Berhijrahlah dari Perilaku Buruk yang Merusak Persaudaraan

Berhijrahlah dari Perilaku Buruk yang Merusak Persaudaraan

- in Suara Kita
409
1
Berhijrahlah dari Perilaku Buruk yang Merusak Persaudaraan

Hijrah sekarang menjadi trend masyarakat Muslim. Banyak slogan ayo hirjrah, ayo hijrah, hijrah itu indah. Populernya kata hijrah bagi kaum milenial dan kalangan artis terkadang banyak dijadikan sensasi belaka. Biasanya hijrahnya ditandai dengan penampilan, dari yang tidak tertutup menjadi tertutup. Ditambah para kaum muhajirin ala milenial terkadang membuat komunitas hijrah yang mengkaji ilmu agama. Tentu hijrah itu baik, dengan catatan jangan sampai menjustifikasikan diri sebagai mahluk yang paling benar.

Hijrah dikenal sejak Nabi Muhammad SAW bersama sahabatnya Abu Bakar meninggalkan Mekkah menuju Yasrib (Madinah). Nabi Muhammad melakukan ini karena dirinya mau dibunuh, maka secara diam-diam Nabi Muhammad meninggalkan Mekkah. Di Madinah lah Nabi Muhammad banyak menerapkan hukum agama dan hukum tata kelola negara. Termasuk hasilnya hijrah Nabi Muhammad yaitu ‘Piagam Madinah’. Adapun hasil yang lain yaitu pengantian nama ‘Yasrib’ menjadi ‘Madinah’, Nabi Muhammad juga berhasil mendamaikan antara Bani Aus dan Bani Kharaj, dan terpilihlah Nabi Muhammad sebagai pemimpin di Madinah.

Berhijrahlah secara benar jangan hanya mencari sensasi, apalagi lalu mengdiskriminasi orang lain yang dianggap tidak islami. Maknailah hijrah sebagai migrasi atau perpindahan menuju peningkatan derajat ketakwaan kepada Allah SWT. Berhijralah dari adu domba, ujaran kebenjian, fitnah, hoax dan isu pengorengan SARA. Maknailah hijrah dengan benar serta niatkan hijrah ini semata karena Allah, bukan karena siapa-siapa dan bukan untuk siapa-siapa kecuali Allah.

Banyak kaum Muhajirin Milenial (Muahajirin ala sekarang) saat ini menjadi target pengkaderan terorisme dan ormas Islam garis keras. Menginggat kaum Muhajirin generasi milenial terkadang salah memilih guru dalam hijrahnya, terkadang mereka hanya berguru pada media sosial (medsos) dan google. Dampak dari salah guru terkadang membawa kesesatan hijrah, misalnya salah menafsirkan ayat jihad yang membawa dirinya menjadi pelaku terorisme.

Baca Juga : Islam Mangkunegaran dan “Hilangnya” Kauman

Hijrahlah dari adu domba, sebab adu domba akan merusak ukhuwah (persaudaraan). Dari kasus bendera di asrama mahasiswa Papua di Surabaya yang menimbulkan kata rasisme. Rasisme yang bergulir saat ini menjadi kemunculan isu-isu referendum Papua merdeka. Hal ini tentu dimanfaatkan orang-orang yang tidak suka dengan persaudaraan dan keutuhan NKRI. Padahal merawat persaudaraan ini begitu sulit. Para kaum Muhajirin milenial hendaknya mencontohkan Islam yang ramah dan merangkul semua.

Baru-baru ini ada sebuah acara judulnya Parade Ukhuwah disitu juga dihadiri tokoh pengiat hijrah milenial yaitu Felix Siauw. Parade Ukhuwah 1 September 2019 malah penuh hujatan dan fitnah.  Ada salah satu orator yang memfitnah dan hujatan melalui kata kiasan kepada Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Dari kasus bendera memang Banser selalu dibentur-benturkan dengan Papua. Banser selalu jadi target fitnah dan hujatan karena insiden pembakaran bendera tauhid kala itu.

Video orator yang menhujat Banser beredar di medsos dan viral. Adapun kata-katanya begini;

“Laki-laki yang membawa Bendera Tauhid, kibarkan setingginya. Jangan kayak kemarin. Kalau ada pengajian dibubarkan, termasuk pengajian Kokoh Felix, begitu ada Papua tenggelam, itu namanya banci serem, apa?,” kata orator di panggung acara Parade Ukhuwah tersebut.

“Banci serem,” sahut para peserta.

“Ayo diulang,” kata orator lagi.

“Banci serem,” sahut peserta lagi.

“Kalau disingkat?,” kata Si Orator berikutnya.

“Banser,” teriak para peserta.

“Itu yang bilang ini lho Pak Polisi, bukan saya yang bilang,” elak Si Orator.

Kaum Muhajirin Milenial jangan sampai terbawa oleh pengajian yang dibungkus dengan ujaran kebencian seperti Parade Ukhuwah di Solo. Seolah-olah Parade Persaudaran tetapi isinya malah merusak persaudaraan. Parade Ukhuwah ini mengungkit-ungkit Banser membubarkan pengajian Felix. Padahal maksudnya Banser khawatir kalau Felix menyebarkan ideologi HTI. Menggingat saat itu Banser mendesak Felix untuk berikrar setia Pancasila dan NKRI tapi menolaknya.

Banser jangan sampai terbawa oleh hujatan dan fitnah ini. Semoga Banser bisa menjadi kaum Ansor di Madinah yang menerima Nabi Muhammad dan para sahabatnya dengan baik. Para Banser tunjukkanlah perangai Islam yang ramah bagi kesatuan NKRI. Sebab keutuhan NKRI butuh Ormas Islam yang merawat ukhuwah. Adu domba yang selalu digoreng di Indonesia tentu ada dalang yang senang Indonesia ini runtuh. Maka, rakyat Indonesia harus sadar dan hijrah dari adu domba.

Perlu diwaspadai bagi negara beragam suku, agama, golongan dan ras dari isu SARA. Sebab isu SARA sangat sensitif ketika disengol kerawanannya. Terutama di zaman medsos sangat mudah isu SARA yang dibungkus dengan ujaran kebencian, fitnah, adu domba dan hoax. Semua perilaku ini adalah prilaku buruk yang memecah ukhuwah. Para kaum Muhajirin Milenial hijrahlah dari perbuatan buruk yang merusak ukhuwah, hidarilah pengajian dan majelis lainnya yang berisi adu domba dan prilaku tercela lainnya. Waspadaiah dalam memilih komunitas, organisasi dan guru dalam trend hijrah saat ini.

Facebook Comments