ANNAS dan Kaleidoskop Teror Anti Syiah

ANNAS dan Kaleidoskop Teror Anti Syiah

- in Narasi
202
0
ANNAS dan Kaleidoskop Teror Anti Syi'ah

Masih membayang tak terlupakan “Teror Syi’ah” yang terjadi silih berganti di Indonesia. Pada 26 Agustus 2012 tragedi berdarah tidak berperikemanusiaan menimpa kelompok Syi’ah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura. Satu penganut Syiah tewas.

Tragedi kemanusiaan yang sama terjadi di Solo pada tanggal 8 Agustus 2020. Gerombolan Laskar radikal menyerang keluarga almarhum Habib Segaf Al-Jufri. Habib Hadi Umar dan Habib Husin Abdullah menjadi korban kebrutalan mereka.

Dua peristiwa di atas menjadi bukti Syi’ah tidak hanya menjadi stigma, melainkan menjadi imajinasi tindakan untuk membenci, melakukan persekusi, kekerasan dan pembunuhan. Seolah-olah Syi’ah bukan bagian dari Islam serta bukan bagian warga negara Indonesia. Mereka dianggap orang asing sekaligus penganut “agama sesat” sehingga wajib dihilangkan.

Di tengah kasus anti, diskriminasi dan kekerasan terhadap Syiah yang masih bersifat laten dan potensial, secara mengejutkan Walikota Bandung, Yana Mulyana meresmikan Gedung Dakwah Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS).  ANNAS bukan baru berdiri. Organisasi ini berdiri pada tahun 2012 silam. Sejak awal berdirinya, ANNAS menjadi wadah kelompok-kelompok konservatif Islam menebar intoleransi, kebencian dan fitnah terhadap Syi’ah yang diduga sesat. ANNAS menyusun narasi-narasi anti Syi’ah secara teratur dan massif.

Apa yang dilakukan Yana Mulyana juga bukan pertama kali seorang pejabat pemerintah mendukung teror anti Syi’ah. Pada tahun 2015 hal yang sama terjadi di Bogor. Walikota Bogor, Bima Arya menerbitkan Surat Edaran Nomor 300/321-Kesbangpol tentang larangan terhadap Perayaan Asyura (Hari Raya Kaum Syi’ah) di Bogor.

Bima Arya beralasan, SE tersebut dikeluarkan untuk menjaga ketertiban, keamanan dan mencegah terjadinya konflik sosial. Alasan yang terkesan dibuat-buat. Karena sebenarnya apa yang dilakukan olehnya hanya untuk menuruti kelompok Islam anti Syi’ah dan untuk menjaga basis suara pemilih yang mendukungnya. Kelompok Islam anti Syi’ah merupakan konstituennya yang diharapkan tetap mendukungnya pada Pilkada berikutnya.

Tidak mustahil, Yana Mulyana juga demikian. Ia mendukung ANNAS hanya motivasi politik. Sekalipun harus mengorbankan integritas kebangsaan, yang penting aman dan menang di Pilkada berikutnya, tak masalah melakukan tindakan intoleran merapat ke organisasi ANNAS sekalipun beresiko terciptanya konflik horizontal.

Kejam. Benar. Itulah politik yang motivasinya hanya kekuasaan sekalipun mengabaikan nurani dan menjadi faktor paling dominan terjadinya kekerasan, bahkan pembunuhan. Menumbalkan Syi’ah untuk mendongkrak elektabilitas untuk pertarungan di kontestasi politik selanjutnya.

Anies Baswedan juga pernah memainkan peran yang sama. Tahun 2017, saat mencalonkan diri dalam Pilkada DKI Jakarta, ia berkampanye di wilayah Petamburan, khususnya di Ketua Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, Anies melakukan pembersihan diri atas hal yang terkait dengan Syi’ah. Saat itu, Anies memproklamirkan diri sebagai orang yang bukan bagian dari Syi’ah.

ANNAS adalah Ujian bagi Umat Islam

Kasus intoleransi dan teror “anti Syi’ah” yang dilakukan oleh beberapa elit politik dan pejabat pemerintah seperti telah dijelaskan, menjadi gambaran betapa wajah keberagamaan kita telah ternoda. Islam ditampilkan oleh sebagian kelompok dengan wajah yang beringas dan penuh arogansi. Jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan tercerabut dari akar “rahmatan lil ‘alamin”.

Ruang beragama kita pengap dengan kasus-kasus intoleransi. Konsensus etis (adil) yang mengakomodir semua pihak hilang berganti ketidakadilan. Toleransi raib, sementara intoleransi hadir secara ajaib. Perbedaan yang semestinya dipercakapkan secara terbuka dan dewasa sebagaimana amanah agama dan Pancasila, justru dibuat meruncing menimbulkan gesekan dan ancaman retaknya tenun kebangsaan.

Jika kasus ANNAS dan yang sejenis terus terjadi, kita semua khususnya umat Islam telah gagal untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengisinya dengan sesuatu yang bermanfaat. Padahal kontribusi umat Islam untuk kemerdekaan sangat besar. Umat Islam juga memiliki andil besar terhadap ideologi Pancasila.

Beruntung Indonesia memiliki dua organisasi Islam arus besar, NU dan Muhammadiyah yang mengatakan Syi’ah itu bagian dari Islam. Sehingga mayoritas umat Islam di Indonesia tidak larut dalam ketegangan dan konflik keagamaan.

Meskipun demikian, umat Islam di Indonesia tidak boleh hanya sekedar melontarkan pernyataan pengakuan terhadap Syi’ah. Harus melakukan perlawanan terhadap ANNAS dan kawan-kawannya. Memberikan penyadaran aktifitas anti Syi’ah lebih dominan dipengaruhi oleh motivasi politik dan kekuasaan.

ANNAS menjadi ujian bagi umat Islam di Indonesia sekaligus catatan hitam sejarah. Sebab, ketika agama semata-mata dijadikan alat politik, maka yang terjadi adalah pengabaian terhadap nilai-nilai luhurnya. Karenanya, menolak ANNAS merupakan wujud memuliakan agama.

Facebook Comments