Allah Tidak Melarangmu untuk Berbuat Baik, Kenapa Kamu Menolak Gereja Mereka?

Allah Tidak Melarangmu untuk Berbuat Baik, Kenapa Kamu Menolak Gereja Mereka?

- in Faktual
165
0
Allah Tidak Melarangmu untuk Berbuat Baik, Kenapa Kamu Menolak Gereja Mereka?

Indonesia dahulu dikenal sebagai Negara yang menjunjung nilai toleransi yang tinggi. Keragaman suku, budaya, Bahasa dan agama memiliki hak yang sama meskipun di daerah yang mayoritas agama tertentu. Tidak ada alasan mengatasnamakan mayoritas di sini adalah agama tertentu, lalu melarang aktifitas atau hak beribadah yang lain. Hal itu tidak mencerminkan budaya nusantara dan tentunya ajaran Islam yang sebenarnya.

Baru-baru ini tengah viral kabar Walikota cilegon bernama Helldy Agustian yang ikut menandatangani petisi yang diajukan massa saat berdemo penolakan pembangunan gereja di kota Cilegon. Langkah ini tentu sangat disayangkan karena Walikota sebagai kepala daerah yang mengayomi seluruh lapisan masyarakat dengan keragaman yang ada.

Penolakan pembangunan gereja di kota cilegon sejatinya bukanlah hal yang baru. Pada tahun  2017 terdapat warga muslim yang protes saat Gereja Baptis Indonesia Cilegon mengadakan ibadah massal. Mirisnya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Cilegon pernah mengeluarkan statemen  yang menyatakan bahwa sebaiknya tak ada gereja di Cilegon agar masyarakatnya lebih tenang.

Di tahun 2020, Paroki Santo Mikael milik jemaat Katolik sempat diprotes saat ingin mengadakan ritual Rabu Abu. Mirisnya yang mereka protes bukanlah mempermasalahkan bangunan rumah ibadah lagi, namun mempermasalahkan kegiatan keagamaan non-Muslim di Cilegon.

Hingga kini, tidak ada satupun tempat ibadah umat non Islam berdiri di Cilegon. Data resmi negara tahun 2019 mencatat ada 382 masjid dan 287 musalla di Cilegon, tanpa ada satu pun gereja, pura, maupun vihara tercatat. Padahal, jumlah warga non-Muslim di tahun yang sama bukannya sedikit: 6.740 warga Kristen, 1.743 warga Katolik, 215 warga Hindu, 215 warga Buddha, dan 7 warga Konghucu. Dan mereka semua tentu butuh tempat ibadah.

Betapa mirisnya permasalahan yang ada di kota Cilegon. Bahkan terdapat riset yang diterbitkan oleh Setara Institute yang menyatakan bahwa Kota Cilegon selalu masuk deretan peringkat anjlok dalam riset Indeks Kota Toleran. Riset tersebut digarap berbasis kebijakan pemerintah dan ucapan pejabat setempat untuk menjadi tolok ukur toleran atau tidaknya sebuah kota.

Tidak Ada Alasan Mayoritas untuk Tidak Menghormati Perbedaan

Hak beragama merupakan hak azasi yang melekat pada diri manusia. Negara Indonesia juga telah menjamin kebebasan setiap warga negara dalam memeluk agama dan beribadah sesuai keyakinan masing-masing. Kebebasan beragama dan berkeyakinan yang juga mengandung arti hak memiliki tempat ibadah adalah hak konstitusional yang harus dihormati. Tidak ada alasan mayoritas untuk tidak menghormati keragaman.

Selain UUD 1945 yang menjamin kebebasan beragama, pemerintah juga telah menerbitkan aturan  tentang peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadah. Peraturan bersama ini dikenal juga dengan SKB 2 Menteri tentang rumah ibadah.

Secara keagamaan, Islam menegaskan sebagaimana dalam Al-Quran : Artinya: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil” (QS Al-Mumtahanah: 8).

Ayat ini menjadi dasar bagi umat Islam untuk berbuat baik kepada pemeluk agama lain. Berbuat baik berarti menghargai keberadaan mereka, memenuhi hak sosial mereka, dan tidak mengganggu mereka dan bersama-sama saling tolong-menolong.

Allah tidak melarang umat Islam untuk saling berbuat baik dan bekerjasama kepada mereka yang berbeda dan tidak ada niat ingi memerangi kaum muslim. Jadi, sesungguhnya berbuat baik terhadap mereka yang berbeda adalah ajaran Islam yang sudah jelas dalam al-Quran.

Jangan sekali lagi menjadikan alasan mayoritas dan sejarah suatu wilayah untuk tidak bisa berbuat baik kepada yang berbeda. Karena menganggap di suatu wilayah tertentu mayoritas muslim berarti tidak boleh ada bangunan rumah ibadah lain. Karena suatu wilayah secara historis adalah kerajaan dan wilayah muslim hingga menjadi alasan tidak boleh membangun rumah ibadah umat lain.

Ingat ! Madinah mayoritas muslim dan dipimpin oleh Rasulullah tetapi memberikan hak yang sama bagi pemeluk agama lain untuk melaksanakan ibadahnya. Pertanyaannya, sudah seislami mana wilayah saat ini di Indonesia dengan Madinah Rasul saat itu? Lalu kenapa alasan mayoritas dan sejarah wilayah yang Islam menjadi penghalang bagi umat lain membangun rumah ibadahnya.

Sekali lagi, Allah tidak melarang umat Islam berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka yang berbeda. Islam sebagai mayoritas seharusnya menjadi rahmat bagi yang lain, bukan malah menjadi penghalang bagi yang berbeda.

Facebook Comments