Belajar dari “Desa Damai”: Membangun Ketahanan Sosial dari Kearifan Lokal

Belajar dari “Desa Damai”: Membangun Ketahanan Sosial dari Kearifan Lokal

- in Suara Kita
236
2
Belajar dari “Desa Damai”: Membangun Ketahanan Sosial dari Kearifan Lokal

Perkembangan paham radikalisme, intoleransi, hingga kekerasan di masyarakat mesti diatasi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang membuat persoalan menyebarnya paham radikal makin kompleks, kita butuh strategi kreatif.

Kita perlu usaha yang tak sekadar membendung perkembangan sikap intoleransi, namun juga bagaimana menggalakkan budaya toleransi. Artinya, langkah yang disiapkan tak terbatas pada sekadar menekan gejala tertentu, namun menumbuhkan gejala baru. Di sinilah, diperlukan kreatifitas menggali dan menemukan berbagai kebiasaan, tradaisi, serta nilai-nilai luhur di masyarakat untuk kembali ditumbuhkan, diperkuat, dan dikembangkan sebagai modal sosial membangun kebiasaan, budaya dan (pada gilirannya) peradaban harmonis dan damai.

Terkait hal tersebut, kearifan lokal menjadi satu “senjata” untuk dikembangkan. Kearifan lokal umumnya masih kental di masyarakat desa dan menyimpan berbagai nilai positif yang sangat penting untuk menjaga keharmonisan sosial. Nilai-nilai positif yang terkandung dalam kearifan lokal tersebut merupakan modal penting membuat masyarakat desa memiliki ketahanan dan kohesi sosial untuk membentengi diri dari pengaruh negatif dari luar, termasuk paham-paham intoleransi, radikalisme, dan kekerasan.

Ide menjadikan kearifan lokal masyarakat desa sebagai “senjata” menangkis dan mengatasi perkembangan paham radikal telah ditangkap para pemikir, pegiat dan aktivis, lembaga, hingga organisasi pendorong toleransi dan perdamaian. Kesadaran bahwa masyarakat desa dengan berbagai kearifan lokalnya memiliki daya tahan secara sosial dan mampu mendeteksi sejak dini masuknya paham-paham perusak keharmonisan kini mulai tumbuh.

Desa damai

Kita bisa menghadirkan apa yang diinisiasi oleh Wahid Foundation sebagai contoh. Awal tahun 2019 ini, dengan bekerja sama dengan UN Women, organisasi yang aktif merawat toleransi dan perdamaian ini merancang inisiatif bernama “Desa Damai”. Inisiatif muncul dari kesadaran bahwa desa mesti memiliki ketahanan dan kohesi sosial di tengah perkembangan intoleransi, kekerasan, dan paham radikalise yang menggejala dewasa ini. Di “Desa Damai”, masyarakat diberdayakan menjaga komitmen akan toleransi dan perdamaian.

Baca juga : Melestarikan Kesenian untuk Membendung Wabah Radikalisme

Saat ini, tercatat sudah ada 9 desa dan kelurahan di Indonesia yang mendeklarasikan diri sebagai desa/kelurahan damai. Di antaranya, Desa Tajurhalang dan Kelurahan Pengasinan di Jawa Barat, Desa Gemblengan (Wonosobo),Candirenggo (Kebumen) dan Nglinggi (Klaten) di Jawa Tengah, Desa Guluk-gulik (Sumenep), Prancak (Bangkalan), Payudan Dundang (Sumenep), dan Sidomulyo (Batu) di Jawa Timur (Kompas.com, 8/2/2019).

Desa damai memiliki konsep menarik tentang bagaimana mendorong dan mengembangkan komitmen toleransi dan perdamaian di masyarakat. Ada berbagai indikator desa damai yang disusun Wahid Foundation dan salah satunya adalah memaksimalkan kearifan lokal.

Berdasarkan buku “Panduan Pelaksanaan 9 Indikator Desa/Kelurahan Damai” (2019),ada hal-hal yang perlu dipahami dalam menyelenggarakan nilai dan norma kearifan lokal. Pertama, bahwa nilai kearifan lokal perlu diwujudkan dalam sikap dan praktik nyata yang menjiwai peraturan/kebijakan desa, sehingga warga mempunyai kepercayaan diri bahwa nilai kearifan lokal memang layak dan perlu dipertahankan. Kepercayaan diri lewat dukungan peraturan/kebijakan ini penting, terutama di tengah era modern dan globalisasi yang terus mendorong masyarakat meninggalkan tradisi, budaya, dan nilai-nilai tradisional.

Kedua, nilai kearifan lokal perlu selalu disosialisasikan—melalui media cetak maupun diskusi-diskusi warga, guna mengembangkan dan memperkuat nilai-nilai universal hak asasi manusia, perdamaian, toleransi, dan keadilan. Artinya, di sini literasi kearifan lokal mesti ditumbuhkan dan dikembangkan. Literasi kearifan lokal tak sekadar memberi masyarakat pengetahuan terkait kearifan lokal, namun juga membangun pemikiran memaknai, merefleksikan, dan mengkonstruksi nilai-nilai di dalamnya menjadi sumber-sumber kebijaksanaan baru yang mendukung terciptanya keharmonisan dan perdamaian hidup bersama.

Ketiga, nilai dan kearifan lokal mendukung kepedulian warga terhadap sesama dan lingkungan. Contohnya, budaya gotong royong merupakan satu contoh klasik dari bagaimana kearifan lokal mencoba menjaga keutuhan masyarakat desa/kelurahan. Keempat, dalam banyak hal, warga desa/kelurahan sejak dulu kala mengembangkan Sistem Deteksi dan Kewaspadaan Dini berdasar kearifan lokal jika ada hal-hal yang mengganggu kenyamanan hidup bersama. Misalnya, bunyi kentongan menyimpan arti yang dipahami warga desa dan mereka tahu apa yang harus dilakukan jika mendengar bunyi tersebut.

Konsep “Desa Damai” bisa menjadi rujukan para pemangku kepentingan di desa/kelurahan untuk merencanakan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi segala usaha, guna mewujudkan masyarakat yang saling menghargai sesama dan hidup harmoni. Di samping itu, bagi kita semua “Desa Damai” memberi gambaran bagaimana memaksimalkan dan merawat nilai kearifan lokal untuk membangun ketahanan sosial penangkal bibit-bibit intoleransi, kekerasan, dan radikalisme.

Facebook Comments