Beginilah Mencegah Masjid menjadi Mimbar Penceramah Radikal

Beginilah Mencegah Masjid menjadi Mimbar Penceramah Radikal

- in Suara Kita
223
0
Beginilah Mencegah Masjid menjadi Mimbar Penceramah Radikal

Dewasa ini Mimbar agama (masjid) menjadi lahar subur dalam mensosialisasikan ideologi radikalisme dan intoleransi. Para penceramah radikal memanfaatkan Masjid sebagai basis ideologisasi Islam mereka dengan khutbah-khutbah penuh kebencian dan takfiri terhadap kelompok liyan. Dengan pendekatan persuasif, mereka mampu mengambil alih pusat-pusat kajian Islam yang awalnya dikuasai oleh kalangan moderat seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.      

Menurut penelitian lembaga Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) NU bahwa terdapat sekitar 41 Masjid di lingkungan pemerintah yang telah terpapar radikalisme. Dan ujaran kebencian menjadi topik yang paling mendominasi dibicarakan di masjid-masjid plat merah ini dengan persentase mencapai 73,6 persen (Tempo.co, 23/11/18). Dan sampai saat ini jumlah data ini semakin naik secara signifikan setiap tahunnya. 

Hal ini ditengarai kurangnya kewaspadaan kalangan moderat dalam memilah da’i yang seharusnya mengisi kegiatan keagamaan masjid dan terus gencarnya kelompok radikal dalam kampanye ideologisnya melalui berbagai mimbar keagamaan. Di samping itu, adanya dampak popularitas media sosial yang memunculkan ustadz-ustadz baru yang populer tanpa terlebih dahulu melihat latar belakang keilmuannya dan afiliasi ideologinya. Kepopuleran inilah yang justru menjadi ukuran sebagian Masjid-Masjid pemerintah untuk menjadikan mereka sebagai penceramahnya.                                                                                     

Dari data tersebut di atas, kita perlu mewaspadai gerakan mereka alih-alih mampu mencegah mimbar keagamaan lingkungan kita menjadi sarang kelompok radikal. Karena kita saat ini sudah kecolongan dengan ekspansi mereka yang begitu sangat cepat.

Sebagaimana menurut Muhammad Abdullah Darraz (2022), yang prihatin dengan keberadaan penceramah radikal di berbagai tempat. Baginya infiltrasi radikalisme di masyarakat kerap diakibatkan oleh faktor ketidaktahuan masyarakat, baik terhadap muatan radikal-ekstrem maupun ketidakpahaman terkait peta aktor dan kelompok yang membawa misi dan narasi radikal.

Menurut Mantan Direktur Eksekutif Maarif Institute ini, kelompok radikal akan senantiasa mencari celah untuk masuk ke setiap lini demi menyebarkan paham radikalisme yang mereka anut. Modus yang biasanya digunakan adalah mengisi pengajian di berbagai komunitas, tidak terkecuali masuk di lingkungan Masjid aparat TNI-Polri beserta keluarganya. Mereka mencoba memberikan pengaruh secara lebih halus agar ideologi mereka dapat diterima di lingkungan aparat negara yang menjadi benteng pertahanan NKRI dan Pancasila.

Untuk itu, perlu ada beberapa strategi yang perlu dilakukan untuk mencegah Masjid menjadi mimbar keagamaan penceramah Radikal, di antaranya: 

Pertama, syarat utama bagi seorang dai atau penceramah diundang pada forum/mimbar keagamaan lingkungan kita adalah pemahaman keagamaan yang moderat. Jika syarat utama ini ditekankan maka akan dapat membantu mengeliminasi tersebarnya paham radikalisme-ekstremisme dalam mimbar-mimbar keagamaan.

Kedua, Ormas keagamaan moderat seperti NU dan Muhammadiyah harus aktif melakukan kaderisasi untuk menciptakan para dai/muballig/penceramah yang memiliki visi keagamaan moderat (Islam wasathiyah). Kaderisasi tersebut dapat dilakukan dengan melakukan pelatihan dan kampanye yang masif terkait pandangan keagamaan moderat kepada masyarakat dan juga aktif melibatkan penceramah dari luar organisasinya.

Ketiga, para kader dai/mubalig/penceramah yang moderat ini agar ke depan juga dapat memiliki pemahaman terkait bahayanya politisasi agama agar nantinya para penceramah tak lagi menjadi alat kepanjangan tangan kelompok radikal demi meraih keuntungan dan kepentingan politik. Maka sebaiknya para calon dai/penceramah dapat membekali dirinya dengan pandangan-pandangan keagamaan yang moderat, kritis, toleran dalam perbedaan serta memiliki pemahaman terkait politisasi keagamaan.

Akhirnya, dengan cara itulah kita mampu mencegah penceramah radikal dari berbagai lini. Sehingga gerak gerik mereka tersumbat dan pada gilirannya tidak dapat bergerak lagi untuk mencuci otak masyarakat dengan ideologi radikalnya.

Facebook Comments