Benang Merah ISIS, Jamaah Islamiyah dan Talibanisme

Benang Merah ISIS, Jamaah Islamiyah dan Talibanisme

- in Suara Kita
1286
0
Benang Merah ISIS, Jamaah Islamiyah dan Talibanisme

Penguasaan Kabul, Ibu Kota Afganistan, oleh Taliban pada Agustus lalu menjadi tanda kemenangan gerakan Islamis fundamentalis itu. Makin galaknya Taliban mengusai Afganistan terjadi pasca keputusan Joe Biden, Presiden Amerika Serikat (AS) yang menarik seluruh tentara AS setelah 20 tahun menginvasi Afganistan.

Penarikan seluruh tentara per 31 Agustus 2021 dan berkuasanya kembali Taliban di Afganistan merupakan buntut dari kesepakatan yang dibuat Taliban dengan pemerintahan AS era Donald Trump melalui Perjanjian Doha yang ditandatangani Taliban dan AS pada Februari 2020 di Qatar. Perjanjian itu menetapkan tenggat AS untuk menarik pulang tentaranya.

Meski Taliban atau Afganistan tidak ada kaitan dengan Indonesia dalam hal stabilitas kawasan, menurut pengamat Timur Tengah Muhammad Imdadun Rahmat, kemenangan Taliban dapat menjadi semangat baru radikalisasi di Indonesia. Direktur Said Aqil Siroj (SAS) Institute ini menegaskan agar pemerintah Indonesia waspada dan memastikan agar Taliban jangan sampai membantu kelompok-kelompok radikal di Indonesia.

Penegasan Imdad tersebut adalah kewaspadaan terhadap kelompok Jamaah Islamiyah (JI) di Indonesia yang merupakan para kombatan yang pulang dari Afghanistan. Kemenangan Taliban menurutnya berpotensi menyebarkan pemahaman keagamaan yang radikal, bahkan ultra-konservatif seperti yang saat ini terjadi di Afganistan.

Namun yang tak kalah berbahaya dari kemenangan Taliban adalah dukungan dana yang diberikan pada kelompok seperti JI dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) untuk mengadakan pelatihan dan upaya-upaya propaganda. Sebab, semejak keruntuhan ISIS, kelompok terorisme di Indonesia terpaksa menggunakan kotak amal untuk menggalang dana opersional mereka. Hal ini makin dikuatkan dengan penangkapan 14 orang yang diduga terlibat amil zakat Baitul Maal Abdurrahman Bin Auf (BM ABA) yang tersebar di Lampung, Medan, Jakarta, Bandung, dan Bekasi oleh Densus 88 (Kompas, 26 November 2021).

Menurut Imdad, setelah Taliban berhasil menguasai Afganistan, semua bisnis negara diambil alih dan dari hasil pengusaan itu dananya bisa mengalir sampai ke jaringan mereka di Indonesia. Aliran dana inilah yang dapat menjadi gerakan radikal dalam bentuk pelatihan terorisme, propaganda, perdagangan senjata ilegal, operasional kelompok terorisme, hingga perakitan dan peledakan bom.

Ditangkapnya oknum petinggi MUI oleh Densus 88 atas dugaan keterlibatan dalam jaringan JI merupakan peringatan keras bagi pemerintah. Bahwa gerakan terorisme di Indonesia sungguh sudah mengalami transformasi dari yang semula melalui upaya-upaya pengeboman dan teror menjadi lebih “soft” dengan menggunakan tangan dan ucapan ulama sebagai sarana gerakan terorisme.

Penyusupan kelompok terorisme yang terafiliasi dengan jaringan internasional di institusi keagamaan merupakan “pemanfaatan” sosio-kultural masyarakat Indonesia bahwa ulama tidak hanya sebagai penuntun, tetapi juga sebagai panutan. Sehingga apapun yang disampaikan ulama merupakan hal wajib untuk diperbuat, termasuk propaganda khilafah dan jihad menjadi ideologi menakutkan dan destruktif. Melalui catatan sejarah, ISIS merupakan kelompok yang paling brutal menggunakan khilafah dan jihad sebagai jalan menuju tujuan politik kekuasaan.

Padahal, sejarah mencatat khilafah sebagai jalan damai seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad pada tataran struktural dan politik di Madinah. Nabi Muhammad berusaha mencari titik temu bebagai golongan di Madinah dengan terlebih dahulu mengakui hak eksistensi masing-masing kelompok melalui dokumen yang dikenal sebagai “Konstitusi Madinah”. Juga khilafah kedua oleh Umar ibn al-Khaththab yang meneruskan sunah Nabi dengan sikapnya terhadap penduduk Yerusalem, dalam dokumen “Piagam Aelia”. (Cak Nur, Sang Guru Bangsa, 2014).

Khilafah yang tercatat dalam sejarah Islam dan jihad sebagai gerakan perlu kembali dimaknai sebagai gerakan menuju kebaikan sesama dan semesta. Prof. Dr. Nurcholish Madjid, seorang pemikir Islam, cendekiawan, dan budayawan Indonesia menunjukan salah satu jalannya yaitu dengaan mengedepankan pluralisme.

Pluralisme menurut Cak Nur adalah Sunatullah, sebab tertulis pada QS al-Hujarat/49:13 bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal dan menghargai. Bagi Cak Nur, perbedaan suku, ras dan bangsa justru harus dipakai sebagai aksi kolaborasi satu sama lain menuju kebaikan bersama. (Cak Nur, Sang Guru Bangsa, 2014). Oleh sebab itu melawan gerakan radikal merupakan kewajiban seluruh anak bangsa tanpa membedakan agama, ras, suku dan golongan. Seluruh anak bangsa punya kewajiban yang sama untuk menjaga tanah kelahirannya – Indonesia.

Facebook Comments