Al Wala’ wal Bara’ : Doktrin yang Berbahaya dalam Kehidupan Berbangsa?

Al Wala’ wal Bara’ : Doktrin yang Berbahaya dalam Kehidupan Berbangsa?

- in Editorial
165
0
Al Wala’ wal Bara’ : Doktrin yang Berbahaya dalam Kehidupan Berbangsa?

Salah satu bentuk radikalisasi adalah penyebaran narasi yang ditanamkan secara terus menerus sehingga membentuk doktrin kokoh yang meyakinkan. Kehebatan kelompok radikal terorisme adalah dengan memformulasi doktrin militansi dengan meramu dalil dan ayat keagamaan sebagai justifikasi. Salah satunya adalah doktrin al-wala’ wal bara’ yang disalahpahami.

Konsep Al-wala’ wal bara’ merupakan dua istilah yang diambil dari ayat al-Quran dan dipadukan sebagai konsep teologis yang selanjutnya berdampak secara sosiologis dalam kehidupan sehari-hari. Al-wala’ berarti kesetiaan, kecintaan dan perwalian yang dinukil dari ayat (QS. Al-Maidah [5]: 55-56). Prakteknya konsep teologis ini dipahami secara sederhana dan kadang dipolitisasi sebagai bentuk hanya mencintai, berteman dan memilih teman dan pemimpin yang seagama.

Sementara, al bara’ berarti melepaskan, membenci dan memusuhi yang dinukil dari Al-Mumtahanah [60]: 4. Pada prakteknya, konsep teologis ini pula dipahami secara serampangan sebagai bentuk membenci dan memusuhi yang berbeda secara keyakinan. Al-wala’ wal bara’ menjadi sangat problematis ketika ditafsirkan secara serampangan, apalagi dengan nada ekstrem.

Sejatinya doktrin al-wala’ wal bara’ ini merupakan konsep baru yang tidak pernah dikenal dalam khazanah keislaman ulama klasik. Istilah ini digunakan oleh kelompok radikal sebagai bentuk doktrin keimanan yang berimplikasi pada penegasan sosial untuk berkomitmen kesetiaan hanya bersahabat dengan sesama muslim dan melepaskan diri dari ikatan dan atau membenci non muslim.

Dengan tafsir yang sempit, umat hanya bergaul dengan internal seagama dan didorong untuk membenci terhadap yang berbeda. Kebencian bisa diekspresikan dalam hati, lisan bahkan tindakan kekerasan atau tidak memberikan ruang hak sosial bagi yang berbeda. Dalam pemahaman kelompok radikal, doktrin ini yang menjadi justifikasi untuk memusuhi, membenci atau bahkan melakukan tindakan kekerasan terhadap yang berbeda.

Doktrin ini jelas sangat bermasalah jika ditafsirkan salah kaprah. Secara prinsip ia bertentangan dengan visi Islam rahmatan lil alamin karena selalu memandang relasi umat dalam paradigma konflik. Selain itu, doktrin ini jelas bertentangan dengan sunnah Nabi yang tidak pernah menghindari pergaulan dengan yang berbeda agama dan keyakinan. Bahkan ketika mereka yang berbeda membencinya, Nabi tidak pernah membenci mereka dengan melaknat apalagi mendoakan yang buruk.

Al wala’ wal bara’ sebagai konsep yang sangat dikotomis ini juga sangat bermasalah bahkan berbahaya dalam konteks berbangsa dan bernegara. Dalam pergaulan kebangsaan yang menjunjung kolaborasi dan kesetaraan, penanaman doktrin seperti ini kepada umat teramatlah berbahaya karena akan menimbulkan intoleransi dan segregasi sosial.

Alih-alih menguatkan keimanan, al-wala’ wal bara’ justru akan bertentangan dengan prinsip dan ekspresi keimanan. Bukankah tidak lengkap iman seorang sebelum mencintai dan menghormati tetangganya, apapun latarbelakangnya. Ataukah keimanan seseorang harus menjauhkan diri dari keragaman?

Facebook Comments