Bangkit Bersatu Menangkal Ideologi Transnasional

Bangkit Bersatu Menangkal Ideologi Transnasional

- in Suara Kita
353
0
Bangkit Bersatu Menangkal Ideologi Transnasional

Hari Kebangkitan Nasional saban 20 Mei yang merujuk pada hari lahir organisasi Boedi Oetomo pada 1908 memiliki nilai filosofis dan historis bagi bangsa Indonesia. Secara filosofis, Kebangkitan Nasional menandai satu fase kesadaran kebangsaan di kalangan generasi muda Nusantara kala itu. Kesadaran untuk menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan akan identitasnya sebagai manusia Indonesia.

Sedangkan secara historis, Kebangkitan Nasional menandai satu titik awal dimulainya perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Barangkali, proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 tidak akan pernah terjadi tanpa adanya kebangkitan nasional yang disimbolkan dengan kelahiran Boedi Oetomo (1908) atau Sumpah Pemuda (1928).

Kita tentu harus mengakui bahwa munculnya organisasi sosial-kemanusiaan yang dimotori oleh kaum terpelajar seperti Boedi Oetomo dan sebagainya tidak lepas dari jasa politik etis kaum kolonial kala itu. Meski demikian, kebangkitan nasional kiranya juga berhutang pada sejumlah faktor baik internal maupun eksternal. Dari sisi internal, penindasan akibat kolonialisme, romantisme kejayaan masa lalu (Majapahit dan Sriwijaya) serta munculnya kaum intelektual sebagai kelas sosial baru menyumbang andil pada bangkitnya spirit nasionalisme. Dari sisi eksternal, munculnya gerakan revolusi kemerdekaan di sejumlah negara Asia dan Afrika mendongkrak semangat wilayah-wilayah jajahan untuk memerdekakan diri dari cengkeraman kolonial.

Ideologi Transnasional Sebagai Tantangan Kebangsaan

Kini, lebih dari tujuh dekade bangsa ini menikmati kemerdekaannya. Era kolonialisme klasik yang dipahami sebagai pendudukan satu negara oleh negara lain telah berakhir. Indonesia pun diakui dunia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Meski demikian, hal itu tidak lantas berarti bahwa kita telah lepas dari segala macam tantangan kebangsaan. Di era abad ke-21 ini, tantangan kebangsaan yang muncul justru kian beragam dan semakin berevolusi.

Dari sisi internal, kita menghadapi berbagai macam persoalan. Mulai dari segregasi sosial akibat melebarnya kesenjangan ekonomi. Hingga polarisasi politik akibat praktik kotor dalam demokrasi kita. Dari sisi internal, kita menghadapi beragam tantangan yang tidak mudah. Salah satunya mewujud pada penyebaran paham dan gerakan transnasional yang dibalut dengan nuansa keagamaan. Dalam bukunya, Ideologi dan Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Ali Muhtarom menjelaskan bahwa ciri paham atau gerakan transnasional dapat diidentifikasi dari setidaknya tiga hal. 

Pertama, anti-nasionalisme dalam artian tidak mengakui identitas kebangsaan dan kenegaraan. Sikap ini dilatari oleh agenda ideologi dan gerakan transnasional yang menghendaki terciptanya sebuah kekuasaan tunggal (imperium) yang menguasai seluruh dunia. Kedua, anti-Pancasila lantaran menganggap ideologi yang paling sempurna ialah ideologi yang berdasar pada ajaran agama (Islam). Ketiga, anti kebinekaan dan kearifan lokal dalam artian tidak mengakui keunikan budaya atau tradisi yang berakar dari kehidupan masyatakat lokal.

Lantaran karakter itulah, paham dan gerakan transnasional kerap problematis. Di satu sisi, paham atawa gerakan transanasional selalu menjanjikan tatanan kehidupan yang damai, sejahtera, dan adil di bawah kekuasaan kekhalifahan Islam. Namun, di sisi lain watak ideologi transnasional yang anti-kebangsaan, anti-keragaman, dan anti-kearifan lokal lebih sering justru melahirkan fenomena intoleransi, ekstremisme-kekerasan, radikalisme bahkan terorisme. Dalam dua dekade pasca-Reformasi, fenomena kekerasan dan teror atas nama agama yang menghantui ruang publik kita tidak bisa dilepaskan dari penetrasi gerakan transnasional yang kian menggurita.

Tiga Spirit Harkitnas untuk Melawan Ideologi Transnasional

Dalam konteks inilah, relevan kiranya memaknai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) sebagai momentum untuk bangkit bersama melawan ideologi transnasional. Bangkit bersama diartikan sebagai kewaspadaan dan kesiapsiagaan penuh seluruh elemen bangsa untuk mendeteksi sedini mungkin sekaligus menghalau segala potensi yang mengarah pada gerakan dan paham transnasional yang anti-Pancasila dan NKRI.

Ada tiga spirit yang bisa kita ambil dari Hari Kebangkitan Nasional dan kiranya relevan di era sekarang. Pertama, komitmen pada nasionalisme. Di masa lalu, spirit nasionalisme menjadi elemen pemersatu dalam melawan kolonialisme. Di era sekarang nasionalisme idealnya juga menjadi elemen pemersatu dalam menghalau segala ideologi anti-Pancasila dan NKRI.

Kedua, komitmen untuk menjaga kebinekaan dalam bingkai persatuan. Di masa lalu, para pemuda rela menanggalkan sentimen kepentingan primordial untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Di era sekarang, kita wajib menjaga kebinekaan lantaran kemajemukan merupakan pilar dari tegaknya NKRI.

Ketiga, komitmen untuk merawat kearifan lokal dan kebudayaan asli Nusantara lantaran hal itu merupakan salah satu fondasi identitas keindonesiaan. Lestarinya budaya dan kearifan lokal menandai bahwa kita masih setia pada akar dan asal-usul keberadaan kita. Sebaliknya, pudarnya budaya dan kearinfan lokal mencirikan adanya ketercerabutan kita pada latar sejarah kita.

Facebook Comments