Benarkah Perempuan yang Tak Berjilbab Menandakan Belum Menjalankan Agama Secara Kaffah?

Benarkah Perempuan yang Tak Berjilbab Menandakan Belum Menjalankan Agama Secara Kaffah?

- in Narasi
166
0
Benarkah Perempuan yang Tak Berjilbab Menandakan Belum Menjalankan Agama Secara Kaffah?

Belakangan ini, jilbab menjadi perbincangan hangat. Hal itu menyusul mencuatnya kasus dugaan pemaksaan menggunakan jilbab terhadap seorang siswi di Bantul, Yogyakarta. Bersamaan dengan santernya peristiwa itu, muncul berbagai pertanyaan.

Salah satunya berkaitan dengan jilbab yang dikaitkan dengan keimanan seseorang. Apakah benar jika seorang perempuan yang tak mengenakan jilbab menandakan bahwa Islam dan imannya dia lemah?

Pertanyaan tersebut tentu saja merupakan pertanyaan yang melekat di pikiran hampir semua orang setelah dugaan pemaksaan mengenakan jilbab yang terjadi di Bantul itu mengemuka. Lebih-lebih, pemaksaan tersebut dilakukan oleh guru BK.

Seolah guru BK hendak mengatakan bahwa seorang yang mengenakan jilbab itu Islam, keimanannya kuat dan saleh. Padahal, saleh tidaknya seseorang tidak melulu diukur dari apakah seorang tersebut memakai jilbab atau tidak.

Memakai jilbab bagi perempuan tentu bagus. Namun demikian, tidak lantas menganggap bahwa perempuan yang tidak memakai jilbab itu rendah sehingga harus dipaksa untuk mengenakan jilbab.

Belum Menjalankan Agama Secara Kaffah?

Harus diakui bahwa sampai saat ini, masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa perempuan Islam yang tak mengenakan jilbab dianggap belum menjalankan agama secara kaffah. Lebih dari itu, jilbab dinilai sebagai salah satu tolok ukur keimanan seseorang.

Karena itu, jilbab dijadikan simbol religi atau tidaknya dalam diri seorang perempuan muslim. Namun, dalam realitanya, anggapan tersebut tidak seideal dan se-wah yang distigmakan dan dikontruksikan sebagai seorang muslimah yang taat.

Contoh bahwa orang yang memakai kerudung atau jilbab tetapi justru melakukan hal-hal yang dilarang agama jumlahnya sangatlah banyak. Pun dengan perempuan yang tidak mengenakan jilbab. Dari uraian ini nampak jelas bahwa mengukur keimanan dan ketaatan seseorang hanya dengan jilbab atau tidak berjilbab, sungguh penilaian yang terburu-buru jika tidak ingin dikatakan sebagai penilaian parsial.

Dengan demikian, ukuran keshalehan perempuan tidak cukup jika hanya dilihat pada symbol agama yang menempel pada diri seorang perempuan muslim, ukuran parameter shaleh juga tidak mudah ditentukan, sebab masing-masing memiliki parameter shaleh sendiri.

Sebab, perempuan  berjilbab dan melakukan kecacatan moral juga bisa kita temukan dan saksikan secara kasat mata. Jadi,  jilbab yang menempel pada diri seorang perempuan muslim itu sejatinya merupakan upaya bagi seseorang untuk menutup aurat.

Diskursus Hukum Memakai Jilbab

Umar Sidiq (2012: 167-170) mengkaji ayat-ayat yang berkaitan dengan pakaian atau jilbab, dapat ditemukan beberapa fungsi pakaian dan jilbab; (1) QS. al-A’raf [7]: 26 yang menjelaskan fungsi penutup aurat dan perhiasan. (2) QS. Ahzab [33]: 59, yang berbicara tentang menugaskan kepada Nabi Saw agar menyampaikan kepada istri-istrinya, anak-anak perempuan serta wanita-wanita mukmin agar mengulurkan jilbab mereka. Tujuannya untuk menunjukkan identitas sebagai wanita merdeka.

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum memakai jilbab bagi perempuan muslimah. Dalam madzhab Maliki setidaknya ada dua pendapat. (1) wajib menutup muka dan kedua telapak tangan. (2) tidak wajib menutup, tetapi laki-laki wajibmenundukkan pandangan.

Sementara Imam Hanafi menyebutkan bahwa wajib bagi perempuan mengenakan jilbab yang menutupi kedua telapak tangan. Madzhab Syafii berpendapat bahwa seluruh tubuh tanpa terkecuali adalah aurat dan wanita wajib menutupinya termasuk dengan jilbab. Jumhur ulama fuqaha berpendapat bahwa muka dan kedua telapak tangan bukan aurat. Maka tidak wajib menutupinya.

Selain itu, secara spesifik, ada beberapa ulama yang mendefinisikan jilbab. al-Qurtubi memaknai jilbab sebagai sehelai kain yang menutupi badan yang lebih luas dari pada selendang.

Refleksi Kasus Pemaksaan Jilbab

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam memaknai jilbab. Selain itu, jilbab tidak bisa dijadikan tolok ukur keimanan dan kesalehan seseorang.

Lantas bagaimana dengan kasus pemaksaan mengenakan jilbab terhadap siswi di Bantul Yogyakarta. Berkaitan dengan ini, mari kita sejenak merenungi ayat al-Qur’an, yakni QS. Yasin ayat 17: “Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.”

Berangkat dari ayat di atas, kita dapati sebuah keterangan yang amat jelas bahwa tugas kita hanyalah menyampaikan hukum-hukum Allah dengan jelas dan santun. Jadi, seharusnya, guru BK di Bantul Yogyakarta tidak memaksa.

Guru adalah seorang pendakwah, yang kewajibannya adalah menyampaikan hukum-hukum Allah kepada anak didiknya. Jika anak didik tersebut belum sepenuhnya menjalankan kewajiban agama, tidak boleh dipaksa. Sebab, hidayah itu merupakan hak preyogatif Allah SWT.

Facebook Comments