Berhijrah Menuju Keberislaman yang Transformatif

Berhijrah Menuju Keberislaman yang Transformatif

- in Suara Kita
774
0
Berhijrah Menuju Keberislaman yang Transformatif

Agama Islam diturunkan oleh Allah ke muka bumi sebagai pedoman manusia mewujudkan kebahagiaan dan kedamaian. Maka dari itu, agama Islam sarat dengan ajaran yang menjunjung tinggi kemanusiaan universal, demokrasi dan hak asasi manusia. Ironisnya, dalam perkembangannya agama acapkali tidak bisa mempertahankan eksistensi kemulian nilai yang dikandungnya.

Hal itu dapat kita lihat dari maraknya fenomena politisasi agama sebagai hasil “perselingkuhan” antara agama dan politik, juga pada fenomena merebaknya konflik antar pemeluk agama. Konsekuensi dari kondisi itu ialah agama kerap tampil sebagai kekuatan yang hegemonik dan menindas. Sebagian pemeluk agama kerap mendaku diri sebagai yang paling benar, tanpa sadar bahwa klaim itu semata hasil tafsir yang tentu memiliki nilai kebenaran relatif.

Paradigma keberagamaan yang demikian itu lahir dari pemahaman keagamaan yang dangkal. Mereka mengira agama memiliki ekspresi tunggal dan mutlak. Mereka tidak tahu, atau barangkali tidak mau tahu bahwa ekspresi keberagamaan itu bersifat plural alias heterogen. Inilah benih-benih fanatisme yang kerap menjadi embrio bagi lahirnya fundamentalisme atau bahkan radikalisme keagamaan.

Gejala keagamaan yang seperti itu juga tampak dalam corak keberislaman masyarakat Indonesia. Indikasinya dapat dilihat dari mudahnya umat muslim terpecah belah dan saling berkonflik hanya karena isu-isu kecil yang tidak subtansial. Belakangan, ketika agama diseret terlalu jauh masuk ke ranah politik praktis, kondisinya menjadi kian parah. Agama lantas kehilangan etos transformatifnya sebagai katalisator perubahan sosial.

Baca Juga : Hijrah dari Radikalisasi dan Komodifikasi Agama

Ketika agama kehilangan etos transformatifnya, maka ia tidak ubahnya seperti seperangkat doktrin yang mati. Padahal, agama terutama Islam memiliki segudang ajaran dan nilai yang potensial dijadikan sebagai penggerak perubahan sosial. Tinggal bagaimana para pemeluknya memaksimalkan potensi tersebut.

Momentum Tahun Baru Islam

Momentum tahun baru Hijriah ini kiranya bisa memberikan energi baru bagi umat muslim Indonesia. Sebuah energi untuk mengembalikan Islam ke fitrahnya sebagai agama transformatif, agama yang dinamis, peka pada konteks sosial politik di zaman dimana ia berkembang. Islam memang menjadi lebih samarak akhir-akhir ini dengan tampilnya simbol-simbol Islam di ruang publik. Acara keislaman mulai dari pengajian, seminar dan festival digelar nyaris saban hari di berbagai kota. Industri berbasis gaya hidup Islam pun tumbuh subur dan menunjukkan prospek yang menjanjikan. Namun, semua itu tidak mewakili etos Islam yang transformatif.

Moeslim Abdurrahman mendefinisikan Islam transformatif sebagai komitmen keislaman yang lebih menitikberatkan pada pencapaian kesalahen sosial ketimbang kesalehan individual. Ini tidak berarti bahwa relasi teologis vertikal manusia dengan Tuhan itu menjadi tidak penting. Namun, keberislaman yang paripurna adalah paduan antara wujud kepasrahan hakiki pada Tuhan dan komitmen teguh pada pemberdayaan sosial terhadap sesama.

Gagasan Moeslim yang populer di era 1980-1990 an ini agaknya tepat untuk menjadi semacam otokritik terhadap praktik keberislaman yang mengemuka di kalangan muslim Indonesia belakangan ini. Fenomena islamisasi dalam bentuk gerakan hijrah, pertaubatan massal dan sejenisnya yang marak akhir-akhir ini harus diakui cenderung berorientasi pada kesalehan pribadi.

Islam dipahami semata sebagai seperangkat ritual dan simbol tanpa berupaya menyingkap makna filosofis-teologis di baliknya. Konsekuensinya, Islam menjadi tampak formal, kaku dan gagal menyentuh realitas sosial yang sesungguhnya. Nyaris semua muslim sibuk mengejar status sebagai muslim kaffah, namun di saat yang sama cenderung abai pada isu dan problem sosial di sekelilingnya.

Corak keberislaman yang demikian itu jelas harus diubah. Mengacu pada pemikiran Ali Asghar Engineer, seorang muslim bukanlah seorang yang sekadar mengucap syahadat dan menunaikan sholat. Seorang muslim, menurut Engineer dituntut memiliki kepedulian sosial, berkomitmen memperjuangkan keadilan bagi sesama dan inisiator bagi terwujudnya transformasi sosial. Seorang muslim ialah agent of change dalam struktur masyarakatnya.

Pada titik inilah penting bagi umat muslim Indonesia untuk mengembangkan corak keberislaman yang transformatif. Islam idealnya tidak melulu dipahami sebagai seperangkat ritual dan simbol yang beku dan tidak memiliki fungsi transformasional. Islam harus ditempatkan sebagai modal sosial (social capital). Seperti dijelaskan oleh sosiologi Pierre Bourdieu, modal sosial merupakan elemen penting bagi terjadinya perubahan masyarakat menuju kondisi yang lebih baik.

Untuk itulah, kita perlu menggali ajaran-ajaran Islam yang bisa jadikan modal sosial untuk menggulirkan perubahan di tengah masyarakat. Kita perlu mencontoh perilaku Nabi Muhammah. Ia berhijrah bukan untuk dirinya sendiri, keluarga atau kelompoknya. Sebaliknya, ia berhijrah untuk memperjuangkan kepentingan banyak orang. Selain itu, Nabi berhijrah bukan semata demi meningkatkan kesalehan individualnya saja, namun Nabi Muhammad juga berkomitmen penuh pada kesalehan sosial.

Wallahu a’lam bisshawab.

Facebook Comments