“Bayi” Indonesia Dimakan Hoaks

“Bayi” Indonesia Dimakan Hoaks

- in Suara Kita
93
1
“Bayi” Indonesia Dimakan Hoaks

Perkampungan dipercantik. Warganya juga bahagia mengikuti aneka lomba. Panorama indah ini hanya biasanya kita jumpai saat perayaan HUT kemerdekaan RI. Di sesela itu, disegarkan pula cerita heroik bangsa Indonesia mengusir penjajah. Sekeping fakta menarik yang perlu diumumkan ke publik ialah “bayi” Indonesia yang baru berumur 2 tahun hampir “mampus” dikoyak hoaks. Ternyata kabar bohong bukan hanya mengguncang kita dewasa ini. Kabar palsu juga telah merongrong negeri ini pada awal kemerdekaan.

Dikisahkan, bermula dari tentara Belanda hendak merebut kembali kemerdekaan dari tangan rakyat Indonesia. Mereka menaiki pesawat pemburu terbang rendah seraya menjatuhkan bom dan melepaskan tembakan pada 19 Desember 1948. Musuh ini di beberapa kota mengincar stasiun radio warisan Jepang. Memang, Belanda meluncurkan strategi perang urat syaraf. Mereka bermaksud mencuatkan kepanikan dan kebingungan, curiga-mencurigai, mengadu domba golongan politik di kelompok perjuangan, dan sabotase sarana umum. Sarana yang dipakai antara lain siaran radio. Tatkala barisan terdepan tentara Belanda menyerbu kota pada konsentrasi pasukan Indonesia, tank, panser, dan truk dibunyikan sekeras mungkin. Lantas via pengeras suara radio, mereka menganjurkan agar gerilyawan angkat tangan. Sering pula disertai tembakan senjata otomatis dan serangan udara, sehingga menyebabkan pejuang dan warga yang bermental lemah ikut panik.

Bagaimanapun, perang urat syaraf mampu menajamkan perselisihan intern di banyak wilayah. Golongan pro diplomasi dan golongan kanan diadu, sentimen kesukuan dipertajam bermodal isu orang Jawa akan menguasai suku lainnya. Ide yang direncanakan Van Mook dan Jendral Spoor ini menerapkan rumusan pribumi melawan pribumi. Demi memuluskan siasat itu, Belanda sukar meremehkan sarana komunikasi radio. Kenyataan ini terbukti saat laskar Indonesia menggempur kota pada 20 Mei 1949 di sesela memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Selain mengobrak-abrik markas dan tangsi Belanda, pejuang menyerang studio radio Belanda (ROIO). Penyerangan studio radio berujung pada beberapa penjaga mengalami cidera.

Baca Juga : Pancasila, NKRI, dan Muhammadiyah

Belanda mahfum bahwa siaran radio ialah alat propaganda ampuh dan tidak kalah dibanding kekuatan bersenjata. Maka, di perempatan sebelah timur studio acap ditempatkan sebuah panser yang siap menghadapi serangan mendadak gerilyawan. Belanda juga menarih penjaga di halaman studio dan patroli. Zender atau pesawat pemancar Belanda ini tidak rusak parah. Akan tetapi, peristiwa ini menyebabkan petugas panik, dan siarannya terpaksa mandeg beberapa waktu. Tersungging senyum puas gerilyawan mendapati terhentinya siaran. Propaganda hitam Belanda pun dapat dicegah secepatnya.

Selain menghancurkan alat komunikasi musuh, angkasawan bersama laskar perjuangan menyelamatkan pemancar radio guna menangkis hoaks yang terus-menerus ditebarkan musuh. Di Kota Solo, misalnya, alat elektronik ini dibawa sampai ke Balong, Kecamatan Jenawi, Karanganyar. Proses pengangkutannya menelan waktu 4 hari dengan memakai truk Chevrolet tua. Ketika sampai di Desa Punthukreja, truk terpaksa berhenti gara-gara jalannya naik-turun.

