Belajar dari Argumen KH. Achmad Siddiq

Belajar dari Argumen KH. Achmad Siddiq

- in Suara Kita
209
1
Belajar dari Argumen KH. Achmad Siddiq

Jika terdapat individu atau kelompok yang menolak dan mempertentangkan ideologi Pancasila dengan agama, terutama Islam, yang menyebutnya sebagai thagut, bid’ah, musyrik, dan padanan negatif lainnya, maka perlu belajar dari KH. Achmad Siddiq (Rais Am PBNU 1984-1989) dalam berargumen yang kokoh. Penolakan terhadap ideologi Pancasila, sesungguhnya merupakan indikasi kuat bahwa orang tersebut terjangkit virus paham radikalisme.

Ketika ada perdebatan sengit dalam menyikapi Pancasila sebagai asas tunggal, tahun 1980-an awal, terjadi beda pendapat antara kaum muda dengan golongan tua dikalangan NU. Kala itu, KH. Achmad Shiddiq, mengutarakan dengan kalimat begini: “wong barang sudah sekian lama dimakan kok baru dibahas halal haramnya”.

Ungkapan KH. Achmad Shiddiq di atas menunjukkan argumen yang sangat sederhana, mudah dicerna, terdapat unsur lokalitasnya, namun cukup mematahkan argumen sebagian kalangan yang sampai saat sekarang masih bercokol, menolak ideologi Pancasila dan mengajukan khilafah sebagai penggantinya. Meski pada waktu itu dalam konteks yang berbeda, tentang penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal yang dipaksakan oleh rezim orde baru, tapi sebenarnya, bisa digunakan dan memiliki relevansi pula dengan situasi sekarang.

Secara lebih lengkap, agar terbangun argumen utuh bagaimana kita bisa menyikapi dan menangkis tuduhan-tuduhan negatif oleh mereka yang menentang Pancasila, maka perlu diuraikan argumen KH. Achmad Siddiq, meski sekali lagi, dalam konteks NU, juga relevan untuk konteks lain di zaman sekarang. Yaitu tentang kesaksian KH. Muchit Muzadi, sekretaris KH. Achmad Siddiq yang sama-sama pernah menjadi murid KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng.

Meninggikan Islam

Dikisahkan, KH. Muchit Muzadi dahulu pernah bertanya masalah ini kepada KH. Achmad Siddiq. “Kiai, Mengapa kita harus menerima Pancasila sebagai asas NU ?” Jawab KH. Achmad Siddiq, “NU sendiri dalam Anggaran Dasarnya yang pertama diterangkan bahwa NU didirikan berdasarkan tujuan-tujuan, bukan asas.”

Baca juga : Pendidikan Berbasis Budaya Lokal Penangkal Radikalisme

“Kita tidak usah mempertentangkan NU dengan asas negara. Karena NU tidak berbicara mengenai asas. Melainkan tujuan.” Lalu sekarang apa tujuan NU? Ialah melaksanakan semua yang akan menjadikan kemaslahatan Ummat Islam.

Kiai Achmad Siddiq tidak setuju kalau Islam itu dijadikan asas sebuah organisasi atau partai. Adalah keliru jika menjadikan Islam sebagai asas, karena justru akan merendahkan Islam sendiri. Islam adalah agama ciptaan Allah, sedangkan organisasi ciptaan manusia. Islam jauh di atas asas, karena Islam adalah din Allah.

Hubungan Pancasila dengan agama Islam, bagi NU, sebenarnya telah tuntas dibahas dengan melahirkan deklarasi Munas Alim Ulama NU tahun 1983 di Situbondo. Pertama, Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia adalah prinsip fundamental namun bukan agama, tidak dapat menggantikan agama, dan tidak dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

Kedua, sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara menurut pasal 29 ayat (1) UUD 1945 yang menjiwai sila-sila yang lain mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam. Ketiga, bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia.

Keempat, penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dan upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan kewajiban agamanya. Kelima, sebagai konsekuensi dari sikap tersebut di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Dari penjelasan tersebut, dapatlah dipahami secara terang benderang, bahwa sebenarnaya tidak ada yang perlu dipertantangkan antara Pancasila dengan Islam. Mempertentangkan keduanya justru menunjukkan selain gagal paham terhadap substansi nilai-nilai etis-religius pada dua entitas itu, juga menunjukkan langkah mundur pemikiran, sebab membangkitkan kembali wacana usang, dan yang paling mengkhawatirkan adalah indikasi kuat masuk ke dalam jaring radikalisme.

Semoga kita terhindar dari virus radikalisme.

Facebook Comments