Berbeda tapi Bersaudara, Itu Fitrah Indonesia

Berbeda tapi Bersaudara, Itu Fitrah Indonesia

- in Suara Kita
246
2

Umat Islam tengah bersuka cita merayakan Hari Raya Idulfitri 1440 H. Momentum yang juga sering disebut sebagai lebaran ini menjadi saat yang dinantikan setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah puasa Ramadan. Ramadan telah berlalu dan kita akan begitu merindukan bulan suci yang penuh dengan kemuliaan, kemuliaan, dan keberkahan tersebut. Namun kita juga tak bisa menutupi kebahagiaan merayakan Hari Raya Idulfitri, yang juga kerap disebut sebagai Hari Kemenangan.

Disebut Hari Kemenangan karena pada hari tersebut, seluruh umat Islam yang menjalankan ibadah puasa, atau para shimin dan shoimat dapat terlahir kembali sebagai orang-orang yang meraih kemenangan setelah sebulan penuh mengendalikan hawa nafsu dengan puasa Ramadan (Din Syamsudin: 2015). Lebaran menjadi momentum kemenangan bagi siapa pun yang berhasil menjalankan puasa Ramadan dengan penuh ketakwaan, keimanan, hanya mengharap rida Allah Swt.

Selain menjadi momentum berbahagia merayakan kemenangan, Idulftri bagi kita umat Islam di Indonesia adalah juga tentang momentum untuk saling memaafkan. Ketika lebaran, silaturrahim dan halal bi halal menjadi tradisi yang mengakar di masyarakat Indonesia. Ini menjadi momentum yang begitu bermakna bagi siapa saja, sehingga sering menggeraakkan siapa pun yang sedang merantau untuk mudik atau pulang ke kampung halaman, untuk sungkem atau memohon maaf kepada orangtua, saudara, kerabat, dan tetangga.

Baca juga : Idul Fitri, Halal bi Halal dan Rekonsiliasi Nasional

Tradisi saling bermaafan di hari Raya Idulfitri menjadi  momentum reflektif bagi siapa pun, untuk menyadari betapa diri kita begitu lekat dengan kesalahan, kekhilafan, dan dosa. Dengan saling meminta maaf dan memaafkan, kita belajar menyadari kesalahan diri sekaligus memaafkan kesalahan orang lain. Secara sosial, ini akan menjadi momentum bermakna untuk melakukan rekonsiliasi, kembali memperkuat ikatan persaudaraan dan kasih sayang kita kepada sesama.

Pancasila

Refleksi tentang ikatan persaudaraan di momentum Idulfitri, 1 Syawal 1440 H yang jatuh pada 5 Juni 2019 kali ini juga menjadi semakin kuat karena beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada tanggal 1 Juni 2019, bangsa ini juga merayakan Hari Lahir Pancasila. Sebuah momentum penting untuk kembali mempelajari, menggali, dan menumbuhkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa terkecuali terkait spirit persatuan dan persaudaraan yang menjadi salah satu inti dari Pancasila.

 Pancasila, sebagaimana kita pahami, menjadi dasar negara sekaligus filosofi hidup yang mesti dipegang erat bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pancasila, bisa dikatan sebagai weltanschauuung bagi bangsa Indonesia, atau sumber inspirasi pembentukan identitas atau jati diri bangsa Indonesia (Silvester: 2012). Nilai-nilai dalam Pancasila memuat dasar-dasar yang menjadi cerminan sekaligus karakter hidup bangsa Indonesia untuk bisa tetap berdiri teguh dan bergerak maju di tengah segala tantangan zaman.

Oleh karena itu, di tengah masyarakat yang baru saja terpolarisasi karena Pemilu 2019, dengan segala perdebatan yang tercipta karenanya, maka menjadi begitu penting bagi kita semua untuk kembali merenungi nilai-nilai persaudaraan dan persatuan, sebagainya terkandung dalam Pancasila.

Momentum puasa Ramadan, kemudian Hari Kelahiran Pancasila, kemudian Hari Raya Idulfitri adalah rentetan momentum yang sangat bermakna bagi bangsa ini untuk melakukan relfleksi diri, menghapus egoisme diri dan kelompok, kembali merajut persaudaraan, memperkuat persatuan, untuk kemudian bekerjasama demi kepentingan bangsa. Jika rentetan momentum tersebut bisa benar-benar dialami, direnungkan, dan dijalankan dengan penuh kesadaran oleh setiap individu, maka akan bisa menciptakan perubahan yang positif bagi masyarakat atau bangsa ini.

Fitrah kebangsaan 

Kemampuan melakukan refleksi diri, menundukkan nafsu, ego diri dan kelompok, kemudian saling memaafkan dengan sesama dan lebih mementingkan kepentingan bersama (bangsa), yang menjadi bagian spirit dalam ibadah puasa, semangat Pancasila, kemudian bagian dari tradisi lebaran atau Idulfitri, merupakan modal berharga yang bisa membawa bangsa ini tetap kokoh dalam persatuan dan kesatuan, dalam bingkai persaudaraan kebangsaan.

Kita tahu bahwa bangsa ini sejak awal memang beragam. Perbedaan primordial, baik terkait suku, agama, ras, dan sebagainya, pada gilirannya berkonsekensi pada perbedaan pemikiran dan pandangan. Namun, oleh para pendiri bangsa, kemajemukan tersebut bisa diikat dalam satu wadah bernama Indonesia, dengan dasar Pancasila yang bisa diterima oleh semua kelompok. Inilah fitrah atau cita-cita awal berdirinya Indonesia. Fitrah Indonesia adalah persaudaraan yang dijunjung tinggi, penghormatan atas perbedaan yang selalu dijaga, dan kemampuan bermusyawarah atau bekerja sama untuk kebaikan bangsa.

Fitrah kebangsaan atau cita-cita awal para pendiri bangsa, yang secara lengkap bisa kita cermati dari setiap butir-butir, asas, atau sila dalam Pancasila tersebut merupakan hal yang mesti selalu kita jaga, atau selalu kita upayakan bersama. Untuk bisa kembali pada fitrah kebangsaan tersebut, jelas kita perlu merajut simpul-simpul persaudaraan dan persatuan, yang belakangan ini rasanya mengendur karena menguatnya kebencian, sentimen primordial dan segala perdebatan yang ada.

Merekatkan kembali persaudaraan dan persatuan bangsa hanya bisa dilakukan jika kita sanggup melakukan rekonsiliasi; menundukkan egoisme diri, berbesar hati meminta maaf dan saling memaafkan, mengakui kesalahan diri, untuk kemudian bersama-sama kembali bergandengan tangan, bersatu, bermusyawarah, dan bekerjasama mewujudkan Indonesia yang aman, damai, adil, makmur, dan sejahtera.

Facebook Comments