Berakhlak di Media Sosial adalah Ciri Orang Beriman

Berakhlak di Media Sosial adalah Ciri Orang Beriman

- in Narasi
193
0
Berakhlak di Media Sosial adalah Ciri Orang Beriman

Perkembangan teknologi memberi kemudahan dalam banyak aspek. Kehidupan manusia terasa berjalan lebih cepat. Salah satu wujud teknologi itu adalah media sosial. Kehadiran media sosial begitu besar manfaatnya bagi manusia. Ia mempermudah dalam berinteraksi; silaturahmi, relasi bisnis, kritik, saling mengingatkan dan sebagainya.

Namun akhir-akhir ini ruang media sosial sangat kotor dan keruh. Terjadi banyak pelanggaran kemanusiaan. Pencemaran nama baik, fitnah, hoaks, kebencian dan permusuhan dominan mewarnai wajah media sosial. Ia tidak lagie jadi berkah, namun sebagai musibah.

Aktifitas saling hujat, caci-maki, ujaran kebencian dan hoaks yang terjadi di ruang publik digital melalui media sosial semakin hari semakin mengkhawatirkan. Dalam konteks bernegara mengkhawatirkan terjadinya perpecahan sehingga masyarakat mudah dibenturkan. Demikian pula dalam ruang keberagamaan, hal itu berpotensi menimbulkan dampak gesekan antar agama dan internal agama pun rentan terjadi permusuhan.

Karena itu, dibutuhkan kesadaran dan kedewasaan supaya wajah media sosial jernih kembali. Supaya Media sosial steril dari segala kericuhan dan kesuraman seperti hoaks, ujaran kebencian, diskriminasi, perundungan (bullying) dan kekerasan verbal.

Etika Orang Beriman dalam Bermedia Sosial

Islam sebagai agama yang sempurna mengatur segala aspek kehidupan manusia. Namun perlu diingat aturan tersebut tujuannya untuk kemaslahatan manusia sendiri. Termasuk dalam bermedia sosial, Islam telah mengaturnya supaya sehat dan bijak.

Syaikh Muhammad bin Salim Ba Bashil dalam Is’adur Rafiq menulis, di antara maksiat tangan adalah menulis sesuatu yang haram diucapkan. Lebih jauh beliau menjelaskan, bahkan dosa akibat tulisan lebih besar karena jangkauannya yang lebih luas dan tidak mudah hilang.

Dalam al Qur’an ditegaskan, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah prasangka (kecurigaan), karena sebagian prasangka adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (Al Hujurat (49): 12).

Ayat di atas merupakan tuntutan dan aturan untuk manusia dalam setiap aktifitas interaksi, termasuk interaksi dalam media sosial. Ada batas yang tidak boleh dilewati dalam setiap interaksi tersebut.

Aktifitas terlarang dalam setiap interaksi adalah saling curiga, mencari keburukan orang apalagi menyebarkannya, serta segala aktifitas yang melanggar hukum syariat seperti hoaks, ujaran kebencian, diskriminasi, perundungan (bullying), kekerasan verbal, menghina karena perbedaan, dll.

Islam mengajarkan dalam bermedia sosial harus memiliki etiket baik kepada siapa pun. Media sosial sejatinya dipergunakan sebagai media untuk bersosialisasi, meningkatkan interaksi dan mempererat silaturahmi. Bukan sebagai sumber konflik antar penganut agama dan antar anak bangsa.

Media sosial idealnya digunakan untuk menjalin hubungan secara baik, untuk menguatkan aspek sosial kita, membina persaudaraan, menghormati perbedaan, dan mempererat silaturahmi kebangsaan supaya kemerdekaan Indonesia tetap langgeng, bukan sebaliknya.

Pesan Nabi, “Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya akan tetapi iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian membicarakan keburukan kaum muslimin, dan janganlah pula mencari-cari aib mereka. Sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencari-cari kesalahannya. Dan, barang siapa yang Allah mencari-cari kesalahannya, maka Allah akan mempermalukannya meskipun ia berada di dalam rumahnya”.

Sebagai manusia beriman sudah selayaknya bermedia sosial dengan didasari oleh kesadaran dan etiket baik. Apa yang kita lakukan di media sosial merupakan gambaran identitas dan keagamaan kita.

Mereka yang suka menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, diskriminasi, bullying, kekerasan verbal dan menyulut api permusuhan menjadi gambaran nihilnya keimanan mereka. Akhlak di media sosial merupakan gambaran akhlak di dunia nyata.

Facebook Comments