Senin, 10 Desember, 2018
Informasi Damai
Archives by: Heru harjo hutomo

Heru harjo hutomo

Heru harjo hutomo Posts

Menggugat “Indonesia”: Ahmad Syafii Maarif dan Politik Identitas di Indonesia

Suara Kita
Datang dari lingkungan yang identik dengan paham wahabi tak menyurutkan nyali seorang Ahmad Syafii Maarif untuk menjadi sesosok “pemberontak.” Sumatera Barat, di akhir abad ke-18, yang lekat dengan puritanisme Islam, adalah wilayah subur untuk persemaian paham wahabisme—konflik antara kaum mudo (Islam puritan) dengan kaum tuo (adat), perang padri, babak ke-2 sejarah organisasi Muhammadiyah yang lekat dengan besutan tokoh-tokoh yang pernah bersinggungan dengan pendidikan keislaman di Sumatera Barat. Buat saya pribadi, ...
Read more 0

Melongok Dari yang Tak Pokok

Melongok Dari yang Tak Pokok
Suara Kita
Selama sepekan ini, tercatat bangsa Indonesia tengah diguncang dengan berbagai teror yang bernuansa agama—atau lebih tepatnya, berbungkus agama tertentu. Selasa, 08 Mei 2018, Mako Brimob menjadi sasaran teror yang menewaskan lima aparat kepolisian. Lusanya, Kamis, 10 Mei, satu aparat juga tumbang ditusuk seorang lelaki yang mencurigakan. Dan masih di kompleks yang sama, Sabtu, 12 Mei, dua perempuan yang diduga akan melakukan penusukan berhasil ditangkap (www.tempo.com 13/05/2018). Esoknya, Minggu, 13 Mei, ...
Read more 0

Berpijak di Akar Budaya yang Sama

Suara Kita
BENARLAH ujar para orangtua, bukan Jakarta apalagi Eropa letak tujuan segenap sistem kebudayaan maupun keagamaan. Tapi, Ponorogo. Pono berarti “mawas/tahu” dan rogo adalah “diri”. Sodong, sebuah padhukuhan yang terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tepatnya di Desa Gelangkulon, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo. Untuk menuju Sodong saya perlu menyusuri jalan kecil pegunungan yang menanjak dan berkelok. Di kaki gunung Suci, desa Pager Ukir, sekitar 2 km dari tempat tujuan ...
Read more 0

Dengung Agung

Dengung Agung
Suara Kita
HAMPIR sebulan saya mengunjungi tempat kelahiran saya: Ponorogo. Ada beberapa tempat yang saya kira—di tengah maraknya radikalisme keagamaan dan aksi-aksi intoleran belakangan ini—luput dari gempuran-gempuran isu bernuansa SARA ataupun hoax yang bertujuan untuk memecah-belah keutuhan masyarakat, mengoyak anyaman kebangsaan. Selain Dusun Sodong, Desa Gelangkulon, kecamatan Sampung, dan Desa Klepu, kecamatan Sooko, ada satu lagi desa yang memiliki tingkat toleransi yang tinggi dan kohesi sosial yang kuat: Bulu Lor, Kecamatan Jambon, ...
Read more 0

Menghidupi Tradisi, Menyemai Toleransi

Menghidupi Tradisi, Menyemai Toleransi
Suara Kita
“Klepu, Desa Terpencil di Ponorogo 40 Tahun Lebih di Kuasai Salibis,” judul sebuah narasi ketika saya searching di internet tentang desa Klepu (www.suara-islam.com 27/01/2015). Atau narasi lainnya yang masih mengobarkan semangat yang sama: sentimen antar agama. Seperti alasan pendirian Gedung Pembinaan dan Pelatihan Mualaf, di mana sumber dananya berasal dari kedubes Saudi Arabia, di samping untuk memujudkan kemandirian ekonomi juga untuk “mengokohkan akidah” (www.republika.com 02/06/2016). Dalam narasi-narasi itu Klepu selalu ...
Read more 0

