Arif dalam Berdakwah, Kunci Merawat Kebhinekaan

Arif dalam Berdakwah, Kunci Merawat Kebhinekaan

- in Suara Kita
170
0

Ada semacam anggapan bahwa dakwah kalau tidak kasar, tidak menjelek-jelekkan agama/kepercayaan orang lain atau tidak menghina pemerintah, itu bukanlah dakwah dan itu bukanlah ulama yang sebenarnya.

Ini bisa dilihat dari komentar-komentar di media sosial. Para penceramah yang kasar, provokatif, dan penuh caci-maki lebih banyak penontonnya ketimbang dakwah yang lembut, sejuk, dan penuh kedamaian.

Bahkan ada semacam standar di sebagian pihak, penceramah atau ulama yang benar itu adalah ulama yang dibencii oleh para penguasa. Ucapan Imam Syafii pun dicatut, “Cari ulama yang dibencii oleh penguasan, sebab mereka adalah sebenar-benar ulama,” tanpa melihat konteks atau benar tidaknya ucapan ini keluar dari mulut Imam Syafii.

Fenomena ini tentu sangat mengkhawatirkan. Dakwah yang sejatinya adalah mengajak, bukan mengejek; merangkul bukan memukul; ramah, bukan marah, lama-lama terdistorsi.

Al-Quran sejak dini sudah menyatakan bahwa salah satu pilar utama dalam berdakwah adalah bil hikmah,yakni kearifan atau kebijaksanaan. Arif dalam berdakwah artinya mengajak dengan penuh perhatian objek dakwah dengan menampakkan keindahan tentang apa yang mau disampaikan.

Fenomena ini adalah suatu tantangan bagi gerak dakwah di Nusantara. Wajah dakwah bisa kotor dan berdebu jika tidak ditanggulangi secepatnya. Bahkan boleh jadi, –seperti ada fenomena di lapangan –orang malah bosan bahkan anti mendengarkan ceramah agama.

Kearifan Dakwah Nusantara 

Oleh sebab itu, kembali ke model dakwah Nusantara yang tolereran, moderat dan penuh kasih sayang adalah jalan keluar yang harus ditempuh. Mengapa ini perlu dilakukan?

Setidaknya ada tiga argumen yang bisa yang mendukung bahwa  Dakwah Nusantara itu dilakukan dengan jalan damai, yaitu metode dakwah, ajaran agamanya, dan para pembawanya.

Secara metode, Islam masuk ke wilayah ini dengan cara-cara moderat. Moderat di sini dimaknai sebagai cara-cara yang santun, bijak, dan ada kerjasama dengan budaya setempat.

Dari segi ajaran –sebagai sering diungkapkan oleh Azyumardi Azra –Islam Nusantara itu sejak awal memang berwajah moderat. Fikihnya adalah Syafiiyah, satu mazhab jalan tengah antara Hanafi (rasional) dan Maliki (tradisional).

Akidahnya adalah Asyariyah-Maturidiyah, jalan tengah antara Muktajilah (rasional) dan Ahmad bin Hanbal (tekstual). Tasawufnya adalah Al-Ghazali dan Junaid Al-Bagdadi, jalan tengah antara kaum anti-tasawuf (Ibnu Taimiyah dan Wahabi) dan kaum anti syariah (sufi kebablasan).

Para pembawanya pun adalah orang-orang moderat, yakni juru dakwah yang berstatus sebagai saudagar. Bukan penguasa atau jenderal perang yang datang untuk menaklukkan Nusantara dan memaksa wilayah taklukkanya agar ikut dengan agamanya.

Ketiga unsur itu ibarat segi tiga siku-siku, tidak bisa dipisahkan. Memisahkan ketiganya akan terjadi ketimpangan.

Tigas Unsur Utama

Penjelasan di atas menunjukkan, bahwa ketika berbicara dakwah Nusantara, maka tidak bisa lepas dari tiga unsur utama, yakni metode (dengan cara apa dakwah itu disampaikan), konten (materi atau isi dari dakwah), dan da’i (pelaku/orang yang melakukan aktivitas dakwah).

Dakwah yang moderat adalah dakwah yang ketiga unsur ini harus juga moderat. Metodenya harus moderat, isi dakwahnya harus moderat, dan dai pun harus moderat. Syarat ini adalah syarat kumulatif, wajib ada tiga-tiganya, bukan alternatif, bisa memilih salah satunya.

Dengan demikian, jika ada yang mendaku sebagai pengikut Ahli Sunnah wal Jamaah, tetapi metode dakwahnya jauh dari semangat moderasi, justru yang ada adalah caci-maki, arogansi, menyalahkan amaliyah pihak lain, dan merasa paling benar, maka itu bukanlah dakwah Nusantara.

Atau jika ada yang mengklaim sebagai pembela Islam, pewaris perjuangan para habaib, tetapi metode dan konten dakwahnya tidak ada kesejukan dan kedamaian di dalamnya, dengan cepat bisa disimpulkan, itu bukanlah model dakwah walisongo yang terkenal dengan semangat moderasinya.

Ketiga unsur ini juga sekaligus bisa dijadikan sebagai rumus untuk menilai mana yang disebut dakwah Nusantara ala walisongo, dan mana dakwah yang jauh dari cara-cara yang dilakukan oleh para walisongo.

Para pengusung dan pengasong khilafah, meski disampaikan dengan metode dakwah yang adem dan damai, tetapi secara konten dan meteri dakwah –yaitu mengampanyekan gagasan khilafah –tidak bisa disebut sebagai dakwah Nusantara. Sebab, para walisongo tidak pernah mendakwahkan untuk mengganti sistem pemerintah yang berlaku pada waktu itu dengan sistem baru yang mereka tawarkan.

Dakwah Sekarang?

Dakwah sekarang bisa ditakar mana yang sesuai dengan moderasi dakwah Nusantara mana yang tidak. Dari segi metode, tidak sedikit dakwah sekarang disampikan dengan cara-cara ekstrim. Memprovokasi, menjadikan ayat Al-Quran/Hadis untuk melaknat kelompok yang berbeda dengannya, serta dakwahnya disampaikan dengan kata-kata kotor dan kasar, yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri.

Dakwah yang justru laris, viral, dan disukai zaman sekarang adalah dakwah yang jauh dari semangat moderasi dakwah Nusantara. Berapa banyak yang bersimpati dan ikut terhadap gerakan khilafah di negari ini.

Khilafah yang jelas-jelas berseberangan dengan konsensus bersama justru malah mendapat tempat banyak tempat di negeri ini. Ini adalah tantangan besar bagi semua pihak. Jangan sampai semangat moderasi yang sudah disemaikan oleh para walisongo hanya tinggal di buku-buku pelajaran saja.

Kita perlu kerja bersama untuk mengaktifkan kembali moderasi dakwah Nusantara ini. Semua lapisan harus ikut berpatisipasi. Kita cetak kader-kader yang bukan hanya jago memainkan dalil, tetapi juga jago wawasan sejarah dan wawasan kebangsaannya.  

Facebook Comments