Benarkah Penyebar Narasi Kebencian yang Memecah Belah Itu ‘Korban’ UU ITE?

Benarkah Penyebar Narasi Kebencian yang Memecah Belah Itu ‘Korban’ UU ITE?

- in Suara Kita
240
0
Benarkah Penyebar Narasi Kebencian yang Memecah Belah Itu ‘Korban’ UU ITE?

Berjejaring dan berekspresi di ruang maya adalah hak seluruh elemen bangsa. Pada tataran ini, negara dan unsur selainnya tidak bisa mengutak-atik hak dasar tersebut. Namun, ketika ruang maya ternyata menimbulkan kegaduhan dan permasalahan sosial lainnya, maka sebagai penggerak dan pengatur kehidupan bernegara, pemerintah berhak mengeluarkan kebijakan yang mengatur agar masyarakat bijak, cerdas dan beradab dalam bermedia (sosial). Dari sinilah lahir UU ITE.

Jadi jangan salahkan UU ITE apabila pengguna media sosial (medsos) tidak dimanfaatkan sebagaimana semestinya. Dengan kata lain, pengguna media sosial yang tidak sebagaimana semestinya (menyalahkan gunakan), akan menjadi boomerang bagi penggunanya karena ia akan terjerat ke kasus hukum. Kasus Roy Suryo harus benar-benar menjadi pelajaran berarti, terutama para tokoh atau public figur di republic ini.

Jika hendak aman, maka bijak dan cerdaslah bermedia. Dalam konteks ini, masyarakat harus paham betul tentang butir-butir yang diatur dalam UU ITE. Perlu diketahui bersama bahwa, sejak berlakunya UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, setidaknya ada tiga ancaman yang dapat berpotensi menimpa penguna media sosial yang ugal-ugalan dan tidak bijak.

Pertama, ancaman pelanggaran kesusilaan (Pasal 27 Ayat 1). Terkait hal ini sudah banyak contohnya, seperti pemeran dan penyebar video syur. Kedua, penghinaan dan/atau pencemaran nama baik (Pasal 27 ayat 3). Sekali lagi, Roy Suryo adalah pembelajaran bagi kita semua agar cerdas dalam bermedia dan menghindari narasi kebencian yang memecah belah masyarakat.

Kasus meme stupa Borobudur yang diupload di media sosial pribadi mantan Menteri Pemuda dan Olahraga itu berujung panjang. Ia dijerat Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), hingga menyebabkannya sampai sakit lantaran syok dengan masalah yang sedang terjadi.

Aktivis media sosial itu termasuk salah satu contoh pengguna media sosial yang terjerat pasal ini. Musisi Ahmad Dhani, Gus Nur dan lainnya juga terjerat pasal 27 ayat 2 ini. Sejatinya pasal ini sudah banyak ‘memakan’ korban. Jika Anda sekarang masih suka nyinyir dan menghujat orang di media sosial, siap-siap menyusul Roy Suryo.

Ketiga, penyebaran kebencian berdasarkan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA), yakni pasal 28 ayat 2. Publik juga masih ingat kasus yang menimpa Jerinx. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Denpasar menjatuhkan vonis 1 tahun 2 bulan penjara kepada I Gede Ari Astina alias Jerinx dalam kasus ujaran kebencian ‘IDI Kacung WHO’ pada November lalu. Vonis hakim itu lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum yakni tiga tahun penjara. Jerinx dinilai melanggar Pasal 28 ayat (2) juncto Pasal 54A ayat (2) UU ITE juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Mereka Adalah Pembelajaran

Uraian di atas memberikan informasi yang amat berharga bagi kita, yakni adanya suatu ancaman pidana bagi pengguna media sosial, apabila media sosial tidak digunakan secara bijak. Hal ini bukanlah larangan dan pembatasan penggunaan media sosial bagi rakyat, melainkan upaya serius dari pemangku kebijakan untuk meciptakan ruang maya yang sehat.

Orang-orang yang selama ini telah terjerat media sosial harus dimaknai secara jernih. Bahwa mereka benar-benar tidak menjunjung tinggi etika bermedia dan tidak memanfaatkan media untuk mendatangkan sesuatu yang positif. Narasi kriminalisasi bukanlah istilah yang tepat.

Justru mereka yang telah terjerat UU ITE harus dijadikan sebagai sebuah pelajaran yang berarti. Jika tidak ada UU ITE dan yang terjerat, tentu pengguna media sosial akan semakin tidak terkendali. Jika tidak terkendali, maka yang akan terjadi adalah sebuah kerugian bersama; perpecahan ada di mana-mana, antar penduduk bumi Indonesia akan saling gesek-gesekan.

Tips Menjadi Netizen yang Cerdas dan Bijak

Prinsip yang harus dipegang oleh seluruh netizen di bumi Indonesia adalah, memanfaatkan medsos sebaik mungkin dan harus menjadi netizen yang cerdas dan bijak agar terhindar dari jeratan UU ITE dan UU lainnya.

Berikut beberapa tips menjadi netizen yang cerdas dan bijak. Pertama, jaga etika. UU ITE bukanlah upaya sistemik pembungkaman terhadap orang-orang yang kritis. Justru UU ITE sangat memberikan ruang terbuka bagi orang yang kritis. Namun, kritis di sini bukan sekedar lantang menyuarakan sesuatu dengan gaya ceplas-ceplos dan nyinyir. Namun menjadi netizen yang kritis namun tetap menjaga etika.

Kritik tanpa dibarengi dengan etika mengkritik, akan jatuhnya pada lubang penghinaan dan sejenisnya. Oleh karena itulah, berilmu sebelum bertindak sangat perlu. Kritik harus disertai dengan ilmu atau etika mengkritik yang baik.

Kedua, no SARA, no hoax. Regulasi di Indonesia, baik sebelum maupun sesudah adanya UU ITE, sangat melarang keras narasi yang berbau SARA. Seharusnya fakta ini dipahami secara mendalam oleh segenap bangsa yang plural ini.

Namun, di media sosial, konten berbau SARA dan hoax nyaris tak terhindarkan. Hal ini sekaligus menggambarkan betapa netizen Indonesia masih belum mampu menjadi netizen yang cerdas dan bijak. Oleh karena itu, sudah saatnya kita meninggalkan narasi yang menyinggung SARA dan menghentikan menyebar serta memproduksi hoax. Menjadi netizen yang cerdas dan bijak sesungguhnya bukan perkara sulit.

Ketiga, mamfaatkan untuk membangun jaringan. Media sosial kini sudah mengalami pergeseran manfaat. Semula, medsos hadir untuk menjembatani seseorang dengan orang lain karena terbatas waktu dan jarak. Dengan medsos, waktu dak jarak itu menjadi hilang. Semua orang bisa berjejaring kapan dan di mana saja. Asalkan punya media sosial dan terhubung internet, maka sebagian besar urusan bertukar informasi beres.

Menjadi netizen yang cerdas dan bijak tentu salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan media sosial untuk berjejaring, silaturrahmi, mengedukasi dan menginspirasi, bukan untuk mencaci-maki, menebar ujaran kebencian dan menghujat sana-sini. Mari kita bijak dan cerdas bermedia. UU ITE merupakan upaya untuk mengembalikan spirit awal hadirnya media sosial, yakni menciptakan ruang maya yang sehat dan bermanfaat. Tetapi, terhadap mereka yang tidak menggunakan medsos secara bijak dan cerdas, maka akan dijerat oleh UU ini.

Facebook Comments