Apapun Agamanya, Nusantara Budayanya!

Apapun Agamanya, Nusantara Budayanya!

- in Suara Kita
246
0

Saya rasa, terpilihnya Nusantara sebagai nama IKN sejatinya merupakan pilihan yang sangat begitu tepat dan jitu. Mengapa? Karena, nama itu akan semakin mempertegas kebudayaan kita. Bahwa, apa-pun agama yang kita anut, Nusantara tetap budayanya. Karena, budaya Nusantara tidak pernah menghadirkan keberagaman untuk fighting. Tetapi untuk merealisasikan unity in diversity.

Bahkan, kita pasti paham tentang ungkapan Presiden Soekarno yang sangat begitu terkenal. Bahwa “Kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang (kaya raya) ini”.

Dari ungkapan di atas, Saya memberikan tanda (kurung) terhadap kata budaya Nusantara yang (kaya raya). Karena, basis kekayaan budaya Nusantara itu sejatinya tidak pernah pincang dalam membicarakan hubungan sosial-kemanusiaan. Termasuk dalam konteks penegasan kebudayaan Nusantara yang mengikat dalam tiap-tiap umat agama.

Bahkan, budaya Nusantara sejatinya akan klop dengan agama apa saja dan tidak ada sedikit-pun pertentangan di dalamnya. Karena, nilai agama yang menyatu dengan budaya Nusantara, sejatinya akan condong (merahmati). Misalnya, budaya Nusantara memiliki prinsip etis dalam tiap-tiap personal untuk selalu santun, ramah dan selalu tolong-menolong.

Maka, prinsip kebudayaan yang semacam ini, tidak ada semacam (batasan) meskipun mereka beda keyakinan agama. Karena, tiga prinsip yang diajarkan tersebut, berlaku ke dalam berbagai aspek dan mengacu kepada (siapa-pun) ketika berhadapan dengan manusia.

Jadi, saya sangat setuju dengan argumentasinya Amil Nur Fatimah dalam tulisannya di jalandamai.org. Bahwa, Tidak ada pelabelan “kafir” di Nusantara!. Artinya apa? istilah kebencian, istilah permusuhan atau istilah yang mengandung unsur pemisahan identitas itu, sejatinya “begitu asing” dalam tata-etika kebudayaan kita. Sebab, budaya Nusantara tidak ada satu-pun istilah atau pelabelan terhadap satu golongan yang berarti bermusuhan atau berpecah-belah.

Maka, momentum pemberian nama Ibu Kota Negara IKN dengan nama Nusantara ini, sejatinya bukan sesuatu yang “aneh” apalagi dianggap lelucon. Karena, ini adalah jalan untuk (membangkitkan kembali) pranata kebudayaan Nusantara yang kita miliki. Karena “hampir” kita seperti kehilangan budaya kita sendiri.

Sebagaimana yang kita temui saat ini. Ada begitu banyak sikap sosial atau sikap keagamaan yang mengacu kepada pelabelan atau istilah permusuhan. Tentu, mutlak saya katakan bahwa hal yang demikian, bukan budaya kita sendiri. Artinya apa? di Nusantara, tidak ada satu-pun etika kebudayaan yang mengacu kepada orang lain itu dianggap musuh.

Sebagaimana, ketika ada tetangga yang berbeda keyakinan, itu masyarakat Nusantara sejak dulu selalu ramah, menyambut dengan meriah dan penuh tolerant. Maka, IKN Nusantara ini adalah satu harapan besar bagi kita untuk kembali membanggakan kebudayaan kita sendiri.

Maka, cobalah kita pahami pesan Presiden Soekarno. “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai bangsa yang merdeka”. Sebagaimana, kita memiliki kekuatan berbasis kebudayaan yang menjadi kunci besar peradaban Nusantara di masa lalu.

Sebagaimana dulu, Masyarakat Nusantara kalau ada pekerjaan apa-pun, mereka tidak pernah mengenal istilah (biaya tukang). Karena prinsipnya adalah (gotong-royong). Ketika ada tetangga yang mengalami kesusahan, mereka saling (tolong-menolong). Pun, ketika ada tetangga yang berbeda keyakinan, mereka tidak pernah marah-marah atau main pukul. Karena mereka menyambut dengan ramah dan begitu santun.

Jadi, point penting dari narasi di atas, adalah kita harus beragama dengan tetap menjadikan budaya Nusantara sebagai prinsip sosial kita-bersama. Karena, kunci kejayaan Nusantara yang perlu kita bangkitkan itu, bukan sesuatu yang bersifat peperangan, penaklukan atau bahkan kebencian terhadap agama yang berbeda. Sebab, kunci kejayaan Nusantara bersifat paradigmatis. Yaitu karakter sosial yang begitu saling menghargai, menghormati, tolong menolong, santun dan begitu ramah.

Facebook Comments