Belajar Dari Kisah Dakwah Moderat Sunan Kalijaga Lewat Wayang

Belajar Dari Kisah Dakwah Moderat Sunan Kalijaga Lewat Wayang

- in Suara Kita
494
20
Belajar Dari Kisah Dakwah Moderat Sunan Kalijaga Lewat Wayang

Di Era Globalisasi ini kita sering menjumpai kenyataan yang memilukan. Sebab, banyak orang telah kehilangan rasa kemanusiaannya. Bahkan tak sedikit para juru dakwah atau tokoh agama berlaku radikal ataupun ekstrem mencoreng ajaran agama Islam yang lemah lembut. Contoh nyata baru-baru ini soal bahwa wayang adalah haram. Padahal seni wayang ini adalah salah satu media Sunan Kalijaga dalam berdakwah yang mudah diterima masyarakat kala itu.

Kita sadar bahwa ajaran agama Islam yang mulia tidak perlu disiarkan dengan cara-cara yang bertentangan dengan risalah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Dakwah Islam yang menggunakan cara-cara yang tidak sesuai dengan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya tentu akan menimbulkan perselisihan dan merusak situasi yang sudah tertata rapi di kehidupan masyarakat lokal yang sudah mapan.

Agama Islam memiliki ajaran yang indah yang dapat menarik bagi siapa saja yang mau mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Namun, banyak orang yang merasa cerdas dan menganggap dirinya benar dan merasa benar sendiri, sehingga sering menghina orang lain yang tidak sependapat dengan pandangannya.

Dakwah Islamiyah dan amar maruf nahi munkar termasuk di antara hal-hal yang paling penting. Karena semua ini adalah inti dari agama (usuluddin). Namun perlu kita perhatikan, meskipun dakwah Islam dan kewajiban amar (perintah berbuat baik) adalah suatu keharusan dan selalu bil maruf, yaitu dengan metode (atau dengan toto coro) yang yang baik dan sopan (QS: An-Nahl: 125).

Dakwah Islam yang tidak merugikan hajat hidup orang banyak, sudah ada contohnya seperti yang dilakukan oleh para wali atau para sunan seperti dakwah yang dirintis oleh Sunan Kalijaga di tanah Jawa. Dulu, Sunan Kalijaga mengajak masyarakat untuk masuk agama Islam dengan cara yang baik dan tidak membuat masyarakat merasa senang dan gembira. Akibatnya, banyak orang yang rela masuk Islam tanpa dipaksa.

Dakwah yang dipimpin oleh Sunan Kalijaga ini menggunakan unsur budaya yang masih dipegang dan dipertahankan oleh masyarakat lokal kal itu. Masyarakat merasa senang dan tidak merasa dipaksa untuk memeluk Islam. Situasi ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan kenyataan saat ini. Sebab, saat ini banyak orang yang merasa takut dan cemas untuk mempelajari Islam karena merasa tidak percaya pada dai dan ustadz yang tidak setuju dengan apa yang mereka katakan dan lakukan. Para dai dan ustadz mengatakan bahwa Islam adalah agama yang mulia, luhur, luhur, tetapi hanya ucapan di bibir semata. Karena orang yang mengatakannya pada saat itu tidak dapat menunjukkannya dan tidak dapat memberikan contoh tindakan yang sesuai dengan apa yang dikatakannya.

Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali yang mampu membedakan antara ajaran Islam, budaya Jawa, dan budaya lain yang selama ini berlangsung di tanah Jawa. Salah satu bentuk kebudayaan yang digunakan Sunan Kalijaga sebagai media dakwah adalah seni wayang.

Sunan Kalijaga berpendapat bahwa antara agama dan budaya harus dipadukan tetapi tidak menghilangkan esensi atau nilai-nilai dasar yang ada pada setiap budaya. Karena seni pewayangan yang disebutkan Sunan Kalijaga, Islam dapat berjaya dan memasuki batas-batas masyarakat tanpa menimbulkan kerusakan dan kerugian umat. Islam bisa berkembang, budaya bisa berkembang tanpa harus bergesekan.

Selain menggunakan wayang, Sunan Kalijaga juga menggunakan tembang. Salah satunya adalah lagu yang kita semua tahu, lagu Lir-Llir. Lagu lainnya adalah Kidung Rumeksa ing Wengi yang populer dan juga merupakan lagu awal. Sedangkan pendekatan yang digunakan Sunan Kalijaga ada tiga hal, yaitu momong (persuasif atau mengajak), momor (komunikatif), dan momot (akomodatif). Sunan Kalijaga melaksanakan dakwahnya dengan cara pendekatan budaya atau kultural, sehingga mampu membangkitkan simpati dan juga empati masyarakat.

Sunan Kalijaga juga mengajarkan sikap penerimaan dalam pandum bahwa ada lima sikap, yaitu rela (tidak mengharapkan keegoisan dari perbuatannya), menerima (tidak iri dan dengki terhadap kesukaan orang lain), ikhlas (setia dan juga memperjuangkan cita-citanya). ), kesabaran (momot atau kuat iman) dan akhlak mulia. Semoga kita bisa meniru ajaran yang telah dilakukan oleh Sunan Kalijaga dalam dakwah Islam kita hari ini.

Facebook Comments