Awas, Anak Kita Rentan Terpapar Radikalisme

Awas, Anak Kita Rentan Terpapar Radikalisme

- in Suara Kita
173
3
Awas, Anak Kita Rentan Terpapar Radikalisme

Kemudahan akses internet yang dimiliki oleh anak-anak kita menempatkan mereka sebagai pihak yang rentan  terpapar radikalisme. Bayangkan saja, waktu yang mereka habiskan untuk mengakses internet sedemikian luas, bahkan lebih panjang waktu ketimbang waktu bermain dengan sebayanya.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menemukan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 171,17 juta jiwa atau sekitar 64,8 persen dari total populasi penduduk Indonesia. Dari segi umur, anak di usia 15-19 tahun mempunyai penetrasi paling tinggi (91%) ketimbang segmen usia lainnya. Jika dibagi berdasarkan usia, pengguna internet pada usia 18-25 mencapai 49 persen, disusul oleh usia 26-36 (33,8%), usia 36-45 (14,6%), usia 46-55 (2,4 %).

Bahkan, dalam catatan survey TotallyAwesome tahun 2018, sebuah perusahaan media digital anak, menyebutkan anak-anak kita lebih memilih internet ketimbang televisi. Apalagi, data Totallu Awesome juga menyebutkan bahwa 70 persen anak-anak memiliki telepon pintar.

Data-data di atas pada satu sisi menggembirakan, karena beragam informasi dapat diakses dengan mudah. Namun di sisi lain, ada potensi yang membahayakan bagi penggunanya. Bukan saja mengubah pola dan waktu jam tidur, pola komunikasi dengan sesama, tetapi juga telah mengubah paradigma keberagaman seseorang.

Perlu dicatat pula bahwa penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan termasuk menguatnya ekspresi politik identitas secara berlebihan belakangan ini tak lepas dari pengaruh penetrasi internet bagi bangsa Indonesia. Karena internet, hoaks, narasi kebencian dan ide-ide radikalisme dapat tersebar secara cepat dan massif.

Baca Juga : Anak, Radikalisme, dan Pendidikan Usia Dini

Lalu, apakah kita akan melarang anak-anak kita dari internet? Tentu saja, larangan tak bisa menjadi jawaban jitu atas hal tersebut. Karena, pada fakta lain, internet juga membantu anak untuk mengakses beragam informasi dan ilmu pengetahuan. Bahkan, dalam konteks pendidikan, sebagai upaya untuk menjadikan pendidikan bukan satu-satunya sumber belajar, maka memberikan akses internet kepada peserta didik adalah kewajaran.

Dari sini, tampak bahwa internet ibarat pisau yang jika digunakan oleh orang yang tak tepat maka akan menebar ancaman bukan hanya untuk dirinya tetapi juga bagi orang lain. Sebaliknya, di tangan orang yang tepat, internet akan membantunya bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga kepentingan umum.

Keluarga Sebagai Benteng

Terhadap dilema tersebut, penulis memandang bahwa keluarga memiliki peranan terpenting dalam menentukan apakah internet memberi ancaman atau harapan bagi anak-anaknya. Tantangan orang tua hari ini bukan sekedar membersarkan fisik anak, bukan pula memberikan pendidikan yang berkualitas, tetapi juga menjaga pergaulan mereka, terutama pergaulan di dunia maya.

Dulu, orang tua akan merasa tenang jika memiliki anak yang hanya anteng berada di dalam kamar. Namun kini, diamnya anak di dalam rumah dengan ponsel pintar dalam genggamannya akan menghadirkan bencana. Ia dengan mudah dapat mengakses beragam informasi yang tidak patut dikonsumsi, terlebih banyaknya narasi-narasi kebencian dan hoaks di media sosial.

Karena itu, orang tua perlu membuat regulasi dalam keluarga, antara orang tua dan anak, ihwal do & don’t terkait dengan internet, serta memberi pengawasan yang cukup untuk menegakkan regulasi tersebut. Regulasi yang disusun tidak boleh bersifat top-down, tetapi harus berdasarkan kesepakatan bersama, sehingga kedua belah pihak, anak dan orang tua, bisa sama-sama menjaga.

Membangun suasana demokratis, mengajak anak berpikir dan bersuara, dan membuat kesepakatan bersama akan menciptakan anak yang tak hanya bersikap demokratis melainkan juga toleran dan penuh respek. Suatu nilai-nilai penting yang belakangan terus terkikis oleh zaman.

Dengan cara itulah, anak akan menjadi perhiasan (QS. Al-Kahfi: 46) dan penyejuk hati (Al-Furqon: 74) yang akan terus berbakti kepada kedua orang bukan sebagai fitnah (QS. At-taghabun: 15) dan musuh orang tua (QS. At-Taghabun 14).

Budaya Damai

Selain dari pada itu, penting kiranya juga menciptakan budaya damai, baik di lingkungan sekitar rumah maupun di sekolah. Dalam konteks hidup bertetangga, kita perlu tetap mendahulukan perjumpaan fisik ketimbang pertemuan maya melalui chat. Ini penting garisbawahi, karena dalam amatan penulis, banyak di antara kita lebih intens komunikasi dan interaksi dengan rekan dan kolega maya-nya ketimbang dengan tetangga sekitar. Teknologi internet memang mendekatkan yang jauh, tetapi juga menjauhkan yang dekat.

Termasuk dalam hal ini, tidak sedikit yang resah dengan situasi sosial-politik kita yang dalam bayangannya Indonesia segera runtuh. Padahal, jika saja yang bersangkutan rutin bertegur sapa dengan tetangga sekitar dan ngeronda tampak sangat jelas bahwa tatanan sosial di masyarakat kita masih adem-ayem.  

Benar bahwa hajatan politik memberikan kontribusi terhadap kerenggangan di masyarakat yang kemudian dieskalasi melalui jalur internet. Karena itu, perjumpaan-perjumpaan di masyarakat secara langsung perlu terus digalakkan, tentunya perjumpaan dengan orang-orang yang berbeda baik dari segi etnis, suku, maupun agama.

Dalam ruang pendidikan, seorang siswa harus sejak dini dibekali kompetensi multikulturalisme yang kelak akan menjadi bekal dalam pergaulan mereka dalam masyarakat yang lebih kompleks dan beragam. Kompetensi multikulturalisme ini tidak bisa dicapai hanya dengan penyampaian materi di ruang kelas, tetapi juga harus dirasakan oleh masing-masing siswa melalui pengalaman dialog dan perjumpaan dengan kelompok yang berbeda. Dalam kerangka inilah, inisiatif-inisiatif untuk membangun kompetensi multikulturalisme siswa harus disambut positif. Karena dengan cara inilah, cita-cita perdamaian dapat berwujud, sebuah cita-cita yang selaras dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan oleh UNESCO.

Facebook Comments