Apakah Toleransi Itu Ada Batasnya?

Apakah Toleransi Itu Ada Batasnya?

- in Suara Kita
535
9
Apakah Toleransi Itu Ada Batasnya?

“Toleransi itu juga ada batasnya!” Demikian narasi yang sering muncul di media sosial di setiap pergantian tahun. Ungkapan ini sering dilontarkan oleh pihak-pihak tertentu dan ditujukan kepada orang-orang muslim yang mau mengucapkan “Selamat Natal”, kepada Banser NU yang setiap Natal selalu menjaga geraja, atau kepada siapa pun pihak yang mereka nilai mempunyai sikap toleransi yang “kebablasan.”

Pernyataan “Toleransi itu juga ada batasnya!” yang mereka ungkapkan jika diikuti narasinya sejatinya bukan bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang toleransi atau apa makna dan batasan toleransi itu, melainkan suatu pernyataan yang menolak  toleransi itu sendiri.

Mereka tidak membolehkan ucapan selamat natal. Mereka tidak setuju dengan aksi Banser NU yang menjaga gereja di setiap Natal. Mereka tidak sepakat dengan kebebasan menjalankan agama dan kepercayaan. Mereka menolak pihak yang berbeda dengan kelompok mereka. Semua itu mereka lakukan dengan dalih toleransi itu ada batasnya.

Jika ada orang yang memberikan simpati kepada pihak lain; jika ada orang yang berusaha menjaga keberagaman; dan jika ada orang yang rela merawat persaudaraan, segara dihardik dan dicap sebagai orang yang kebablasan. “Toleransi kebablasan” adalah istilah lain yang mereka ciptakan untuk menyerang orang-orang yang menghormati dan melindungi agama, kepercayaan, suku, dan kelompok lain.   

Ukuran Kemanusiaan

Apakah betul ada batasan toleransi itu? Untuk menjawab ini, kita perlu melihat historitas dari lahirnya konsep toleransi itu sendiri. Toleransi muncul seiring dengan muncul demokrasi. Dalam alam demokrasi, semua perbedaan –apapun perbedaannya –mempunyai hak yang sama, setara, dan tidak ada hirarkisitas.

Kesamaan, kesetaraan, dan ketiadaan hararkisitas bisa mewujud jika ada penghormatan dan perlindungan terhadap perbedaan itu. Agama, kepercayaan, budaya, suku, dan kelompok mempunyai kedudukan yang sama, dan mendapat penghargaan dan perlindungan yang sama. Penghargaan dan perlindungan itu tidak lain adalah toleransi.

Artinya, toleransi itu bukan hanya soal hak, tetapi juga ia adalah kewajiban. Menjadi toleran bukan saja terbatas pada menerima, juga dituntut untuk bisa memberi. Dalam konteks pergaulan manusia, tidak ada ukuran hak dan kewajiban itu, menerima dan memberi kecuali kemanusiaan itu sendiri.

Kemanusiaanlah ukuran yang adil. Sebab, kalau agama dijadikan ukuran, boleh jadi bagi kelompok ini itu disebut toleran, tetapi di kelompok lain, malah dianggap intoleran. Kemanusiaan adalah ukuran universal dan bisa diterima oleh setiap orang.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, tentu kemanusiaan itu perlu dikonkritkan lagi. Para pendahulu kita sudah membuat ukuran itu dalam bentuk Pancasila dan UUD 1945. Artinya, pergaulan yang menabrak Pancasila dan UUD 1945, dalam berbangsa dan bernegara mereka bisa disebut sebagai intoleran.

Itulah sebabnya, radikalisme dan terorisme disebut itu tindakan intoleran. Sebab, ia menabarak kesepakatan bersama antara manusia dalam berbangsa dan bernegara.    

Berbatas dan Tak Berbatas

Dengan kata lain, toleransi itu berbatas dalam ketidak-berbatasannya. Kita harus toleran kepada siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Apa pun agama, suku, dan kepercayaannya wajib dihormati dan dilindungi. Kita bukan hanya wajib menghormati orang yang sepaham dengan kita, bahkan dengan orang yang tidak sependapat pun wajib dihormati dan dilindungi.

Dengan catatan, penghormatan dan perlindungan itu diberikan selama yang dihormati dan dilindungi itu tidak merusak nilai-nilai kemanusiaan. Jika sebaliknya, ia malah merusak nilai kemanusiaan, semisal perdamaian, keamanan, dan ketertiban, maka penghormatan dan perlindungan harus dicabut. Pada titik inilah, toleransi ada batasnya.

Artinya, batasan toleransi itu adalah intoleransi itu sendiri. Kita tidak bisa mentolerir intoleransi. Intoleransi harus ditolak dan dilawan.

Jika kita kembali pada narasi di atas, kita segera bisa menyimpulkan, bahwa ungkapan toleransi ada batasnya adalah benar. Tetapi jika ungkapan itu ditujukan untuk membungkam orang-orang yang mau bertoleransi, ia malah berubah menjadi tindakan intoleransi, yang harus ditolak dan dilawan.

Facebook Comments