Belajar dari Dakwah Batik

Belajar dari Dakwah Batik

- in Suara Kita
208
0

Mana yang lebih sempurna shalat menggunakan batik atau gamis? Pertanyaan bodoh ini tidak perlu dijawab karena memang tidak ada manfaatnya. Lalu, mana yang lebih islami memakai batik atau gamis? Jawabannya, yang islami adalah menutup aurat apapun pakaian yang digunakan sesuai tradisi dan adat masing-masing.

Terkadang orang terjebak pada simbol dan tampilan luar untuk menghukumi sesuatu. Termasuk dalam berpakaian. Ketika dikatakan islami bukan berarti hal tampilan yang selalu berasal dari Arab dan Timur Tengah. Tetapi esensi pakaian adalah yang sesuai dengan prinsip Islam.

Kembali pada persoalan batik sebagai salah satu kekayaan tradisi dan budaya bangsa ini. Batik sebenarnya tidak hanya melulu berbicara warisan nusantara sejak zaman Majapahit. Namun, ada proses yang bersamaan antara batik dengan penyebaran Islam atau dakwah. Tercatat kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara juga terus mengembangkan dan melestarikan Batik sebagai bagian dari identitas nusantara.

Di zaman Wali Songo, warisan Batik tetap dilestarikan bahkan menjadi media dakwah. Para Wali tidak membuang warisan ini tetapi mengubah corak dan motif untuk menghindari penggambaran unsur binatang atau manusia. Jadi motif-motif itu dilukiskan secara tidak utuh dalam motif batik.

Tidak mengherankan, jika Walisongo juga menjadi pencetus motif-motif batik yang mewarnai kekayaan batik nasional hingga saat ini. Sunan Kalijaga misalnya dikenal sebagai pencetus surjan lurik yang ditunjukkan dengan motif garis vertikal. Bati Drajat merupakan peninggalan kebijaksanaan pengajaran Sunan Drajat. Ada pula motif batik Mahkota Giri yang melambangkan lima rukun Islam. Dan masih banyak sunan lainnya yang menjadikan batik bukan hanya warisan tetapi media dakwah.

Dakwah dengan Batik

Pertanyaannya apakah model dakwah para Sunan Walisongo dengan melestarikan tradisi ini baik mengubah dan merekonstruksi bentuk sejalan dengan nafas Islam? Ternyata model dakwah ini juga sama diterapkan Rasulullah ketika berhadapan dengan budaya dan warisan Arab. Rasulullah mendakwahkan Islam bukan membuang tradisi yang ada tetapi memberikan nafas Islam dalam tradisi dan budaya.

Dakwah dalam konteks inilah sebenarnya harus dipahami bukan membuang tradisi sejauh tidak bertentangan dengan syariat, tetapi mengisi tradisi dengan makna yang islami. Jadi proses mengislamkan bukan sebagai proses islamisasi, tetapi internalisasi nilai Islam dalam tradisi.

Jika dilihat sebenarnya cara dakwah Nabi yang berhadapan dengan tradisi ada tiga pola. Pertama, pendekatan tahmil, artinya Islam datang dengan menerima dan menyempurnakan tradisi yang sudah ada di masyarakat jahiliyah. Corak seperti ini misalnya terlihat dalam penghormatan Islam terhadap bulan-bulan yang diharamkan pertumpahan darah yang sudah ada di zaman Arab pra Islam.

Kedua, pendekatan taghyir, artinya Islam menerima tetapi merekonstruksi tradisi dengan nilai yang Islami. Dalam prakteknya, tradisi Arab pra Islam masih dilanjutkan tetapi diisi dengan nilai baru. Contoh ini misalnya dilihat dari proses haji yang tetap melaksanakan thawaf dan sai tetapi rubah maknanya bukan menyembah Latta dan Uzaa, tetapi ditujukan untuk mengangungkan Allah.

Ketiga, pendekatan tahrim, artinya Islam menghapus tradisi dan kebiasaan yang ada yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Namun, perlu diingat bahwa dalam proses penghapusan inilah Rasulullah sangat hati-hati agar tidak menimbulkan resistensi yang kuat. Misalnya pengharaman khamar yang dilakukan secara bertahap. Islam juga ingin menghapus perbudakan yang dilakukan secara bertahap dengan cara menjadikan membebaskan budak sebagai bagian dari sangsi ibadah.

Jika kita lihat pendekatan dakwah Rasulullah yang berhadapan dengan tradisi masyarakat pra Islam, memiliki kesamaan dengan cara dakwah Walisongo di nusantara. Dakwah kearifan lokal itulah yang diteladani para Wali dalam menyebarakan Islam di nusantara. Walisongo banyak menggunakan pendekatan taghyir dalam berdakwah, tetapi juga tegas menggunakan tahrim dengan model dakwah yang santun dan ramah.

Wal hasil, batik sebagai warisan budaya nasional ini sebenarnya merupakan warisan budaya nusantara dan internalisasi Islam oleh para Walisongo yang harus terus dilestarikan. Batik bukan hanya sebagai kebanggaan, tetapi media dakwah nilai-nilai Islam yang santun dan ramah.

Belajar dari dakwah batik, dakwah hari ini bukan harus selalu bertentangan dengan budaya. Dakwah memerlukan budaya agar mudah dikenal dan popular di tengah masyarakat. Kearifan local adalah penguat dakwah, bukan penghalang dakwah.