Sontoloyo, Sempalan, dan Gerakan-Gerakan Kutu Rambut

Suara Kita
Kemat isarat lebur Bubar tanpa daya kabarubuh Paribasan tidhem tandhaning dumadi Begjane ula daulu Cangkem silite anyaplok (Serat Sabdatama)   BUNG Karrno pernah mendedahkan perihal Islam Sontoloyo. Sontoloyo sepadan dengan istilah tolol. Mereka, kalangan sontoloyo itu, adalah apa yang kini disebut sebagai Islam formal—yang lebih mementingkan atribut atau bentuk daripada isi—dan juga Islam politik—karena mengagendakan dipaksakannya syari’ah versi mereka oleh negara. Tentang pola dan karakteristik Islam Sontoloyo tersebut mendapatkan detailnya ...
Read more 0

Hikayat Kebohongan

Suara Kita
DALAM khazanah pewayangan ada tiga macam jagad (loka): jagad manusia, para dewa, dan jagad jin setan peri perayangan. Dunia kita di hari ini pun juga terdiri dari tiga macam dunia: dunia nyata, maya, dan yang terakhir—untuk meminjam istilah Henri Corbin ketika mengulas Syaikh al-Akbar, Muhyiddin Ibn ‘Arabi, lepas dari konteks—dunia “imajinal.” Sebagaimana yang lazimnya dicitrakan sebagai “lelaki,” dunia nyata adalah tempat di mana—dalam kategori lama—seseorang masih menjadi dirinya sendiri, apa ...
Read more 0

Kearifan yang Hilang

Suara Kita
LELAKI terpandang itu tengah tepekur, tenggelam dalam bacaannya. Tak sekedar mewarisi kealiman ayahnya, ia juga lentera kota itu. Hidupnya tertib, tak banyak neko-neko.Namun, semuanya itu ambyar. Sekilas peristiwa telah mengubah hidup dan masa depannya.Seorang “jalang” datang. Tutur-katanya congkak. Wajahnya pongah. Sikapnya sinis. “Siapa yang lebih luhur, Muhammad atau Bayazid?” tanya tiba-tiba lelaki “jalang” itu. Lelaki terpandang itu, sang mufti, yang terbiasa dengan logika hukum, kelu. Tak ditemukannya jawaban atau bahkan ...
Read more 0

Menyulam Kebhinekaan, Menganyam Kebangsaan

Suara Kita
Sapa weruh kembang tepus kaki Sasat weruh marang arta daya Tunggal pancer sauripe Sapa wruhing panuju Sasat sugih pagere wesi Rineksa wong sajagad Kang angidung iku Lamun diapalena Kidung iku den tutug padha sawengi Adoh panggawe ala   (Siapa yang tahu kembang tepus, Nak Pasti tahu sang daya yang berharga Yang manunggal dengan kehidupannya Siapa yang tahu sangkan Pasti kaya berpagar besi Dilindungi semesta Yang menembang itu Kalau dihafalkan Ditembangkan ...
Read more 0

Agama Sipil dan Pecah Belah Ukhuwah Wathaniyah-Basyariyah

Suara Kita
MENJELANG surut-nya, lelaki sepuh itu berkeinginan untuk menemui sang cucu KH Hasyim Asy’ari: Abdurrahman Wahid. Ia masih trahing kusuma rembesing madu, wijining atapa tedhaking andana warih. Dengan kata lain, ia adalah seorang bangsawan yang, dalam istilah orang pesantren, khumul. Pangeran Papak namanya—sebuah nama yang mengacu pada keempat jari sebelah tangannya yang sejajar, racak. Seperti Abu Yazid al-Bisthami, yang menjadi rantai silsilah keilmuan baik pada tarekat Naqsyabandiyah maupun Syathariyah, Pangeran Papak ...
Read more 0
Translate »