Apakah Toleransi dengan Iman Itu Bertentangan?

Apakah Toleransi dengan Iman Itu Bertentangan?

- in Suara Kita
658
24
Apakah Toleransi dengan Iman Itu Bertentangan?

Saat ini, kita telah memasuki tahun 2022. Di mana, kita perlu menjalani hari-hari yang penuh tolerant satu-sama lain ke depan. Karena, tahun 2022 adalah tahun toleransi. Yaitu, mengembalikan nilai-nilai leluhur bangsa yang tolerant. Agar toleransi bisa kembali hidup menjadi (kultur) kita di dalam berbangsa dan bernegara yang membawa maslahat (kemaslahatan umat).

Namun, di dalam realitas sosial kita, masih ada orang yang “merasa alergi” dengan toleransi. Karena menganggap bertentangan dengan iman. Lantas, apakah toleransi benar-benar bertentangan dengan iman kita? Dari pertanyaan yang semacam ini, kita sebetulnya harus memhami betul dari keduanya. Baik secara fungsi dan substansi antara iman dan toleransi itu. Agar, kita bisa membedakan keduanya dan mengetahui arti pentingnya keduanya pula.

Misalnya yang pertama, soal (toleransi). Kalau kita kuliti, toleransi itu adalah (sikap sosial). Bukan sikap spiritual. Apalagi toleransi disalahpahami sebagai sesuatu yang akan menggadaikan iman. Padahal, ini adalah cara kita merawat keragaman agar tidak berpecah-belah. Ini adalah cara kita agar tidak saling membunuh mengatasnamakan agama. Serta, ini adalah cara kita agar tidak saling bermusuhan satu-sama-lain mengatasnamakan iman dalam agama.

Secara fungsi, toleransi ini membentuk satu sikap, di mana, kita dibimbing untuk (menjalani) keimanan kita masing-masing. Serta, tidak saling mengganggu satu sama lain. Setelah itu, kita perlu merajut hubungan harmonis satu sama lain. Tanpa memikirkan perbedaan agama. Kita bisa saling membantu dan tolong-menolong satu-sama lain. Karena secara subtansial, toleransi memiliki paradigma untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang bersatu dan tanpa pertumpahan darah.

Begitu juga yang kedua, soal (iman). Kita tentu memahami dalam tiap-tiap agama memiliki porsi keimanan yang berbeda. Tentu, puncak secara fungsional, iman itu adalah (orientasi hati) batiniah. Artinya, kita memiliki porsi keimanan yang membentang dalam diri kita. Sebagaimana, makanan iman adalah perjalanan spiritual. Seperti di dalam Islam, kita selalu bertakwa kepada-Nya, menjalani perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Artinya, iman itu sejatinya adalah (sikap spiritual). Sebagaimana, sikap spiritual memiliki arti bahasa “interaksi transendental”. Di mana, manusia memiliki “hubungan” atau berupaya mengikat dirinya kepada-Nya. Dengan berbagai macam ritual. Karena, tolak-ukur dari bagus atau rusaknya iman itu terletak pada perilaku kita. Baik secara spiritual atau-pun secara sosial.

Sehingga, dari sini kita bisa memahami. Bahwa, ketika kita korelasi-kan dengan toleransi yang berarti adalah (sikap sosial) yang baik. Ini tampaknya tidak ada satu-pun fungsi-fungsi yang bertentangan dengan iman. Apalagi merusak iman. Sebab, sikap atau (perbuatan baik) secara sosial dengan menghindari konflik dan permusuhan antar umat berbeda itu merupakan satu sikap yang menjadi barometer bahwa iman kita tampaknya baik. Karena memiliki “sublimasi” nilai yang mengimplementasikan keshalihan sosial di situ.

Jadi, dari dua analisis ini tentunya kita bisa memahami betul. Bahwa toleransi dan iman itu sebetulnya tidak bertentangan. Sebagaimana, toleransi adalah sikap sosial yang secara fungsi dan substansi akan melahirkan (kemaslahatan). Terhindar dari permusuhan, pertumpahan darah dan kebencian. Sedangkan iman, adalah (sikap spiritual) yang sejatinya mengacu kepada hubungan kita dengan-Nya. Karena, baik dan buruknya iman itu tergantung sikap dan perilaku kita. Baik dalam kehidupan sosial dan perilaku spiritual.            

Karena, toleransi adalah representasi dari (hablum-minannas). Sedangkan iman adalah (hablum-minallah). Di mana, keduanya tidak ada sedikit-pun bertolak-belakang. Karena, hubungan antar manusia-manusia dengan hubungan manusia-Tuhan merupakan satu sirkulasi agama yang perlu dibangun. Jadi, menghidupkan toleransi adalah cara kita merawat hubungan sosial. Serta, merawat iman adalah cara kita menjaga hubungan dengan Tuhan. Jadi, tidak ada sedikit-pun pertentangan keduanya.

Facebook Comments