Mana yang lebih sempurna shalat menggunakan batik atau gamis? Pertanyaan bodoh ini tidak perlu dijawab karena memang tidak ada manfaatnya. Lalu, mana yang lebih islami memakai batik atau gamis? Jawabannya, yang islami adalah menutup aurat apapun pakaian yang digunakan sesuai tradisi dan adat masing-masing.

Terkadang orang terjebak pada simbol dan tampilan luar untuk menghukumi sesuatu. Termasuk dalam berpakaian. Ketika dikatakan islami bukan berarti hal tampilan yang selalu berasal dari Arab dan Timur Tengah. Tetapi esensi pakaian adalah yang sesuai dengan prinsip Islam.

Kembali pada persoalan batik sebagai salah satu kekayaan tradisi dan budaya bangsa ini. Batik sebenarnya tidak hanya melulu berbicara warisan nusantara sejak zaman Majapahit. Namun, ada proses yang bersamaan antara batik dengan penyebaran Islam atau dakwah. Tercatat kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara juga terus mengembangkan dan melestarikan Batik sebagai bagian dari identitas nusantara.

Di zaman Wali Songo, warisan Batik tetap dilestarikan bahkan menjadi media dakwah. Para Wali tidak membuang warisan ini tetapi mengubah corak dan motif untuk menghindari penggambaran unsur binatang atau manusia. Jadi motif-motif itu dilukiskan secara tidak utuh dalam motif batik.

Tidak mengherankan, jika Walisongo juga menjadi pencetus motif-motif batik yang mewarnai kekayaan batik nasional hingga saat ini. Sunan Kalijaga misalnya dikenal sebagai pencetus surjan lurik yang ditunjukkan dengan motif garis vertikal. Bati Drajat merupakan peninggalan kebijaksanaan pengajaran Sunan Drajat. Ada pula motif batik Mahkota Giri yang melambangkan lima rukun Islam. Dan masih banyak sunan lainnya yang menjadikan batik bukan hanya warisan tetapi media dakwah.

Dakwah dengan Batik

Pertanyaannya apakah model dakwah para Sunan Walisongo dengan melestarikan tradisi ini baik mengubah dan merekonstruksi bentuk sejalan dengan nafas Islam? Ternyata model dakwah ini juga sama diterapkan Rasulullah ketika berhadapan dengan budaya dan warisan Arab. Rasulullah mendakwahkan Islam bukan membuang tradisi yang ada tetapi memberikan nafas Islam dalam tradisi dan budaya.

Dakwah dalam konteks inilah sebenarnya harus dipahami bukan membuang tradisi sejauh tidak bertentangan dengan syariat, tetapi mengisi tradisi dengan makna yang islami. Jadi proses mengislamkan bukan sebagai proses islamisasi, tetapi internalisasi nilai Islam dalam tradisi.

Jika dilihat sebenarnya cara dakwah Nabi yang berhadapan dengan tradisi ada tiga pola. Pertama, pendekatan tahmil, artinya Islam datang dengan menerima dan menyempurnakan tradisi yang sudah ada di masyarakat jahiliyah. Corak seperti ini misalnya terlihat dalam penghormatan Islam terhadap bulan-bulan yang diharamkan pertumpahan darah yang sudah ada di zaman Arab pra Islam.

Kedua, pendekatan taghyir, artinya Islam menerima tetapi merekonstruksi tradisi dengan nilai yang Islami. Dalam prakteknya, tradisi Arab pra Islam masih dilanjutkan tetapi diisi dengan nilai baru. Contoh ini misalnya dilihat dari proses haji yang tetap melaksanakan thawaf dan sai tetapi rubah maknanya bukan menyembah Latta dan Uzaa, tetapi ditujukan untuk mengangungkan Allah.

Ketiga, pendekatan tahrim, artinya Islam menghapus tradisi dan kebiasaan yang ada yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Namun, perlu diingat bahwa dalam proses penghapusan inilah Rasulullah sangat hati-hati agar tidak menimbulkan resistensi yang kuat. Misalnya pengharaman khamar yang dilakukan secara bertahap. Islam juga ingin menghapus perbudakan yang dilakukan secara bertahap dengan cara menjadikan membebaskan budak sebagai bagian dari sangsi ibadah.

Jika kita lihat pendekatan dakwah Rasulullah yang berhadapan dengan tradisi masyarakat pra Islam, memiliki kesamaan dengan cara dakwah Walisongo di nusantara. Dakwah kearifan lokal itulah yang diteladani para Wali dalam menyebarakan Islam di nusantara. Walisongo banyak menggunakan pendekatan taghyir dalam berdakwah, tetapi juga tegas menggunakan tahrim dengan model dakwah yang santun dan ramah.

Wal hasil, batik sebagai warisan budaya nasional ini sebenarnya merupakan warisan budaya nusantara dan internalisasi Islam oleh para Walisongo yang harus terus dilestarikan. Batik bukan hanya sebagai kebanggaan, tetapi media dakwah nilai-nilai Islam yang santun dan ramah.

Belajar dari dakwah batik, dakwah hari ini bukan harus selalu bertentangan dengan budaya. Dakwah memerlukan budaya agar mudah dikenal dan popular di tengah masyarakat. Kearifan local adalah penguat dakwah, bukan penghalang dakwah.

Facebook Comments