Al-Qur’an Membantah Ajaran Eksklusifisme dalam Doktrin Al-Wala’ Wal Bara’

Al-Qur’an Membantah Ajaran Eksklusifisme dalam Doktrin Al-Wala’ Wal Bara’

- in Narasi
181
1
Al-Qur’an Membantah Ajaran Eksklusifisme dalam Doktrin Al-Wala’ Wal Bara’

Kelompok radikal, masih begitu gencar membawa semacam doktrin Al Wala’ wal bara’ sebagai legitimasi pembenar ajaran (eksklusifisme). Bahwa, umat Islam hanya boleh loyal/bersaudara sesama umat Islam Al Wala’ (loyalitas) sesama umat Islam. Sedangkan terhadap mereka yang non-muslim, itu harus bersikap al bara’ (melepas diri) atau bermusuhan.

Doktrin di atas tentu sangat menyesatkan dan jelas sangat berbahaya sekali bagi pemahaman umat. Sebab, di satu sisi, doktrin yang demikian sejatinya sangat bertentangan dengan prinsip Islam yang memegang teguh kemaslahatan umat manusia dalam ranah rahmatan lil alamin agar tidak berpecah-belah. Di sisi lain, ini melanggar tata-etika fungsional dalam ranah baldatun tayyibatun warabun ghafur dalam tubuh NKRI.

Maka, dari sinilah Al-Qur’an sangat membantah. Jika, umat Islam hanya bersaudara sesama muslim lalu berpecah-belah atau bermusuhan dengan mereka yang non-muslim. Sebagaimana dalam potongan ayat (Qs Al-Hujurat:3). Bahwasanya, “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”.

Begitu juga dalam potongan ayat (Qs Al-Hujurat:10). Bahwasanya “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapatkan rahmat”. Juga, Sayyidina Ali Bin Abi Thalib pernah menyampaikan bahwa “Jika dia bukan saudaramu dalam Iman, maka dia adalah saudaramu dalam kemanusiaan”.

Dari dua potongan ayat di atas sekaligus ungkapan masyhur Sayyidina Ali Bin Abi Thalib dalam konteks, pentingnya menjaga (hubungan sosial-kemanusiaan) dengan mereka yang berbeda keyakinan. Sejatinya, menjadi satu bukti penting. Bahwa, prinsip Islam itu begitu sangat memegang teguh akan hubungan sosial-kemanusiaan yang utuh tanpa berpecah-belah. Bahkan, saudara dalam kemanusiaan itu selalu dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Bahkan, Allah SWT di dalam potongan ayat Al-Qur’an yang saya sebutkan di atas. Itu membangun satu substansi etis bahwa orang beriman tentu dia akan bersaudara. Artinya, sandaran keimanan itu bukan kokoh atas dasar sikap permusuhan lalu mengatasnamakan “demi akidah”. Sebab, orang beriman pasti akan membawa keamanan, kemaslahatan dan dia pasti akan senang bersaudara.

Selain itu, konsep Al-Wala’ Wal Bara’ itu sangat bertentangan dengan prinsip baldatun Tayyibatun Warabun Ghafur di dalam tubuh NKRI. Mengapa? karena, ajaran eksklusif dan destruktif terhadap mereka yang non-Muslim. Lalu dianggap musuh hingga praktik intoleransi itu terjadi. Hal demikian jelas sangat tidak dibenarkan di dalam ajaran Islam. Karena, akan merusak dan menghancurkan tata-etika nilai di dalam sebuah bangsa.

Sebagaimana yang kita ketahui, negara Indonesia (NKRI) memegang teguh prinsip kebersamaan, persatuan, keharmonisan dan persaudaraan satu-sama lain di tengah keragaman. Hal ini jelas, mengarah ke dalam wilayah baldatun tayyibatun bahwa negara yang baik tentu mengarah ke dalam wilayah etis yang membawa kemaslahatan dan terhindar dari pertumpahan darah (kemudharatan) akibat konflik mengatasnamakan iman.

Hal ini jelas dibenarkan oleh (Qs. Ali-Imran:103) bahwasanya “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu (bercerai-berai) dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (era jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi saudara”.

Dari potongan ayat ini, jelas bahwa kebenaran teologis di dalam Islam membangun satu prinsip bahwa (kebersamaan, menjaga hubungan sosial-kemanusiaan serta bersaudara) adalah kemutlakan etis ajaran Islam. Jadi, prinsip Al-Wala’ Wal Bara’ ini mutlak sangat melanggar prinsip bernegara di dalam Islam. Sebab, hubungan sosial-kemanusiaan atau bersaudara sesama umat manusia sejatinya mengacu ke dalam wilayah (aturan berbangsa) yang diamalkan di dalam tubuh NKRI. Karena ini mengacu ke dalam wilayah warabun ghafur.

Facebook Comments