Bantahan Ulama Pada Pemaknaan Radikal Al Wara Wal Bara

Bantahan Ulama Pada Pemaknaan Radikal Al Wara Wal Bara

- in Narasi
930
0
Bantahan Ulama Pada Pemaknaan Radikal Al Wara Wal Bara

Al Wara Wal Bara dipahami sebagai konsep eklusif (menutup diri) dan bersikap intoleran kepada kelompok yang berbeda keyakinan. Pemahaman yang cenderung dipraktikkan oleh kelompok radikal ini, biasanya didasarkan pada QS. Ali Imran ayat 118, QS. Al-Maidah ayat 51 dan 57, QS. Al Mujadalah ayat 22 dan QS. At Taubah ayat 23-24. Kesemua ayat Al-Qur’an tersebut dipahami secara keliru oleh kelompok radikal.

Padahal jika dirinci lebih dalam, dalil Al-Qur’an yang memperkuat pemahaman Al Wara Wal Bara hanyalah dapat diterapkan dalam situasi darurat, semisal peperangan. Dalam keadaan biasa, pemahaman Al Wara Wal Bara tidak dapat diterapkan secara eklusif dengan melakukan tindakan intoleransi dan eklusif. Pemahaman ini harus diterapkan secara moderat serta proporsional sebagaimana pandangan ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

Menilik keadaan Indonesia masa kini, pemahaman Al Wara Wal Bara sangat janggal dilaksanakan. Hal ini dikarenakan keadaan Indonesia yang terpantau aman dan tidak terjadi peperangan. Maka penerapan Al Wara Wal Bara, hanya akan memecah belah bangsa yang heterogen. Semua orang yang mempunyai perbedaan akan saling bermusuhan.

Salah Pandang Ayat Al-Qur’an

Sejatinya Al-Qur’an dapat dijadikan landasan untuk setiap permasalahan, termasuk dalam membingkai kerukunan antar umat manusia. Hal paling mendasar untuk memberikan tafsir Al-Qur’an adalah meniadakan ego yang ada dalam diri sendiri. Sehingga tafsir yang diberikan benar-benar murni dari hasil olah pikir dan ijtihad yang dilakukan secara maksimal.

Alissa Wahid, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia menyatakan bahwa pemahaman Al Wara Wal Bara sudah sejak lama kehilangan konteksnya, karena kondisi zaman yang sudah beradaptasi ke bentuk yang lebih aman. Terlebih lagi, Islam yang sudah menyebar ke seluruh dunia dan mengusung tinggi konsep rahmatan lil alamin. Maka menghargai keyakinan yang berbeda menjadi satu kenyataan yang harus selalu digunakan untuk mendukung kemajuan Islam.

Salah satu ayat yang disalahpahami oleh kelompok radikal adalah QS. Ali Imran ayat 118. Dalam ayat ini, termaktub “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti.”

Ayat ini tidak bisa dipahami secara tekstual, namun harus ditelaah terkait asbabun nuzulnya, sehingga konteks pemahamannya bisa sesuai. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Ishaq dari Ibnu Abbas, bahwa asbabun nuzul dari QS. Ali Imran ayat 118 berkaitan dengan perjanjian yang dibuat orang muslim dengan orang Yahudi semasa Zaman Jahiliyah. Kemudian turunlah ayat ini untuk mencegah kemungkaran-kemungkaran yang akan dilakukan orang Yahudi nantinya.

Apabila penerapan ini diaktualisasikan ke dalam Indonesia, maka akan berdampak besar pada kondisi bangsa. Dimana bangsa yang mayoritas heterogen, akan saling menuduh dan tidak mempunyai rasa kepercayaan antara satu dengan yang lainnya. Turunnya ayat ini berkenaan dengan situasi dakwah Nabi yang dahulu masih sangat sulit.

Sehingga selektifitas kerjasama perlu diperhatikan. Begitu pula, dengan kondisi politik yang belum stabil, sehingga apabila salah memilih dapat berakibat fatal bagi Islam. Maka bangsa Indonesia yang dalam keaadaan aman, tidak tepat diterapkan pemahaman Al Wara Wal Bara. 

Pendapat Ulama Pada Makna Al Wara Wal Bara

Abdul Fattah bin Shalih Qiddisy Al-Yafi‘I dalam karyanya Tashihu Mafahim fil Wala wal Bara menegaskan bahwa pemahaman Al Wara Wal Bara hanyalah berkutat pada masalah keimanan. Hal ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh At-Thabarani dari Sahabat Ibnu Abbas. Penerapan Al Wara Wal Bara yang diterapkan secara serampangan dalam konteks sosial, hanya akan berdampak pada tindakan ekstrem baik kanan (ifrath) maupun kiri (tafrith).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Abdul Fattah bin Shalih Qiddisy Al-Yafi‘I menunjukkan bagaimana besarnya rasa pemurah dan kasih sayang rasul, mengalahkan rasa dendam. Dalam peristiwa Fatkhul Makkah, Rasul dengan jiwa pemimpinnya memberikan pemakluman dan pemaafan kepada orang kafir Quraisy. Tokoh-tokoh besar seperti Abu Sufyan diberi kehormatan dengan menjaminkan keamanan kepada orang kafir yang masuk ke rumahnya.

Sedangkan menurut KH Ahmad Siddiq, Rais Aam PBNU tahun 1984-1991 mengartikan pemahaman Al Wara Wal Bara dalam trilogi persaudaraan, yaitu persaudaraan antar agama, persauddaraan antar bangsa, dan persaudaraan antar manusia. Konsep tersebut terlihat lebih relevan dan dapat diterapkan di negara Indonesia yang dalam keadaan aman dan plural.

Facebook Comments