Benarkah Agama Menghambat Kemajuan Suatu Negara?

Benarkah Agama Menghambat Kemajuan Suatu Negara?

- in Suara Kita
918
0

Salah satu narasi yang digembar-gemborkan pendukung komunisme adalah bahwa agama menghambat kemajuan suatu bangsa. Dengan kata lain, jika ingin suatu negara maju, maka jauhkan dari urusan agama. Orang atau kelompok ini lazimnya menyandarkan pendapatnya pada beberapa alasan.

Pertama, mengaburkan pendapat pencetus ideologi komunis. Oleh pencetusnya seperti Karl Marx, komunisme adalah suatu doktrin pembebasan proretariat menuju masyarakat tanpa kelas (classless). Namun pada era selanjutnya, komunisme mengalami dinamika panjang. Oleh Lenin, Stalin dan Mao Zedong, komunisme diartikan sebagai gerakan revolusi dan kepemimpinan negara di bawah kendali partai komunis dengan teori kultus individu dan lebih mementingkan aspek material saja.

Namun, belakangan, konsep itu ‘seolah’ dikaburkan oleh beberapa orang bahwa komunisme adalah ideologi politik yang menegasikan adanya agama. Jadi, komunisme itu seolah merupakan musuh agama, pun sebaliknya. Padahal, komunis ala Karl Marx lebih pada kritik sosial-politik yang lebih menekankan aspek kekuasaan kapitalisme yang menjadikan nilai dan ajaran agama sebagai legitimasi.

Kedua, agama mengekang kemajuan ilmu pengetahuan. Kelompok ini selalu menarasikan dengan mengambil contoh negara yang mengalami kemajuan setelah menerapkan prinsip sekularisme atau komunisme. Tapi ingat! Sejatinya bukan karena mereka menerapkan sistem sekulerisme yang membuat suatu negara maju, melainkan sikap dan kinerja suatu negara dalam memperlakukan ilmu pengetahuan.

Selain itu, di negara komunis dan sekuler, di tengah kondisi gemerlang kehidupan yang terlihat mentereng, sejatinya mereka gersang dalam aspek lain. Ya. Aspek ruhaniah sebagai bagian tak terpisahkan dalam diri manusia itu sangat kering dan menjadikan manusia bersedih hati meskipun dikelilingi materi yang melimpah.

Memang, dalam sejarah peradaban dunia, agama pernah mengekang pemeluknya. Hal itu terjadi pada agama Kristen Katholik. Kisah Galileo Galilei, yaitu seorang pemeluk Kristen Katholik taat, dihukum mati oleh otoritas gereja pada waktu itu karena mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan petunjuk kitab sucinya. Ia mengatakan bahwa Matahari adalah pusat tata surya (teori helisentris). Tapi, pada proses selanjutnya, agama sejalan dengan ilmu pengetahuan. Jadi, tidak benar jika dikatakan bahwa agama menghambat kemajuan bangsa.

Agama Tidak Menghambat Kemajuan Suatu Bangsa

Jika kita telisik lebih dalam lagi, maka dua narasi yang kerap kita temui sebagaimana diuraian di atas, adalah sebuah narasi yang menyesatkan. Hal itu setidaknya dapat dilihat dari beberapa alasan sebagai berikut ini:

Pertama, agama tidak mengekang dan menghambat kemajuan ilmu pengetahuan. Jadi, tanpa harus melepas (menjadi sekuler), agama—dalam hal ini penulis maksud Islam—tidak akan menghambat suatu negara untuk meraih kecermelangan dalam seluruh aspek kehidupan, khususnya di bidang ilmu pengetahuan.

Justru al-Qur;an dan hadis, sebagai pedoman dan petunjuk utama orang Islam, banyak sekali yang mendorong kepada umatnya untuk meraih kesuksesan dunia dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Sebagai contohnya, Jauh sebelum para astronom meneliti dan berusaha keras menemukan kehidupan di luar planet bumi, Alquran lebih dulu sudah memberikan isyarat tentang adanya kehidupan di luar bumi. Hal ini, salah satunya, sebagaimana terdapat dalam beberapa ayat yang berkisah tentang adanya kehidupan di luar angkasa seperti QS. Yunus [10]: 5, QS. An-Nahl [16]: 12-16, QS. Al-Hajj [22]: 65, QS. Yasin [36]: 38-40 dan al-Rahman [55]: 33. (Muqawin, 2007, hlm. 69-70).

Kedua, sebelum kemajuan dunia barat seperti saat ini, Islam sudah lebih dahulu menguasai ilmu pengetahuan. Jejak-jejak emas ilmu pengetahuan yang ditorehkan Islam masih bisa kita rasakan hingga hari ini. Tokoh-tokoh pencetus ilmu pengetahuan yang dari dulu hingga saat ini diakui oleh dunia juga banyak yang berasal dari agama Islam. Sebut saja Ibnu Shina (yang dikenal bangsa Barat dengan sebutan Avicenna), al-Khawarizmi, al-Kindi dan masih banyak lainnya.

Ketiga, kemajuan bangsa Barat terinspirasi dari peradaban Islam. Di saat Islam memegang peradaban dunia pada millio 750 – 1258 M, orang-orang Barat justru dalam masa kegelapan. Kala itu, pemeluk agama memang benar-benar di kekang, terutama pemeluk agama Kristen Katholik.

Akhmad Zaini (2021) menyebutkan fakta menarik. Bahwa bangsa barat yang bangkit dan melawan dominasi gereja, salah satu faktornya karena mereka berinteraksi dengan kaum muslimin. Khususnya di Spanyol. Daerah ini, pernah berada di bawah kekuasaan kaum muslimin sejak awal abad 8 hingga akhir abad 15 M.

Selama di bawah kekuasaan Islam, penduduk lokal yang beragama Kristen tidak dipaksa untuk pindah agama. Toleransi menjadi warna kehidupan sosial di kawasan itu. Warga non muslim pun diperkenankan untuk “nebeng belajar” di perpustakaan-perpustakaan yang dibangun oleh pemerintahan Islam di sana. Dari sinilah, mereka mendapat inspirasi untuk keluar dari belenggu kegelapan.

Dari uraian di atas terbaca sangat jelas bahwa agama sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai penghambat kemajuan suatu negara. Justru, agama malah mendorong kepada pemeluknya untuk meraih kehidupan dunia dengan melakukan kajian-kajian yang dapat mendorong terwujudnya teknologi-tekonologi mutakhir dengan menguasasi ilmu pengetahuan.

Dengan demikian jelas sudah bahwa langkah para pendiri bangsa ini tidak ‘mengasingkan’ urusan agama dalam kehidupan bernegara sudah tepat. Pancasila yang nilai-nilainya diambil dari nilai-nilai atau ajaran agama harus menjadi spirit untuk menguasai ilmu pengetahuan dan memajukan serta mensejahteran bangsa Indonesia.

Facebook Comments