Alam di kaki lereng Lawu memang penuh tanjakan dan licin. Pesawat pemancar terpaksa disimpan dan ditutupi dedaunan di kebun dekat kandang kambing demi mengelabui musuh, terutama mata-mata. Akal cerdik ini tiba-tiba hadir dalam benak mengingat alat penyiaran elektronik itu vital untuk menangkal kabar bohong sekaligus memenangkan perang. Pengangkutan juga dikerjakan malam agar aman. Berkat kegigihan dan keuletan petugas RRI dibantu Tentara Pelajar dan penduduk, zender dipikul dengan tiang listrik itu selamat.

Berbekal setumpuk keberanian dan kemampuan, para angkasawan radio menyepakati pada 1 Februari 1949 RRI Solo mulai menyelenggarakan siaran di Balong. Pemancar yang dipakai gelombang 80m, lalu diganti gelombang 60m, dan usai diperbaiki bersalin gelombang 30,4m. Di bawah desingan peluru dan ancaman bom Belanda, siaran RRI dari Balong itu mampu mengudara hingga keluar Jawa di samping monitoringnya, bahkan sampai luar negeri. Dengan siaran RRI ini, aneka berita tentang gerilya di sekitar Solo bisa terdengar ke mana-mana. Tak ayal, Belanda dibuat jengkel lantaran gagal menyebarkan hoaks terhadap masyarakat yang kala itu gampang memakan informasi yang disiarkan radio lantaran memang tidak ada sumber pembanding lainnya.

Mendapati kahanan itu, pasukan Belanda marah. Tepatnya minggu ketiga Februari 1949 mereka menggerebek Balong. Semua rumah digeledah guna mencari zender RRI yang disinyalir berada di situ. Apalagi, Belanda memergoki banyak bambu panjang yang dikiranya tiang antena. Padahal, tiang kerekan untuk burung perkutut. Operasi Belanda akhirnya gagal. Pada 10 Agustus 1949, Letnan van Heek bareng pasukannya menjalankan aksi berkode “Steenwijk” di pusat gerilya Balong. Musuh mencapai sasaran, tapi gerilyawan dan warga kadung kabur. Pemancar radio yang dipakai untuk menangkis hoaks gagal mereka temukan. Daerah itu sudah melompong. Lantas, dua pesawat tempur Mustang milik Belanda menembaki beberapa kampung dengan roket. Sehari kemudian, komisi genjatan senjata dari Yogya meninjau lokasi ini (Sadikun Sugihwaras, 2000: 189).

Dan, tampaknya mereka kagum dengan kegigihan dan kerja cerdas pejuang Indonesia dalam memerangi hoaks. Di samping itu,  teriakan merdeka atau mati, Indonesia freedom, rawe-rawe rantas malang-malang putung, dan lainnya digemakan tiada henti lewat radio maupun coretan untuk membentengi informasi palsu dari pihak lawan.

Dari kilas balik ini, tersekam kearifan sejarah bahwa sedari lama kabar bohong sejatinya musuh besar bagi negara ini, selain pihak asing yang merongsong kemerdekaan Indonesia bersenjatakan bedil. Anak bangsa hampir saja saling bertengar gara-gara termakan hoaks yang didengungkan gerombolan musuh. Barisan pejuang dan segenap warga sudah kepayahan menghadapi musuh lantaran peralatan kalah canggih, kala itu harus juga dihadapkan pada informasi yang menyesatkan dan memperburuk kahanan.

Ironisnya, kini yang menebar dan menyuburkan kabar bohong justru warga Indonesia sendiri demi memenuhi nafsu politik dan kekuasaan. Mereka tidak merasa bersalah jika persatuan negeri ini koyak moyak akibat adu domba dengan berita bohong. Karena itu, kita mestinya tetap “waras”, bersikap kritis, dan tidak lekas menerima serta membagikan berita yang belum jelas kebenarannya.

Facebook Comments