dapat mengurangi kecemburuan sosial. Dengan menerima zakat fitrah, para fakir miskin akan tetap bisa merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan sanak famili atau keluarganya. Dengan begitu, mereka tidak akan merasa iri atau cemburu ketika melihat orang yang lebih mampu merayakan Idul Fitri karena mereka pun bisa merayakannya.

Selain itu, ketika seorang wajib zakat (muzzaki) memberikan zakat fitrah kepada fakir miskin, tentunya mereka orang yang mampu akan belajar untuk menumbuhkan rasa saling tolong menolong terhadap sesama muslim. Mereka tidak lagi hanya memikirkan kebutuhan diri sendiri, melainkan juga berusaha untuk meringankan kesulitan orang lain, terutama kebutuhannya di Hari Raya Idul Fitri. Hal itu juga bisa mencegah mereka yang tidak mampu melakukan perbuatan meminta-minta pada hari raya.

Bagi para wajib zakat (muzzaki), dengan menunaikan zakat fitrah, mereka juga akan bisa menumbuhkan rasa toleransi terhadap sesama. Saat mereka membayar zakat fitrah, mereka belajar untuk juga memikirkan orang lain untuk berbagi kebahagiaan. Hal ini akan melatih rasa toleransi dengan memahami bahwasanya tidak semua orang memiliki rezeki dan kemudahan seperti yang kita miliki.

Pun demikian, dengan adanya kewajiban zakat fitrah, maka ada interaksi positif antara si kaya dan si miskin, yaitu saling tolong menolong. Hal ini akan menjebol sekat antara orang kaya dan miskin. Kehidupan akan menjadi harmonis, antara si kaya dengan si miskin akan tercipta saling mengenal dan saling menghormati. Harapannya dengan itu semua, pada akhirnya, solidaritas dan kesatuan antara umat muslim akan semakin terbentuk kokoh.

Facebook Comments