Senin, 17 Juni, 2019
Informasi Damai
Archives by: Heru harjo hutomo

Heru harjo hutomo

Heru harjo hutomo Posts

Gelagat: Antara Pancasila dan Kerangka Pikir Para Aparatur Negara

Menjadi Netizen Cerdas, Menjadi Influencer Anti Adu Domba
Suara Kita
Seorang teman memutuskan untuk memeluk Islam. Ia telah bersyahadat sekitar tiga tahun lalu. Tentu, tak mudah menjalani apa yang saya sebut sebagai “orang ambang.” Di satu sisi, ia bukan lagi menjadi bagian dari umat agama sebelumnya, yang sudah pasti memuat konsekuensi tertentu. Tapi di sisi lain, ia tak sepenuhnya juga seorang yang diakui dan diterima oleh agama barunya. Maklum, di negeri ini, Islam tak sekedar laku hidup yang semestinya dijalani ...
Read more 1

Reh

Reh
Suara Kita
Padha gulangen ing kalbu Ing sasmita amrih lantip Aja pijer mangan nendra Ing kaprawiran den kaesthi Pesunen sariranira Cegahen dhahar lan guling Dadia lakunireku Cegah dhahar lawan guling Lan aja kasukan-sukan Anganggoa sawatawis Ala wateke wong suka Nyuda prayitna ing batin   Paku Buwana IV, konon, adalah seorang raja yang tak begitu nyaman dengan politik praktis. Suatu ketika, menjelang penobatannya, ia datangi pamannya, Pangeran Purbaya. “Paman, aku tak tahan dengan ...
Read more 1

Fitri

Fitri
Video Damai
Kawruhana kaki lamun mbenjang yen wus palastra Nyandi parane Upamakna paksi mabur Ucul saking kurunganeki Upamakna wong lunga sanja Wus mesthine mulih Mula mulanira   Ketahuilah, Nak Ketika esok tiada Ke manakah kiranya? Seumpamanya burung berkepak liar Yang lepas dari sangkar Atau pelancong yang mesti pulang Ke kesilaman yang dirindukan —(Sunan Bonang) Udik berarti ndeso ataupun utun. Kata kerja aktifnya: mudik. Dalam khazanah budaya nusantara ada satu tradisi menjelang lebaran ...
Read more 1

Setan

Setan
Suara Kita
Tumbuh-kembangnya sebuah peradaban ternyata tergantung pula oleh satu hal: kambing-hitam. Pada rezim nazi, hal itu adalah “Yahudi.” Pada era orde baru di Indonesia, hal itu adalah “komunis” ataupun “cina.” Bagaimana di masa sekarang, ketika radikalisme keagamaan berupaya menyesaki ruang publik bangsa Indonesia? Tentu, sebagaimana yang kita alami, kuping kita terbiasa dengan judgment semisal “komunis,” “cina,” plus “kafir.” Saya pikir sudah menjadi tabiat dasar manusia untuk mencari dan menetapkan kambing-hitam atas ...
Read more 1

Membidik Tanpa Hardik

Membidik Tanpa Hardik
Suara Kita
Perawakannya sedang. Sikapnya luruh, anteng, jatmika. Tutur katanya halus. Pernah saya dan beberapa kadang mengorek bawah sadarnya perihal seorang perempuan yang singgah kali pertama di hatinya. Kami pun terpingkal, bukan karena mengejek atau bermaksud merendahkan. Tapi karena saking sucinya ia, baiknya, ia. Perempuan itu adalah perempuan Belanda, yang, setelah pecah perang, raib ke negara asalnya. Dan ia, yang barangkali saking baiknya, tak pernah berusaha memilikinya. Bahkan setelah sang isteri pergi ...
Read more 0

Menggugat “Indonesia”: Ahmad Syafii Maarif dan Politik Identitas di Indonesia

Suara Kita
Datang dari lingkungan yang identik dengan paham wahabi tak menyurutkan nyali seorang Ahmad Syafii Maarif untuk menjadi sesosok “pemberontak.” Sumatera Barat, di akhir abad ke-18, yang lekat dengan puritanisme Islam, adalah wilayah subur untuk persemaian paham wahabisme—konflik antara kaum mudo (Islam puritan) dengan kaum tuo (adat), perang padri, babak ke-2 sejarah organisasi Muhammadiyah yang lekat dengan besutan tokoh-tokoh yang pernah bersinggungan dengan pendidikan keislaman di Sumatera Barat. Buat saya pribadi, ...
Read more 0

Melongok Dari yang Tak Pokok

Melongok Dari yang Tak Pokok
Suara Kita
Selama sepekan ini, tercatat bangsa Indonesia tengah diguncang dengan berbagai teror yang bernuansa agama—atau lebih tepatnya, berbungkus agama tertentu. Selasa, 08 Mei 2018, Mako Brimob menjadi sasaran teror yang menewaskan lima aparat kepolisian. Lusanya, Kamis, 10 Mei, satu aparat juga tumbang ditusuk seorang lelaki yang mencurigakan. Dan masih di kompleks yang sama, Sabtu, 12 Mei, dua perempuan yang diduga akan melakukan penusukan berhasil ditangkap (www.tempo.com 13/05/2018). Esoknya, Minggu, 13 Mei, ...
Read more 0

Berpijak di Akar Budaya yang Sama

Suara Kita
BENARLAH ujar para orangtua, bukan Jakarta apalagi Eropa letak tujuan segenap sistem kebudayaan maupun keagamaan. Tapi, Ponorogo. Pono berarti “mawas/tahu” dan rogo adalah “diri”. Sodong, sebuah padhukuhan yang terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tepatnya di Desa Gelangkulon, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo. Untuk menuju Sodong saya perlu menyusuri jalan kecil pegunungan yang menanjak dan berkelok. Di kaki gunung Suci, desa Pager Ukir, sekitar 2 km dari tempat tujuan ...
Read more 0

Dengung Agung

Dengung Agung
Suara Kita
HAMPIR sebulan saya mengunjungi tempat kelahiran saya: Ponorogo. Ada beberapa tempat yang saya kira—di tengah maraknya radikalisme keagamaan dan aksi-aksi intoleran belakangan ini—luput dari gempuran-gempuran isu bernuansa SARA ataupun hoax yang bertujuan untuk memecah-belah keutuhan masyarakat, mengoyak anyaman kebangsaan. Selain Dusun Sodong, Desa Gelangkulon, kecamatan Sampung, dan Desa Klepu, kecamatan Sooko, ada satu lagi desa yang memiliki tingkat toleransi yang tinggi dan kohesi sosial yang kuat: Bulu Lor, Kecamatan Jambon, ...
Read more 0

Menghidupi Tradisi, Menyemai Toleransi

Menghidupi Tradisi, Menyemai Toleransi
Suara Kita
“Klepu, Desa Terpencil di Ponorogo 40 Tahun Lebih di Kuasai Salibis,” judul sebuah narasi ketika saya searching di internet tentang desa Klepu (www.suara-islam.com 27/01/2015). Atau narasi lainnya yang masih mengobarkan semangat yang sama: sentimen antar agama. Seperti alasan pendirian Gedung Pembinaan dan Pelatihan Mualaf, di mana sumber dananya berasal dari kedubes Saudi Arabia, di samping untuk memujudkan kemandirian ekonomi juga untuk “mengokohkan akidah” (www.republika.com 02/06/2016). Dalam narasi-narasi itu Klepu selalu ...
Read more 1
Translate »